"Meisya.." Febby memasuki kamar putrinya dan memeriksa keadaan gadis itu. Ia merasa khawatir karena keadaan Meisya bisa terbilang tidak baik-baik saja. "Meisya.." Febby langsung menghampiri Meisya yang masih menangis dan bersimpuh di lantai. "Astaga, Meisya. Kamu kenapa?" "Ma.. Kenapa Devan malah nikah, Ma!" Febby langsung mengusap air mata putrinya itu. "Kamu ini kenapa nangis, Meisya?" "Ma? Mama bilang waktu itu kalo Omanya Devan mau jodohin aku sama Devan, kan? Ma. Aku cinta sama Devan, Ma! Aku nggak mau Devan sama cewek lain.." "Meisya." "Mama kenapa enggak nyegah pernikahannya sih, Ma? Mama kan bisa ngomong sama Om Bayu dan Tante Flora. Aku sama Devan udah deket banget, Mama." "Meisya. Udah, oke! Kamu tahu kan Devan itu selama ini cuma nganggap kalian sepupu. Lagi pula kalo

