Perly menyaksikannya. Menyaksikan bagaimana senyum haru mereka semua saat bersitatap dengan para orangtua masing-masing. Menyaksikan bagaimana rasa rindu itu mendorong untuk segera berlari dan memeluk erat hingga terperanjat tak terpisah. Mereka semua senang, tentu, semuanya tau itu. Tapi mungkin hanya Perly yang tau bahwa mereka tak sepenuhnya senang. Mereka semua masih bersedih, sedih dengan kenyataan bahwa mereka tak bisa memeluk, tak bisa berbagi cerita lebih lama, tak bisa melihat lebih lama, dan takut, jika pada akhirnya mereka menyerah dan selamanya tak dapat bertatap muka. Namun tak ayal, Perly tetap memberi senyum, "Sesuai dengan janjiku dulu. Aku akan mengabulkan keinginan terbesar kalian," ucapnya menarik sepenuhnya atensi mereka padanya. "Bukankah ini yang sebenarnya kalian i

