Prolog

784 Kata
"Ma! Perly pergi dulu ya!" Dia, gadis yang bernama lengkap Perlynska Nurea itu berlari dari atas tangga sambil berteriak pada sang ibu yang tengah menyajikan sarapan di meja makan. Tampak masih segar, meski apron hijau pastel yang dia pakai sudah terlihat sedikit kotor, dan juga rambutnya yabg di ikat tak lagi se-rapi awal. Wanita yang berstatus sebagai ibu dari gadis itu tetap terlihat cantik. Selesai menata piring yang terakhir, si mama akhirnya menoleh pada sang anak saat mendengar derap langkah tergesa dari sana,  "Kamu nggak sarapan dulu,. Sayang?" tanyanya, cukup heran saat melihat sang anak. Biasanya putri tunggalnya itu tidak pernah terburu-buru. Mengambil kotak bekal yang telah di siapkan mama lalu tangannya tergerak untuk mengambil sepotong sandwich kemudian menggigit bagian pinggir roti isi itu untuk di kunyah cepat, baru setelahnya meneguk s**u hangat yang sudah pasti untuk dirinya. Menyempatkan diri menjawab sambil menyimpan kotak bekal di dalam tasnya, "Nggak sempet, Ma. Perly sarapan di kantin aja. Daa Mama." Di sempatkan untuk mencium pipi mamanya lalu berlari ke arah pintu, menuju mobilnya. Sebelum itu, "Ma!" Teriaknya menyumbulkan kepala di sebalik pintu membuat mama yang tadinya ingin berjalan menuju kamarnya, terhenti dan menoleh pada putrinya yang menampilkan cengiran konyol di sana. Perly melambai, hanya untuk memperlihatkan sebuah kartu di tangannya pada mama yang perlahan mulai sadar akan tingkah anaknya itu. Teriaknya lagi, "Perly pinjem kartu Mama dulu, ya! Perly udah izin Papa, kok. Makasih Mama Sayang!" Lalu berlari tanpa ingin mendengar tanggapan mama. Sedangkan mama, melotot dan melongo, kapan putri nakalnya itu masuk ke kamarnya dan mengambil kartu kredit itu? Namun bukan sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan itu, sekarang yang penting ada karti miliknya. Anak gadis itu benar-benar! "Heh! Kembaliin kartu Mama! Kamu udah punya kartu kamu sendiri kenapa masih ambil punya Mama! Perly!" Teriakan yang sia-sia. Perly tak mungkin mengorbankan diri untuk berbalik dan menghadap mama. Menghela nafas panjang, harus bersabar memang, tapi lihat saja saat anak itu pulang nanti. Seakan teringat akan ucapan Perly barusan, mama buru-buru mengeluarkan ponsel, menekan kontak dengan title 'Husband' di sana dan menempelkannya pada telinga, tak lupa tampang berangnya dengan nafas yang tak beraturan. Tepat pada bunyi sambungan ke empat, akhirnya sambungan itu terganti dengan suara sang suami yang menyapa. Namun belum sempat merampungkan kata, lengkingan mama sudah lebih dulu masuk di pendengaran papa, "Papa!" "Duuhh... bisa gawat nih kalau telat. Bisa di banting gue sama kata-katanya Buk Mena," gumam Perly sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. Jika di tanya, apa dia ini tipe murid teladan? Jawabannya tidak. Dia juga bukan termasuk pada murid yang sangat-sangat teladan hingga menakuti semua guru yang akan mengomel padanya. Menurutnya omelan mama lebih panjang dan lebih pedas, jadi, dia sudah terbiasa. Namun untuk guru yang satu ini, level panjang dan pedasnya hampir menyamai mama. Rentetan kalimat yang tak penting, kadang ikut terbawa membuat Perly harus betah berlama-lama mendengarkannya. Itulah yang dia tak ingin, sangat melelahkan. Maka sebisa mungkin, dia menghindari amukan dari guru yang satu itu. Untung saja pemandangan laut di samping bisa mengalihkan sejenak rasa paniknya. CIITT!! Perly menginjak rem dengan kuat, saat tiba-tiba seekor kucing melintas di depan mobilnya. "Huft ... untung nggak nabrak," gumamnya mengelus dadanya lega. Ternyata memandangi laut lama-lama juga tidak baik. Baru saja Perly ingin kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di dasar pantai. Seperti seorang gadis. Sebenarnya, ini bukanlah jalan utama yang menuju ke sekolahnya. Namun, Perly lebih suka memilih melewati jalan ini karna pemandangan lautnya yang sangat indah. Perly sangat menyukai laut. Perly masih terus memperhatikan objek yang dia lihat. Entah ini nyata atau hanya sekedar ilusinya saja, gadis itu seakan-akan juga menatapnya. Menatap penuh harap padanya, seperti meminta belas kasihan dan pertolongan darinya. Namun, semuanya semakin tidak nyata, kala kaki gadis itu ... bukan. Lebih tepatnya, ekornya. Gadis itu mengibaskan ekornya. Ekor yang sangat indah, seperti ekor dari ikan hias yang dia pelihara. Tapi ... tidak mungkin. Ini dunia nyata, bukan dongeng di mana dia yang jadi pemeran utama. Tidak, ini pasti karena dia saking paniknya sehingga berhalusinasi. Tapi .... "I-itu apa?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri. Semuanya kian jelas. Dia bahkan bisa melihat adanya sisik di sekujur tubuh gadis itu, benar-benar persis seperti ikan hias di akuarium di dalam kamarnya. Pikiran dan kenyataan berperang di dalam hatinya. Dirinya yakin itu adalah makhluk yang ada dalam pikirannya, namun jika di pandang pada sudut lain, kenyataan menghentak keras untuk berteriak "Itu tidak mungkin!" atau "Itu konyol!" Iya, konyol tentu saja. Mana mungkin ada makhluk seperti itu di dunia nyata. Sangat tidak mungkin cerita yang sering mamanya dongengkan ketika kecil saat dia ingin tertidur, terjadi pada kehidupan nyata. Itu mustahil. Tapi ... ini nyata. Gadis itu nyata. Ekor itu nyata. Sisik itu nyata. Dan tatapan itu juga nyata. Sangat nyata. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN