“Ya ampunnnnnnnnn, baby G, muka kamu kenapa?” “Gak papa Mi.” “Gak papa gimana? Bibirnya luka gitu.” “Biasa anak cowok.” “Mpok Muneh yang jual gado-gado di depan kompleks juga punya anak cowok, tapi bibirnya gak luka.” Gino memutar bola matanya malas mendengar ucapan ibunya. Inggrit yang melihat ekspresi putranya itu terkekeh geli, putranya itu selera humornya terlalu tinggi, tidak bisa menerima candaan kacangannya. “Mami tumben udah pulang?” Tanya Gino. Ia membuang asal tasnya di atas sofa kemudian duduk di samping Inggrit yang tadi sebelum ia memasuki rumah terlihat sibuk dengan iPad di tangannya. Mengingat apa tujuannya pulang lebih cepat, Inggrit menepuk pelan dahinya. Untung saja Gino bertanya, jika tidak mungkin ia akan lupa dan membiarkan putranya itu berlalu ke kamar hanya untu

