Luka yang Warda rasakan begitu pedih, sampai dalam tidurnya dia bermimpi buruk dan menangis. Devan yang baru saja memejamkan matanya langsung mempererat pelukannya. "Warda maafkan aku, aku mohon dengarkan penjelasanku. " Warda seketika terbangun, dia kaget jika ada suaminya disampingnya. Dan... Dengan percaya dirinya Devan tengah memeluknya padahal dia sangat marah terhadap suaminya. Sontak Warda mendiring tubuh Devan tetapi tidak bisa sebab tubuh dan kekuatan Devan lebih besar darinya. "Pergi kau, ngapain kamu di sini?" pekik Warda. "Warda maafkan aku, karena beberapa hari ini sering berbohong padamu. Itu karena... Karena... " "Karena kamu pergi dengan Cherry? Dan siapa anak yang memanggilmu papa? " tanya Warda diam tak bergerak. "Dari mana kamu bisa tahu? " "Itu tidak penti

