Bab 7—Mengambil Langkah

1300 Kata
**** Seharian sudah Revalisha tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Lamaran yang disampaikan Bu Ratih benar-benar membuatnya kacau balau, beberapa pelanggan komplain karena bunga yang mereka inginkan salah dan itu membuat Reva nyaris ingin menangis. Belum lagi Ghani Mahendra justru datang ke Florish milik ibunya, ia bahkan menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Reva. Hal inilah yang membuat teman-teman Reva menggodanya habis-habisan. Selain Beno, semua orang terus saja menggoda dan melontarkan kata-kata yang membuat Reva nyaris ingin berteriak karena kesal. Bisa tidak sih mereka diam?! Menyebalkan. Matahari perlahan beranjak menuju barat, sore telah tiba dimana Reva kembali diingatkan akan ajakan Ghani tadi siang. Ajakan apa itu? Ya, Ghani akan menjemput dan mengantarnya pulang. Lagi-lagi teman satu kerjaan Reva dibuat heboh oleh berita ini. Seperti layaknya selebritis, Reva mendadak dapat sorotan dari beberapa temannya yang mengenalnya sebagai sosok pendiam. Hanya karena dekat dengan Ghani, kini Reva harus puas digoda mati-matian. Napas gadis itu tercekat, rupanya Ghani datang jauh lebih awal dari rencana. Ketika toko belim tutup, Ghani bahkan sudah membawa mobil dan datang menjemputnya. Hal ini membuatnya lagi-lagi merasa sungkan, ia merasa tidak enak dengan rekan kerja dan juga Bu Ratih—bosnya sendiri. "Bagaimana? Sudah siap untuk pulang? Oh ya, sesampainya di rumahmu, buatkan aku kopi lagi ya," tutur pria bertubuh tinggi tersebut di depan Reva ketika sang gadis masih tengah membereskan barang-barang menjelang tutup. Wati, rekan kerja Reva hanya senyum-senyum ketika mendengar anak sang bos terus saja mengajak Reva berbincang padahal gadis pendiam yang ia ajak bicara tengah sibuk bekerja. "Oh ya Reva, kita makan dulu gimana? Sepertinya Ibu hari ini tidak masak, aku jadi kelaparan." Ghani kembali berbicara, dia bahkan tidak merasa sungkan kepada rekan kerja Reva yang terus saja bekerja di sampingnya. Reva menarik napas, mengenyahkan perasaan kesal sekaligus sungkan yang kini bersarang di otaknya. Bisa tidak sih pria ini minggir sejenak dari hadapannya atau minimal mau menunggu toko tutup dulu baru mengajak berbincang? Duh, selalu repot kalau berurusan dengan anak bos, Mah! "Iya, Tuan. Nanti saya buatkan kopi tapi saya harus menutup toko dulu," jawab Revalisha ketika ia usai mempacking beberapa peralatan kerja hingga menjadi satu wadah dan kembali rapi. Bu Ratih mendadak keluar dari ruangan, ia terheran ketika melihat putra semata wayangnya mendadak hadir di toko bunganya. Sembari melirik ke arah Reva yang masih sibuk bekerja, Bu Ratih menyembunyikan senyumnya dan pura-pura memarahi Ghani, putranya. "Loh, Ghan, kenapa tumben di sini? Mau jemput Ibu ya?" Ghani menatap ibunya, ia tak menjawab dan justru mengusap tengkuknya perlahan. "Ibu pulang sendiri aja, aku mau jemput Reva." Bu Ratih bersedekap, ia pura-pura manyun di depan Ghani. "Tumben sekali kamu abai sama Ibu. Hem, mentang-mentang mulai cocok sama Reva ya?" Ghani tak menjawab, ia memilih untuk menatap Reva yang sedari tadi tak kunjung rampung dalam bebenah. Ah, apa gadis ini sengaja lemot supaya ia malu di depan ibunya ya? Heran deh! Bu Ratih menggeleng, merasakan bahwa Ghani mulai bosan menunggu Reva lama-lama. "Reva, udah kamu pulang duluan aja hari ini. Biar nanti Ibu yang gantikan tugas kamu tutup toko, lagipula pangeran katak ini sudah terlihat tidak sabar dalam menunggumu." "Apaan sih Bu? Ganteng gini masak disamain dengan katak?" protes Ghani mencuramkan alis, ia berkata setengah berbisik. Bu Ratih kembali menggeleng, tak keberatan dengan protesan Ghani yang baru saja dilontarkannya. "Tapi Bu, tugas saya belum selesai." Reva kembali terlihat sungkan, ia tidak enak kalau harus bosnya sendiri yang menutup toko. "Tidak apa, pulang saja. Biar Ghani yang antar kamu pulang ya," ucap Bu Ratih dengan suara mulai melembut. Reva mengangguk, terpaksa ia pulang duluan ketika teman-teman satu kerjanya masih sibuk membereskan barang-barang. Mengekor di belakang Ghani, kini jantung Reva mendadak berloncatan. Dalam diam, Reva mengikuti Ghani masuk ke dalam mobil. Kecemasannya bukan sekadar bagaimana ia telah meninggalkan pekerjaan sebelum selesai tepat waktu tapi mengenai bagaimana jika pria ini memberondongnya dengan beberapa pertanyaan seputar lamaran kemarin?! Ghani tak banyak bicara, ia melakukan perannya sebagai pengemudi mobil. Sesekali pria itu bersenandung riang bersamaan dengan playlist lagu yang berada di dalam mobilnya. "Rev, kita makan dulu ya. Kamu mau makan apa? Kambing guling? Bebek betutu? Sate bakar atau—" "Pulang saja Tuan, di rumah saya sudah masak opor ayam." Reva menjawab dengan pelan, ia tidak terbiasa pulang dan akhirnya mampir makan di warung makan. Ibunya pasti akan menangis kalau ia pulang dan tidak makan masakannya. "Oh, opor ayam ya? Wah kebetulan sekali. Baiklah, kita pulang sekarang." Ghani lalu menambah kecepatan laju mobilnya kali ini. Sebenarnya niat Ghani mengajak makan Reva di luar adalah ingin menanyakan mengenai lamaran kemarin tapi sepertinya gadis pilihan ibunya adalah gadis paket hemat dan tahu cara memasak yang benar makanya ia pun mengiyakan saja ketika sang gadis justru meminta pulang dan makan di rumah saja. Toh, opor ayam juga enak-enak aja di lidah. Bukan begitu? Perjalanan sore itu terasa makin syahdu ketika hawa mendung melingkupi area kawasan Jakarta, awan hitam yang menggelayut seakan betah menghias langit dan enggan untuk turun ke bumi. Mungkin ia ingin menjadi salah satu warna di langit meskipun warnanya kusam dan bukanlah favorit. Reva tersadar saat mobil yang ia tumpangi perlahan mendekati rumahnya. Gadis itu menarik napas, ia bersiap untuk keluar dari mobil dan mempersilakan Ghani untuk masuk ke dalam rumahnya. Seperti perasaan sebelum-sebelumnya, Ghani merasa betah jika tinggal di lingkungan rumah Reva. Entah apa yang merasukinya, ia pun perlahan menyukai bunga koleksi yang ditanam Revalisha di depan rumah. Menolak untuk masuk, Ghani memilih untuk duduk sebentar di teras rumah dan mulai memperhatikan setiap sudut rumah. Ghani sadar, jantungnya berdegup kencang setiap kali ia melihat rumah dan segala isi pekarangan rumah ini. Mungkinkah si pemilik jantung merindukan rumahnya? Entahlah. "Tuan, kopi pesanan Anda." Revalisha datang dari dalam rumah seraya membawa secangkir kopi yang sudah Ghani pesan sedari tempat kerja tadi. Ghani mengangguk, ia duduk di teras rumah ditemani Reva kali ini. Lama mereka terdiam hingga akhirnya Ghani memberanikan diri menyeruput kopi lalu mulai mengatakan niatnya. "Reva, mengenai lamaran kemarin, apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?" Revalisha terdiam, diberanikannya untuk menatap mata elang anak sang majikan. Melihat pria itu, perlahan Reva merindukan sosok ibunya yang tiada. Seusai peristiwa di resto kemarin, jujur saja Reva merindukan suara detak jantung ibunya lagi. Ia ingin mendengarnya setiap waktu, setiap hari. "Tuan apa Anda yakin dengan keputusan Anda? Sepertinya waktu yang singkat ini kurang bisa membuat Anda untuk mengenali saya," ucap Reva dengan wajah ragu. Gadis itu tertunduk, meremas jari-jarinya dengan resah. "Aku bisa mengenalimu setelah kita sama-sama dapat berjalan satu sama lain. Itulah gunanya pernikahan, aku tidak yakin dengan perasaanku tapi aku berani untuk menyampaikan niat tulusku. Kalau kamu adalah jodohku, aku akan belajar mencintaimu seiring dengan perjalanan pernikahan kita nanti. Tak usah ragu, karena aku yakin, kamu baik untukku." Dan detik itu Revalisha terbungkam oleh jawaban Ghani. Ia merasa bahwa dialah pilihan Tuhan untuk berjodoh dengan Ghani, putra Bu Ratih—bos yang selama ini baik sekali padanya. Revalisha memikirkan perasaannya secara hati-hati, ia berdebar akan lamaran tersebut. Ia pun tahu bahwa perasaannya perlahan berkembang ketika ia meyakini satu hal yang akan ia dapat seusai menjalani pernikahan nanti. Ya, mendengarkan detak jantung ibunya setiap waktu. Berdekatan dengan Ghani, berdekatan dengan jantung ibunya yang masih hidup. "Jika Tuan sudah memikirkannya masak-masak dan tanpa tekanan apapun saya bersedia untuk menikah dengan Anda," jawab Revalisha pelan. Gadis itu tertunduk, menegang, dan tak berani untuk menatap mata elang Ghani Mahendra. "Saya mau menikah dengan Anda bukan karena harta atau sebagainya, Saya mau menikah karena ada jantung ibu saya dalam diri Anda. Tuan, merawat Anda sama halnya merawat jantung ibu saya. Seumur hidup, saya ingin mengabdi, pada Anda, pada Ibu saya." Kini gantian Ghani yang menegang, jantungnya berdebar keras setelah mendapatkan persetujuan dari Revalisha. Ia tidak yakin apakah debaran ini adalah wujud cinta atau bukan, yang pastinya ia merasa bahagia lebih dari rata-rata. "Kalau begitu, apakah aku sudah boleh membahas hari dan tanggal pernikahan kita, Reva? Aku rasa, semakin cepat semakin baik. Bukankah begitu?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN