Eps 2. Pilihan

1411 Kata
Pagi menyapa. “Eeggh ….” Lala melengkuh pelan. Tangannya bergerak, menyentuh salah satu d**a yang terasa sakit. Sedikit terkejut saat menyentuh tangan orang lain di sana. Cepat ia membuka mata, menatap sebuah tangan yang melingkar di tubuh. Lalu tangan itu menggenggam salah satu dadanya yang sudah tak bisa di katakan baik. ada banyak tanda merah keunguan di mana-mana. Gadis cantik berusia 19 tahun lebih dua bulan ini memejamkan mata dalam. Tangannya meremas pinggiran selimut yang masih membungkus tubuh. Sekarang, di bagian bawah sana terasa sakit setelah sesuatu dibobol dengan paksa. Tak akan mungkin lupa, tak akan mungkin bisa lari. Percintaan yang diciptakan Levine adalah yang pertama baginya. Bulir bening menetes di bantal. Ingatan tentang semalam berkelebatan di depan mata. bibir manis Levine yang bermain di dadaanya, membuatnya menahan desahan, menahan untuk nggak menangis. Lalu berakhir berteriak kesakitan karena Levine sengaja menggigit puncuk penting di kedua benda itu. Nggak hanya begitu, dengan paksa Levine menyentuh di bawah sana. Mempermainkan barang itu sampai dia lemas tak berdaya karena berkali-kali harus mencapai puncak. Dia kira setelah melihat dirinya yang lemas, Levine akan berhenti, tapi nyatanya tidak. Pria tampan yang mewarisi wajah papanya itu justru memulai permainan inti, membuatnya menjerit merasakan hal yang belum pernah ia alami. Sayang, seorang Levine yang begitu membencinya tak merasa kasihan melihat tangis permohonan untuk di lepaskan. Kalian tau, sesuatu yang dipaksa, itu lebih menyakitkan. Mengingat sesuatu, Lala menghapus bulir yang masih menetes di kedua mata. Sedikit menoleh, menatap kakak tirinya yang masih terlelap di belakang punggung. Pelan-pelan Lala menyingkirkan tangan yang memeluknya itu. Dia beranjak, menatap ke arah meja yang tak jauh dari ranjang. Di sana, sebuah ponsel berwarna hitam milik Levine tergeletak begitu saja. Bukankah kunci utama ada di dalam ponsel itu? Kembali Lala menatap Levine yang masih anteng, lalu membuka menyibakkan selimut dengan perlahan. Kedua kaki mulai menapak di lantai. Dia meringis, menggigit bibir untuk menahan rasa sakit di sekalangkangannya. Melangkah dengan begitu hati-hati untuk mengambil barang ajaib kurang ajar itu. Benar-benar tak ia pedulikan tubuh bugill yang ada banyak stempel bibir Levine di mana-mana. Mungkin untuk beberapa hari dia tak akan keluar dari kamar. Cupangan di lehernya yang tak hanya dua, akan membuatnya kesulitan. Kedua mata mendekik penuh kekecewaan ketika tau ponsel itu mati; kehabisan baterai. Lala menoleh, menatap lelaki yang begitu pulas tertidur itu dengan penuh kebencian. Jika sekarang nggak bisa musnahin vidio itu, berarti pilihannya hanya satu. Hancurin ponselnya, lalu ambil kartu memory di dalamnya. “Heh, mau apa lo!” Suara Levine membuat langkah kaki Lala terhenti. Gadis itu sudah bersiap keluar kamar dengan membawa ponsel Levine. “Mana hape gue,” pinta Levine, saat melihat Lala menggenggam ponselnya. Kedua mata yang masih terasa lengket itu berusaha untuk melihat tubuh bugil adiknya yang ada di depan sana. Dia langsung melompat, mengejar Lala yang sudah membuka pintu dan berlari menghindarinya. Tak takut, tak melihat kiri kanan, Lala berlari keluar dari kamar Levine menuju ke kamarnya. Braak! “Aaww!” jerit Lala saat ternyata Levine tetap mengejarnya. Menutup pintu kamar Lala dan langsung memutar kuncinya. “Kak,” rengek Lala. Dia terkejut karna Levine merampas hape yang masih ada di genggamannya. “Pliis … hapus vidionya ….” Pintanya memohon. Levine mencibir, sama sekali nggak peduliin rengekan itu. “Lo tau kalo nyokap lo berhubungan sama papa gue udah lama. Bahkan sejak mama gue masih ada, kenapa lo nggak coba hentikan mereka? Nikmat banget kan, bisa rasain duit bokap gue?” kedua mata Levine menatap Lala sengit. Levine menjitak kening Lala dengan jarinya. “Kalo lo punya hati, harusnya lo tau perasaan mama gue. Perasaan gue, anak jalang!” Lala menangis, hanya menunduk dan memilih mundur untuk menghindar. “Maafin aku, kak ….” “Basi! Maaf lo nggak bisa balikin nyawa mama gue!” “Aaggh, kak!” pekiknya tertahan dengan tangan yang mencekal lengan Levine. Sedangkan Levine makin brutal meremas salah satu yang menonjol, terlihat menantang di matanya. “Gue mau lagi.” Lala menggeleng dengan wajah penolakan. “Jangan, kak … aku nggak mau … aaghh ….” Berusaha menolak, tapi sangat sulit. Dia kembali menjerit saat tubuhnya jatuh di dorong oleh Levine. “Aaggh! Kak, hentikan! Stoop! Aaggh!” mau menjerit seperti apa, tak akan ada yang bisa mendengar. Setiap kamar di rumah ini, kedap suara. “Mama! Tol—eeghh ….” Bibirnya dibungkam oleh bibir Levine. “Kak ….” Bibirnya yang memerah itu bergetar karna tangis. Ia menahan perih di kedua dadaa yang tak hentinya di mainkan oleh kakak tirinya. Bukan hanya itu saja, bahkan tubuhnya masih terasa sangat lemas dan remuk. “Aku mohon … udah, kak … aaggh!” teriaknya lagi saat Levine terlalu kencang menyesap miliknya. “Kak, sakit ….” “Lo harus tau kalo jalangg itu emang tak pantas diperlakukan dengan baik!” Pukul lima pagi, hal itu kembali terjadi diiringi dengan jerit tangis Lala yang meminta untuk disudahi. ** Levine menaruh tas ransel di sofa depan teve, lalu melangkah menuju ke meja makan. Menarik kursi yang selalu menjadi tempat duduknya dan mendaratkan bokongnya di sana. Sama sekali nggak peduli dengan Vera yang wira-wiri keluar masuk dapur untuk menyiapkan beberapa menu di meja makan. Dia langsung mengambil beberapa helai roti dan mengolesinya dengan selai kacang kesukaannya. “Vin, liat Lala?” tanya Vera sembari meletakkan tumis kacang di atas meja. Menatap lantai atas sana, berharap melihat anak kesayangannya, tapi pintu kamar itu terlihat masih tertutup rapat. “Tumben jam segini Lala belum turun,” gumamnya sendiri. Sedangkan Levine hanya menyunggingkan senyum tipis. Sama sekali tak peduli dengan mereka berdua. “Papa dengar … judul untuk skripsimu … di tolak?” tanya Bayu cukup hati-hati. dia paham jika kondisi hati anaknya ini sangat sulit di mengerti. Tak ada respon, Levine tak menoleh atau melirik Bayu sedikit pun. Cowok ganteng itu fokus dengan roti yang ada di tangan. Bayu menghela nafas, membalikkan piring dan mulai mengambil centong nasi. “Ambil judul skripsi itu harus benar-benar di pikirkan baik-baik. Selain itu ….” “Judul skripsiku itu -Menikahi selingkuhan setelah istriku meninggal-,” ucapnya, memotong kalimat yang akan Bayu lontarkan. “Makanya kena tolak. Soalnya … nyakitin.” “LEVINE!!” teriak Bayu dengan kedua mata yang tajam ke arah Levine. Levine menyunggingkan senyum, beranjak dari duduk dengan kekehan kecil. “Ckk, kesinggung ternyata.” Lirihnya, lalu melangkah pergi meninggalkan meja makan. Bayu menghela nafas panjang, menatap tajam punggung putranya yang mengambil tas dan melangkah keluar rumah tanpa mempedulikan amarahnya. ** Cowok ganteng bernama Levine ini menghentikan mobil di depan gang kecil. Diam, menunggu seseorang keluar dari gang sempit itu. Kedua sudut bibir manisnya tertarik ke atas saat melihat gadis cantik bermata bulat keluar dari gang. Levine membuka pintu samping kemudi dari dalam, makin tersenyum lebar menyambut gadisnya masuk ke dalam mobil. Namun, senyum itu luntur saat tau jika ada sisa air mata di kedua mata gadis cantik yang beberapa tahun telah mengisi hatinya. Tangannya terulur, mengusap embun yang berada di kelopak mata. “Bi, kamu kenapa?” tanyanya khawatir. Gadis bernama Sabina Klinarum ini mengusap kedua mata, menatap wajah Levine dengan penuh harapan. “Bapak makin parah, Vin,” curhatnya. Levine menghela nafas. Dia tau, bapak Sabina memiliki banyak penyakit di tubuh tuanya.membantu pengobatan pak Basir, itu bisa. Karna papanya pasti akan memberi berapa pun Levine meminta. Hanya saja, dia memilih nggak menerima uang dari pada harus memperlakukan Vera dan Lala dengan baik. “Aku ada sedikit uang. Kita bawa bapak berobat,” tawarnya. Sabi menggeleng, menunduk menyembunyikan mata yang kembali berkaca. “Aku udah bawa bapak berobat dua hari lalu. Obatnya juga masih ada. Tapi ….” Kata-kata Sabi terputus karena isakannya lebih mendominasi. Levine menggenggam erat tangan kekasihnya, memberikan kekuatan melalui tangan itu. “Semoga bapak baik-baik aja. keadaannya akan membaik.” “Bapak nyuruh aku nikah.” Kalimat pendek yang Sabi ucapkan membuat kedua alis Levine menyatu dengan kedua mata yang menatap tajam, mencari keseriusan dari wajah gadis itu. “Bapak jodohin kamu?” Sabi menggeleng, tak beralih tatap, tetap menatap wajah tampan Levine. “Bapak nyuruh kita nikah, mumpung bapak masih bisa menjadi saksi dan wali buat aku. Kamu mau kan, nikahin aku dalam waktu dekat ini?” Tangan yang menggenggam erat itu sedikit melemah. “Bi, kita masih kuliah.kita masih dipusingkan oleh skripsi yang belum kelar.” “Cuma ijab di KUA aja, Vin. Bapak nggak minta pesta atau acara apa pun. Aku juga nggak minta ada acara apa pun.” Sabi gantian mengeratkan genggaman tangan. “Asal yang nikahi aku itu kamu, aku udah bahagia, Vin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN