Acara makan malam kelas Visual Art sangat ramai, banyak mahasiswa yang sepertinya sudah saling mengenal dan mungkin sudah tidak bertemu cukup lama terlihat saling menyapa dan menikmati acara makan malam ini.
“Aeneas, Ririe.. Sini.. Aku sudah menyediakan tempat untuk kalian.. “ panggil Lita ketika kami berdua baru memasuki restaurant. Lita terlihat manis dengan gaun pinknya yang panjang sampai diatas lutut. Aku dan Aeneas langsung menghampirinya, Aeneas duduk di samping Lita dan aku duduk di hadapan mereka. Aku melihat sekeliling, ramai sekali mungkin sekitar 30 orang yang hadir di acara yang semi formal ini.
Seorang lelaki baru memasuki ruangan, dia bertubuh tinggi, dengan hidung mancung tinggi khas bangsawan, mata hijaunya nampak ramah, sungguh serasi dengan rambut coklat yang dimilikinya. Beberapa wanita cantik menyapanya..hmm..mungkin dia termasuk lelaki yang mudah bergaul seperti Aeneas, pikirku karena hampir semua mata memperhatikannya. “Hi Daniel..akhirnya kau mau datang juga.. “ sapa salah satu kakak kelas yang duduk tidak jauh dari mejaku, dan akhirnya menjadi tempat pemberhentian lelaki itu.
“Kau tahu, kelas ini akan mengadakan perjalanan ke kota tua Argos beberapa pekan yang akan datang, aku sudah tidak sabar untuk pergi bersama kalian.. “ ucap Lita, memecah perhatianku dari lelaki bernama Daniel tadi.
“Oiya, sepertinya aku belum mendapatkan kabar itu Lita.. “ balasku.
“Kabarnya baru akan diinformasikan besok Rie, aku mendapatkannya dari assistant professor tadi siang. “ Ucap Lita.
“Wow.. Pasti akan seru, berapa lama kita akan di sana Lita? “ tanya Aeneas
“ 3 hari 2 malam.. Dan penginapannya pun akan berada di pedesaan.. Aku benar-benar tidak sabar…“ Lalu Lita dan Aeneas sibuk merencanakan apa saja yang akan mereka bawa dan apa saja yang akan dilakukan ketika di sana. Aku hanya mendengarkan dan sesekali tertawa ketika mendengar rencana-rencana lucu mereka berdua. Tak sengaja aku bertatapan dengan lelaki bernama Daniel itu, dia menatapku dan tersenyum namun aku langsung mengacuhkannya dan kembali bersenda gurau dengan Aeneas dan Lita. Well, aku memang tidak pandai bergaul, jadi lebih baik tak perlu berbasa-basi membalas senyumannya kan, pikirku.
“Hi.. Boleh aku duduk? “ aku, Lita dan Aeneas melihat ke arah datangnya suara, Daniel sudah berdiri di dekat meja kami. “tentu silahkan.. “ucap Lita ceria. Aku membelalakan mata ungkapan tidak setuju ke arah Lita, yang hanya dibalas senyum senang darinya. Daniel duduk tepat di sebelahku, aku langsung bergeser menjauh untuk menjaga. Bukan karena apa, jelas Ricko sudah memperingatkanku tentang kalung keluarga Willem ini. Jadi aku harus berhati-hati untuk tidak membuat kontak fisik dengan lelaki manapun dan tidak melukai siapapun.
“Jadi kalian di tahun kedua? “ tanya Daniel
“yup.. Aku Aeneas Cassey, ini Lalita Vern dan yang di sebelahmu adalah Rienetta Banes..“ jelas Aeneas
“Aku Daniel Barthlow, senang berkenalan dengan kalian.. “
“Tentu saja kami mengenalmu.. Kau adalah kakak kelas yang cukup popular di kampus ini.. “ucap Lita
“Benarkah?... Aku baru tahu itu Lita, terima kasih atas sanjunganmu.. “ucap Daniel tertawa.
“Jadi kau baru ikut kelas Visual Art tahun ini, Dan? “ tanya Aeneas
“Yup.. Beberapa waktu lalu aku sibuk dengan persiapan untuk pertukaran pelajar, jadi ada beberapa kelas yang aku tidak ikuti.. “jawab Daniel
“Apakah menyenangkan ikut program pertukaran pelajar? “ tanya Lita
“Menyenangkan.. Aku jadi mengenal banyak orang dengan berbagai budaya..“ jawab Daniel, Lalu dia menoleh ke arahku “Kau tidak ada pertanyaan untukku? “ tanyanya padaku.
Aku menggeleng “aku tak berminat untuk bertanya..“ jawabku sambil tersenyum tipis, aku tidak nyaman jika harus berkumpul dengan orang yang baru saja kukenal. Handphoneku berbunyi, Ricko menelpon. Dia pasti ingin mengecek kondisiku. “Maaf aku rasa aku harus mengangkat telpon ini, permisi.. “ ucapku, Daniel tak bergeming, namun malah menatapku dengan senyumnya yang standar wanita pada umumnya pasti menilainya sebagai senyuman tertampan. Tapi memang benar dia tampan, tapi di saat ini aku tidak dalam kondisi untuk bermain mata dengan laki-laki.
“Aku baru saja datang dan kau sudah ingin pergi? “ tanyanya.
“Mmm.. Aku tidak melihat adanya hubungan antara kedatanganmu dengan kepergianku..jadi bisakah kau bergeser, sehingga aku bisa keluar sebelum panggilanku mati...“ ucapku tegas. Lagi-lagi Daniel tersenyum sambil menatapku, lalu beberapa detik berikutnya dia akhirnya mau mengalah dan bergeser agar aku dapat keluar menerima panggilan telepon Ricko. Aku benar-benar harus menjaga jarak dengannya, memastikan bahwa dalam kondisi apapun tidak akan memungkinkan untuk bersentuhan dengannya.
“Halo..” aku menjawab telepon di luar restoran untuk menghindari kebisingan di dalam.
“Hi…kau baik-baik saja?” tanya Ricko
“Ya..aku baik-baik saja..” baru kali ini Ricko menelponku, biasanya dia hanya akan mengirimkan message untuk memastikan aku tahu dia akan menemaniku.
“Bagaimana acaranya?”
Apakah dia basa-basi? Sangat tidak seperti Ricko biasanya! “Begitu saja..tak ada yang menarik..cukup banyak orang yang datang. Sepertinya banyak juga yang sudah tidak bertemu lama, acara ini semacam reunian. Lita dan Aeneas pun terlihat menikmati acaranya…mm..kelas kami akan mengadakan perjalanan ke kota tua Argos beberapa pekan yang akan datang.” aku mulai meracau karena bingung harus berbicara apa.
“Hmm…untuk kegiatan apa?
“Mempelajari struktur bangunan gedung-gedung di kota tua itu kurasa..” aku dan Ricko di jurusan yang sama arsitektur hanya saja Ricko berada satu tahun diatasnya. Mungkinkah dia kenal dengan Daniel tadi.
“Ya..aku ingat pelajaran itu..sepertinya akan memakan waktu lama seingatku…”
“Benar, Lita bilang mungkin kami akan pergi selama 3 hari 2 malam…” Ricko tak menjawab. Apakah aku salah bicara?!
“Rick…” panggilku memastikan dia masih mendengarkan.
“Ya..aku di sini..kita pikirkan bagaimana caranya agar aku masih dapat didekatmu selama kegiatan itu…aku harus kembali, Dinand dan Ben mencariku..sampai ketemu nanti..”
Telepon pun ditutup, dan aku kembali lagi ke dalam restoran, sedikit menghempaskan nafas karena Daniel masih duduk di sana. Kapan dia akan pergi?! Ayolah Rie, jangan menilai orang di hari pertama bertemu. Be Nice, Be Kind…!
===
"Jadi kenapa kau terus menghindarinya semalam?" tanya Aeneas pada keesokan harinya dalam perjalanan kami menuju kampus. Aku mengernyitkan dahi berusaha memahami arah pembicaraannya.
"Daniel Barthlow.." lanjut Aeneas
"Aku? "
"Ya kau…kau benar-benar menjaga jarak dengannya. Ketika dia meletakkan tangannya di belakang sofa duduk kalian, kau langsung bergerak maju ke depan ke arah meja dan kau terlihat tidak nyaman duduk dengan posisi seperti itu. Lalu ketika kau sempat kehilangan keseimbangan ketika berdiri dan dia bersiap menangkapmu, kau langsung bergerak menjauh dan malah memilih jatuh terjerembab dibandingkan menggapai tangannya yang ingin menolongmu. Aku bisa melihat wajahnya terlihat bingung ketika kau melakukan itu dan kurasa itu membuatnya semakin penasaran denganmu." Seandainya Daniel tahu alasan sebenarnya, kurasa penasarannya akan berubah menjadi bersyukur dan ikut menjauhkan diri dariku. "Kau tahukan..aku tidak mudah bergaul.."
"Tapi kau bisa melakukannya dengan Ricko, belum sampai dua bulan kau mengenalnya, tapi kau sudah bisa dekat dengannya."
"Ricko berbeda…"
"Wow..apakah saat ini aku sedang mendengarkan nona Banes akan mengakui perasaan tertariknya dengan tuan Willem?"
"Hentikan Aeneas..aku kan sudah bilang..hubunganku dengan Ricko bukan seperti itu.."
“Kau pun menghindari semua kontak fisik yang biasa kita lakukan, kemarin dan pagi tadi ketika aku ingin memelukmu..apa kau mulai tertarik padaku?”
“What? Aeneas please..eiyuuh…” ucapku sambil membelalakan mata ke arahnya.
“Ok..aku tahu kau tak mungkin memiliki perasaan seperti itu padaku..” ucapnya santai
“Bukan berarti ada masalah denganmu, tapi kau sahabatku, kita tumbuh besar bersama dan kau tahu betapa aku menyayangimu…”
“Tentu sister…aku sudah seperti kakak laki-lakimu..kalau bukan yang pertama aku sebutkan, maka yang kedua adalah Ricko melarangmu mendekati lelaki manapun termasuk aku…Kau tahukan teman sekampus sudah menduga kalau kalian sepasang kekasih. Dimana kau ada dia pasti ada.."
"Selama Ricko tak berkomentar tentang gosip itu, maka aku pun tak akan melayani gosip itu"
"Ayolah Rie..kau tahu aku sudah mengenalmu cukup lama..bahkan ketika kau dengan Edmond..sikapmu tidak seperti ketika kau bersama Ricko…” ucapnya.
Ya..sama seperti halnya Aeneas yang baru putus dengan Angela. Salah satu keputusanku untuk pindah ke Vierra pun karena laki-laki. Bedanya adalah aku menjalin pertunangan karena dijodohkan oleh laki-laki yang menjadi target Bibi Sophie untuk meningkatkan taraf hidup kami dan mempertahankan castle Banes. Sementara Aeneas menjadikan Angela kekasihnya karena cinta. Namun hubungan kami sama-sama harus diakhir tepat sekitar 6 bulan lalu karena keluarga Edmond Cassidy, mantan tunanganku, mengetahui kebangkrutan keluarga Banes dan merasa kami tidak dalam level social yang sama. Padahal aku sudah mulai menyukai Edmond, karena kelembutan dan keramahan laki-laki itu, begitu juga dengan Edmond. Tapi kami sama-sama tahu bahwa keluarga adalah yang terpenting.
"Seperti biasa penjagamu sudah sampai lebih dulu…" ucap Aeneas ketika melihat sosok Ricko yang sudah berdiri bersandar di mobil miliknya. Aku tersenyum melihatnya, semalam Ricko tidak bisa datang karena urusannya belum selesai, tapi dia sudah memasang dinding kasat mata sebagai pelindungku dan memintaku untuk tidak melepaskan kalung yang diberikan ketika tidur nanti. Itu saja sudah bisa membuatku tertidur nyenyak. Aku langsung bergerak cepat membereskan barangku agar ketika mobil Aeneas berhenti, aku bisa langsung turun.
"Really?!" sindir Aeneas sambil menatapku dengan picingan matanya.
Aku menatapnya "Hentikan Aeneas..!" ketusku karena tahu apa maksudnya.
"Kau seperti tidak melihatnya lama saja, ini baru sehari!" lanjutnya.
Aku mengacuhkan sindirannya dan segera turun ketika Ricko membukakan pintu untukku.
"Hi.." sapaku
"Hi Rie…Aeneas.."
"Hi Rick, sampai ketemu di kelas Rie" ucap Aeneas dan langsung pergi meninggalkan kami.
"Urusanmu dengan teman-temanmu lancar?" tanyaku sambil memperhatikan wajah tampannya.
Ricko tersenyum dan mengangguk "ya..bisa dibilang begitu.."
Raut wajahku berubah ketika melihat telapak tangannya diperban "ini kenapa? kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir
Ricko mengangkat telapak tangannya yang terluka dan membolak-balikannya "Ya..tentu..aku baik-baik saja, hanya sempat terluka ketika melawan beberapa iblis semalam.."
"Jadi yang kau bilang ada urusan kemarin itu adalah melawan iblis..dimana? Berapa banyak? Apakah kau terluka di bagian lain? Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?"
Ricko menatapku tersenyum "Ini bukan pertama kalinya Rie, aku sudah melawan iblis sejak aku berumur 18 tahun. Ini sudah tahun ketiga, jadi kau tidak perlu khawatir. Dan atas pertanyaanmu yang pertama adalah di salah satu kota tua, lalu yang kedua ada sekitar 5 iblis yang harus kami hadapi karena mereka sudah mulai mengganggu penduduk di kota itu. Kemudian yang ketiga iya..Ada beberapa memar di tubuhku karena tubuhku sempat terlempar dan menghantam pohon dan tembok bebatuan. Lalu yang terakhir…"
Aku diam menunggu Ricko melanjutkan ceritanya.
"Mm..aku akan menyimpannya nanti, saat ini belum..ayo aku antar kau ke kelas.." lanjutnya sambil menarikku pergi ke arah gedung utama kampus. Aku sungguh masih mengkhawatirkannya, membayangkan Ricko selalu melalui hal seperti ini selama 3 tahun terakhir benar-benar membuat dirinya tidak tenang. Bagaimana bisa lelaki muda sepertinya menanggung beban yang sedemikian berat, dia tidak hanya menjagaku tetapi menjaga satu Vierra town.
"Apakah kau sudah cukup puas?" tanya Ricko ketika kami sampai di depan kelas. Aku diam karena tak mengerti dengan pertanyaan. "Kau memandangku sepanjang jalan kita dari parkiran sampai depan kelasmu ini…apa ada yang salah dengan wajahku? Apa kau sangat menikmati memandangi wajahku? Apa aku setampan itu?"
"Kurasa kau memang baik-baik saja..bye Rick" sahutku mulai kesal dengan sikapnya dan melangkah masuk ke dalam kelas sebelum akhirnya Ricko menarik tanganku untuk mendekat. Hampir saja tubuh kami bersentuhan seandainya aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku. Well..aku akan jujur mengakui bahwa dia memang mempesona pikirku.
"Kau terlalu sibuk memandangiku tadi sehingga kau belum memberikanku informasi kegiatanmu hari ini.." ucap Ricko.
Ah iya..aku terlalu sibuk memikirkan beban yang harus dia hadapi "mm..tidak ada yang spesial..aku hanya ada 2 kelas hari ini, karena Aeneas akan ada janji makan siang dengan teman-temannya di luar kampus maka aku akan makan sendiri di kantin, tapi kantin cukup ramai jadi seharusnya tak masalah..ah iya..aku ada interview hari ini.."
"Interview? Kau akan bekerja?"
"Mm..begini..kau tahu kan keluargaku tinggal Bibi Sophie, dan kami pindah ke sini karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk tinggal di Middlerea yang merupakan kota besar. Jadi aku rasa, aku harus mulai bekerja untuk membiayai kuliahku di semester depan. Lalu ketika aku, Aeneas dan Lita hangout di salah satu cafe yang ada di kampus, aku melihat lowongan kerja di sana dan aku melamar. Pagi tadi mereka mengirimkan message untuk jadwalku interview dengan pemiliknya siang ini."
"Ok, kau akan makan siang denganku dan aku akan mengantarmu ke cafe itu setelahnya..bye sampai ketemu di kantin.." Ricko melangkah pergi. Makan siang dengannya? Hanya aku dan dia? Atau mungkin nanti Ferdinand dan Benjamin akan bergabung bersama kami? Ini pertama kalinya dia mau menemaniku makan siang. Biasanya dia akan menyuruhku makan siang sendiri jika tidak ada Aeneas ataupun Lita, lalu akan mengantarku pulang setelahnya.
===
Siangnya, Rienetta berjalan ke kantin kampus. Kantin cukup ramai seperti biasa, perutnya sedang tidak nyaman maka dia hanya membeli roti dan air mineral. Lalu segera mencari meja kosong dan duduk menyantap makanannya. Tak lama kemudian Ricko datang dan langsung duduk di sebelahnya, diikuti oleh Dinand duduk di hadapannya dan satu lagi lelaki berambut merah dan berkulit putih pucat duduk di samping Dinand, yang kalau aku tidak salah ingat adalah Benjamin Hunt. Dinand sepertinya merasakan pandanganku yang menatap bingung ke laki-laki itu “oooh.. Perkenalkan ini Benjamin Hunt dia akhirnya telah kembali ke kota ini. Dia adalah Rienetta Banes..” jelas Dinand, Benjamin melihatku dari atas kebawah seolah sedang menilai. Jadi ini yang namanya Benjamin Hunt, baru kali ini aku bisa berkenalan dengan sahabat Ricko yang satu ini. Namun aku tidak suka caranya memandang sambil menilaiku seperti itu, ditambah lagi aku sudah pernah mendengar Lita bercerita tentang sahabat Ricko yang satu ini, dia sering sekali bergonta ganti wanita. Dia memang cukup tampan, harta pasti bukan masalah untuknya melihat pakaian bermerek yang dia kenakan hari ini, pantas banyak wanita yang tertarik dengannya.
Dia atau aku tak ada yang bergeming mendengar Dinand yang memperkenalkan kami.
“Hanya ini makananmu? “ tanya Ricko kepadaku.
“Perutku sedang tidak nyaman.. “ jawabku
“Kau baik-baik saja? Kau ingin kuantar ke klinik? “ aku bisa melihat kekhawatiran di wajahnya. Tidak, jangan terkecoh Rienetta Banes, itu pasti karena rasa tanggungjawabnya terhadap kesepakatan kami. Aku menggeleng “tidak, terima kasih Rick. Aku baik-baik saja..“
Benjamin tersenyum menyeringai, aku menoleh ke arahnya. Entah kenapa aku merasa seolah-olah dia menertawaiku.
“Jadi dia yang selalu kau jaga Rick? Kurasa dia sama sekali tidak sebanding dengan Shakila.." ucapnya. Wajah Ricko mengeras dan menghujam tatapan tajam ke arah Benjamin. Sementara aku masih mencoba menerka maksudnya. Apa aku tidak salah dengar?! Dia membandingkan aku dengan wanita yang disebut Shakila, apa dia pikir aku barang?!
Dinand seperti biasa selalu dapat membaca situasi “Ayolah Ben.. Kau tahu Ricko tak suka kalau kau menyebut nama itu..“
“ooh.. Dinand selama satu bulan kepergianku kau harusnya dapat menjaga Ricko dengan baik agar tak salah langkah seperti ini… “
Aku mulai memahami maksud Benjamin, “Apa maksudmu dengan salah langkah? “ tanyaku penuh selidik. Ricko menatap ke arahku dan seperti bisa memahami karakterku dia hanya tersenyum. “Kau tersenyum?! Kau lihat dia bersikap seperti itu kepadaku Rick?“ tanya Benjamin yang sepertinya kesal dengan sikap ketusku. Ricko diam tak menjawab.
“Kenapa kau berbicara dengan Ricko? Aku yang bertanya padamu, kau tak berani menjawab pertanyaanku? “tanyaku kepadanya.
“Apa kau pikir aku mengacuhmu karena aku tidak berani? Apa yang kau lakukan kepada temanku sampai dia bisa tergila-gila denganmu? Hingga selalu bersiap diri menjagamu kapanpun? Kau menjebaknya? “
“Apa kau pikir aku serendah itu sampai harus menjebaknya? Kau mungkin pernah merasa trauma dengan para wanita yang berusaha menjebakmu, tapi bukan berarti semua wanita seperti itu. Dan kalau kau menganggap Ricko adalah sahabatmu, bagaimana bisa kau berpikir dia sebodoh itu sampai bisa dijebak? “
“Jadi maksudnya kau ingin mengataiku bodoh dan sering terjebak oleh wanita? “
“Kurang lebih seperti itu, mengingat reputasi don juan yang kau miliki” sahutku kalem
Benjamin mulai
geram, Dinand mulai bergerak tak nyaman berusaha menghentikan pertengkaranku dengan Benjamin. Ricko seperti biasa bersikap tenang dan terkendali.
“Ben… “ Ricko berbicara dengan nada memperingatkan, ketika melihat Benjamin ingin membalasku. Benjamin menatap kesal kearah Ricko “kau tak mungkin merusak persahabatan kita dan memilih wanita ini kan” ucapnya.
“Aku tak menyukainya Rick... “ sahutku mulai tak bisa mengendalikan emosiku. Aku tak peduli jika Benjamin bisa mendengar penilaianku terhadapnya, emosiku saat ini tidak terkendali. Ricko tertawa “Ayolah Rie..kau hanya belum mengenalnya, Benjamin bukan orang yang seperti dugaanmu. “ Ricko mencoba menenangkanku.
“Aku tak berminat untuk mengenalnya lebih dalam.." sahutku.
“Kau dengarkan Rick.. Apakah kau yakin dia wanita normal.." ucap Benjamin.
Aku sudah siap berdiri meninggalkan meja ini, namun Ricko meraih pergelangan tanganku “Rie.. Aku berjanji akan meminta dia menutup mulutnya.. Duduklah dan habiskan makananmu..“ aku mengikuti permintaannya dan kembali duduk, benar… aku yang duduk di sini lebih dulu jadi dialah yang seharusnya pergi.
Lalu Ricko melihat ke arah Benjamin “Dan kau..Seharusnya cukup bersyukur aku tak membalasmu karena menyebut namanya..Jadi berhentilah dan makan makananmu dengan tenang..“ ucap Ricko tegas. Benjamin terlihat kesal, namun entah kenapa dia menuruti kata-kata Ricko dan tak berbicara lagi.
Shakila, nama tadi sempat tertangkap olehku. Apakah dia wanita yang pernah disebut oleh Lita sebagai mantan kekasih Ricko yang sudah putus 2 tahun lalu. Apakah Ricko masih memikirkannya? Apakah seperti Aeneas yang belum bisa melupakan Angela, begitupun dia belum bisa melupakan Shakila? Stop berpikir macam-macam Rienetta Banes!
Setelah sesi makan siang yang tidak nyaman itu, Ricko menemaniku ke Greco Cafe untuk sesi interview dengan pemiliknya, Paul Graziano. Caffe itu terletak tak jauh dari kampus, konon katanya Caffe ini adalah yang tertua di Vierra town dan banyak dikunjungi oleh para cendekiawan serta seniman. Ketika kami memasuki Caffe, seorang lelaki yang kuduga bernama Paul langsung menghampiri kami "Hi Richard…long time no see.." sapanya, Ricko tersenyum "Hi Paul.." jadi mereka saling kenal pikirku. Paul Graziano, lelaki yang memiliki senyum ramah dan terlihat bijak.
Usianya di awal 50an tebakku melihat perawakannya yang masih tegap.
"Bagaimana kabar nyonya Rosa dan tuan Albert?"
"Nenek dan kakek dalam keadaan sehat Paul, datanglah berkunjung.."
"Ya, sudah lama aku tak berkunjung ke sana..kau tahu betapa dekatnya aku dengan almarhum ayahmu dulu"
"Ya tentu..kami selalu akan menyambutmu"
"Dan siapakah wanita cantik ini?" Paul memandang ke arahku.
Aku tersenyum "Hi..aku Rienetta Banes, dan aku datang untuk sesi interview sebagai karyawan paruh waktu di sini"
"Aa…teman Richard? Atau kekasih?" ucapnya sambil tersenyum menggoda. Aku menanti Ricko menjawab, namun dia hanya tersenyum. Apa maksudnya? Apa dia ikutan menggodaku seperti yang dilakukan Paul?
"Mm..kami kuliah di kampus yang sama.." ucapku, Paul tersenyum penuh arti mendengar jawabanku. Kenapa itu yang keluar dari mulutku? Aku ragu untuk bilang teman, karena kami memang bukan teman seandainya tidak ada para iblis yang mengejarku! Namun jelas bukan kekasih juga?!..Arrgh..kendalikan dirimu Rienetta Banes, dari pagi emosimu sepertinya sedang tidak terkendali!
===
"Jadi kau sudah akan mulai bekerja besok?" tanya Ricko ketika sudah memarkirkan mobil di dekat rumahku seperti biasa. Aku mengangguk "Kuharap Paul tidak menerimaku hanya karena aku datang denganmu kan?"
Ricko tersenyum "Paul bukan orang seperti itu..jika kau diterima, artinya memang kau memenuhi kualifikasinya"
"Mmm..jadi dia teman ayahmu?" tanyaku memberanikan diri bertanya tentang keluarganya.
"Yup..lebih tepatnya sahabat ayahku semasa hidupnya.."
"Apakah ayahmu pemburu kegelapan juga?"
"Iya…semasa hidupnya..sampai akhirnya dia tutup usia sekitar dua tahun lalu"
"Karena sakit? Karena kecelakaan? Atau karena…mm..bertarung dengan iblis?"
"Karena yang terakhir" jawab Ricko singkat.
Sejenak aku tercekat, melihat Ricko terluka karena melawan iblis saja hatiku tak tenang lalu bagaimana Ricko menghadapinya.
"Lalu nyonya Rosa dan tuan Albert itu adalah nenek dan kakekmu..?"
"Ya..kau ingin berkenalan dengan mereka?"
"Hah…mm..entahlah, tapi kira-kira bagaimana reaksi mereka jika tahu aku memanfaatkan cucunya untuk menjagaku dari serangan para iblis?"
Ricko tertawa "Lalu menurutmu, kira-kira bagaimana reaksi mereka terhadap semua penduduk Vierra town yang pernah diserang iblis dan harus kami lindungi?"
Benar juga pikirku. Ricko adalah salah satu penjaga kegelapan di Vierra town.
"Lalu ibumu?" lanjutku, rasa ingin tahuku tentang seorang sosok Richard Willem membuncah. Selama ini aku tidak tahu mengenai keluarganya.
"Meninggal setelah melahirkan aku..mm..apakah kita saat ini sedang menjalani sesi wawancara tentang keluargaku?" tanyanya. Aku merenggut kesal, seharusnya dia bersyukur aku tak melanjutkan bertanya tentang Shakila! Ricko tertawa melihat perubahan raut wajahku.
Argh…dia begitu tampan bagiku. Seandainya kami bertemu dalam kondisi normal, mungkin…stop Rienetta Banes! Pikiranmu mulai meracau lagi!
"Bye.." ucapku sambil membereskan barang-barangku dan turun dari mobil.
"Sampai ketemu nanti malam.." jawabnya. Aku terhenti setelah menutup pintu mobilnya dan menatapnya dari balik jendela mobil, Ricko menurunkan kaca mobilnya. Seperti biasa dia akan menungguku masuk ke rumah di balik kemudi mobil "mm..aku sungguh tak ingin merepotkan dan mengganggu istirahatmu. Apakah kau tidak bisa melakukan hal seperti yang kau lakukan kemarin? Memasang dinding pelindung kasat mata dan aku janji akan terus menggunakan kalung ini."
"Dinding pelindung itu hanya bisa bertahan sebentar, dan..membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan aku duduk anteng di sofa yang ada di sudut kamarmu"
"Lalu sampai kapan kau akan melakukan ini? Kurasa kau juga perlu menggunakan waktumu untuk dirimu sendiri.."
Ricko menatapku tajam "Jika itu yang kau khawatirkan…aku sudah menggunakannya dengan tepat..masuklah…sampai jumpa nanti malam" ucapnya dengan raut wajah serius.
Sudah tepat? Pasti maksudnya dibandingkan dia tidur pun tidak tenang karena panggilanku, sebaiknya sekalian saja berjaga di kamarku. Baiklah.
"Hmmm…bye Rick"
"Bye Rie…" Aku pergi meninggalkan Ricko yang masih mengawasiku berjalan sampai masuk ke dalam rumah.