“Malam ini sepertinya aku akan kalap,” gumam pemuda itu. Menyaksikan d-da Lyssa yang tegak menjulang. “Oh? Awas jika merengek berhenti di tengah-tengah,” kata Lyssa. “Ha? Aku?” Rainier sejenak mengalihkan pandangannya dari d-da Lyssa, melihat wajah cantik si empunya. “Jika sampai malam ini kamu gak jadi nidurin aku, aku pulang. Jalan kaki ke rumah.” Lyssa mengancam. Rainier membelai-belai d-da Lyssa. “Tidak jadi adalah suatu kemustahilan. Lihat,” pemuda itu memperlihatkan celananya yang mengembang sesak. “Hmph! Okay.” Lyssa memalingkan wajah. Menutupi rasa malunya dengan mengembungkan pipi. Tertawa, Rainier mengecup bibir Lyssa, baru kemudian mulutnya terjun bebas membuka lebar memakan d-da k-nyal sang kekasih. Kenyotan demi kenyotan, gadis itu berdesis-desis, memperhatikan pipi Ra

