Selesai makan siang, anak-anak Thrivent Private High School kembali ke kelas masing-masing. Sellin dan dua temannya menggantikan Veve dan Septi menemani Lyssa kembali ke kelas. Mereka tampak ceria bercerita tentang anjing-anjing mereka yang lucu. Lyssa yang pikirannya sedang bercabang ke mana-mana hanya menanggapi cerita mereka dengan senyum tipis.
Di bangkunya, mata Lyssa beberapa kali melihat ke arah Septi. Tapi sahabatnya itu tak sekalipun melihat ke arahnya. Yang ada malah Sellin yang sedari tadi tak berhenti berbicara. Gadis berambut keriting itu antusias membicarakan hubungan Lyssa dengan Evan, membuat Lyssa enggan membuka ponselnya yang sedari tadi berbunyi di saku rok.
Bel masuk berbunyi, Sellin kembali menghadap ke depan. Dan seperti biasa, wali kelas masuk membagikan rapor. Nama Lyssa dipanggil dua kali, sebagai penerima rangking satu dan penerima beasiswa murid teladan untuk satu tahun ke depan.
Banyak reaksi dari teman sekelasnya, ada yang berwajah dingin, cemburu, atau tidak peduli.
Lyssa tersenyum sopan pada wali kelas. Dilihatnya Septi yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Di belakang, Sellin melambai-lambai senang untuknya.
***
Bel pulang sudah berbunyi. Gadis itu kalem membereskan barang-barang. Dia ingin bicara dengan Septi, tapi Septi sudah buru-buru keluar kelas.
[Mau pulang bareng?] chat Lyssa pada Evan.
Beberapa menit berlalu, tapi Evan tak kunjung menjawab pesannya. Anak-anak sekelasnya satu per satu sudah mulai beranjak pulang, bersiap menyambut libur semester dengan bahagia.
“Mau ikut kami ke SPICES?” tawar Sellin. Dua orang temannya yang sekelas dengan dia sudah berdiri di sampingnya, tersenyum ramah mengundang Lyssa ikut bergabung.
SPICES adalah mal trendi khusus para kaum muda. Lokasinya strategis berada di pusat kota, di samping blok penuh dengan sekolah-sekolah SMA dan universitas. Mal itu populer dan sangat digandrungi oleh kawula muda sebagai tempat nongkrong dan menghabiskan waktu. Rumornya, SPICES yang baru beberapa tahun muncul ini adalah milik beberapa tuan muda seusia Lyssa.
Lyssa anak rumahan, jarang keluar rumah. Paling hanya ketika ia jalan-jalan ke kafe bareng Veve dan Septi. Gadis itu memasukkan bukunya lambat-lambat. “Hehe, maaf.. Mungkin lain kali saja.”
“Yah.. Padahal kita bisa main ke VIP bareng lho.. Kita semua member VIP, gampang lah kalo nambah satu orang lagi.” Salah seorang teman Sellin mencuit.
“Atau jangan-jangan kamu mau jalan sama Evan..??” goda Sellin.
“Hehe, nggak kok,” jawab Lyssa sembari berdiri memakai ransel. Dari tadi ponsel di sakunya belum bergetar, tanda bahwa Evan belum membalas pesannya.
“Lyssa, kamu dipanggil Ageng tuh,” teriak Sian dari depan.
Keempat ciwi-ciwi yang tengah bercengkrama itu menoleh ke depan bersamaan. Nge-lag bareng-bareng memperhatikan ketua kelas mereka yang sedang piket menghapus papan. Seolah terhipnotis, kepala mereka menoleh ke arah pintu bersamaan. Melihat Evan berdiri di ambang pintu dengan napas terengah.
Salah seorang teman Sellin tersipu, tersenyum malu sembari menutup mulutnya yang membulat kagum.
Apalagi ketika Evan tersenyum, ketiga gadis di depan Lyssa seolah terhipnotis. Lyssa kalem membalas senyum Evan.
Evan memang tampan. Pemuda bertubuh tinggi itu tampak sempurna, bibirnya yang selalu tersenyum ramah, hidung mancung, matanya yang dalam, bahu yang lebar, tubuh ramping namun atletis, kakinya yang panjang..
Evan masih berdiri di ambang pintu. Senyumnya lebar, gigi-gigi putihnya rapi terlihat.
‘Ada apa Evan ke sini?’ batin Lyssa takut-takut.
“Ditunggu Evan tuh..” kata-kata Sellin menyadarkan Lyssa dari alam lamunnya.
“Evan menungguku?” tanya Lyssa balik.
“Iyalah. Siapa lagi kalau bukan kamu. Masa aku? Hehe.”
Langkah Lyssa kaku. Rasa malu mendadak hampir. Membuat pipi putihnya merona merah. Rasanya sedikit malu harus bertemu Evan di depan teman-teman sekelasnya. Hatinya dag dig dug tidak karuan.
Di belakangnya, Sellin dan teman-temannya menyoraki, bersuit-suit untuk Lyssa dan Evan.
Senyum Evan semakin lebar kala melihat wajah Lyssa yang tersipu. Terlihat sangat menggemaskan.
“Ada apa? Kenapa mencariku..” cicit Lyssa pelan.
Tangan Evan hangat menggandeng Lyssa. Gadis itu untuk pertama kalinya merasakan digandeng anak cowok di depan umum! Keringat dingin bercampur gugup menerpanya.
Berpasang-pasang mata melihat ke arah mereka, tapi Evan masih belum juga melepaskan tangannya. Dan tak seperti biasanya, Evan tak lagi menyapa siswa-siswa lain, pemuda itu hanya tersenyum lebar tanpa obyek. Langkahnya sedikit pelan, menyamakan langkah kaki kekasih barunya.
Mereka berjalan menuju tangga yang dulu, tempat mereka bicara untuk pertama kali.
Setelah mereka jauh dari mata dan telinga publik, Evan tiba-tiba saja memeluknya. Belum selesai kekagetan Lyssa terobati, kepala Evan turun, dengan senyum lebarnya, pemuda itu tiba-tiba mengecup bibir Lyssa dalam.
Merasakan bibir atasnya yang mendadak dilumat lembut dan dibawa masuk ke dalam suatu yang hangat dan basah, ingin rasanya Lyssa mendorong Evan menjauh. Lyssa hanyalah gadis introver biasa yang belum terbiasa menerima afeksi di depan umum. Gerak impulsifnya ingin mendorong Evan menjauh, tapi tangkupan tangan Evan di wajahnya.. Ciuman Evan yang semakin dalam.. Lyssa tak sampai hati mendorong kekasihnya. Tangannya yang semula hendak ia gunakan untuk mendorong Evan menjauh kini ganti lembut bersandar di d**a bidang kekasihnya.
Gadis itu berjinjit, mengurangi beban Evan agar tidak terlalu menekuk leher dan punggungnya – efek selisih tinggi badan mereka. Lyssa balas mencium bibir Evan lembut, memanjakan bibir tipis itu. Menenangkan.
Evan yang kini sudah bisa menguasai hasrat dan emosinya akhirnya melepaskan bibir Lyssa. Jarinya membelai lembut bibir basah kekasihnya. Kepala pemuda itu turun, mencium singkat bibir basah itu sebelum kembali menegakkan tubuh.
“Tadi Desvita menemuiku. Dia bertanya apa aku beneran pacaran sama Bee. Aku bilang ke dia ada apa. Dia bilang Bee sendiri yang cerita ke dia.” Senyum Evan masih sama lebarnya ketika melanjutkan, “Awalnya aku tidak percaya kalau Bee yang bilang, tapi pas aku lihat chat Bee ngajak pulang bareng, aku langsung percaya.”
Lyssa tidak tahu siapa itu Desvita, atau bagaimana Desvita dengar cerita tentangnya. Tapi.. melihat wajah kekasihnya yang sedari tadi penuh suka cita, mau tak mau bibirnya pun ikut menyunggingkan senyum manis. Mencintai seseorang ternyata hal yang menyenangkan.
“Jika hal seperti ini saja bisa buat kamu di awang-awang, sepertinya aku bisa buat kamu bahagia seumur hidup,” ujar Lyssa. Senyumnya manis menggoda siapa saja yang melihat.
Evan kembali meraih Lyssa ke dalam dadanya. “Ya. Buat aku bahagia selamanya.”
“Jadi, kita pulang bareng nih?” tanya Lyssa. Kepalanya menyembul di d**a Evan.
Ekspresi Evan tiba-tiba serba salah. Pemuda itu melepas peluk, tangannya terangkat menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
“Eh.. Aku ... masih ada rapat OSIS.” Senyumnya kaku serba salah.
Memang benar sih. Jika Lyssa perhatikan, Evan tidak sedang mengenakan ransel sekolah. Baju seragamnya rapi dengan badge OSIS terpasang penuh karisma di kerah blazer.
Lyssa mengangguk-angguk. “Oh.. gak papa sih. Jadi, kenapa tadi mencariku?”
Evan cengengesan. “Aku hanya ingin bertemu denganmu, hehe.”
Lyssa ikut tersenyum ramah. “Baiklah kalo gitu. Aku pulang dulu.”
“Aku temani sampai bawah.”
Lyssa mengangguk menyetujui.