149. Teman

1170 Kata

Hingga larut malam, Lyssa masih di sana, udara malam yang dingin menerobos melalui celah pintu. Bibir gadis itu bergerak-gerak menyebut ‘Mama, Mama’ tanpa suara. Air matanya pun telah kering, meninggalkan jejak di wajahnya yang pucat. ** Entah berapa lama Lyssa berada di posisi itu. Sampai pagi muncul, sampai mentari menjadi terang, sampai panas mengganti dingin, gadis itu masih sama, diam tak bergerak, meringkuk di depan pintu. Suara pintu depan yang digedor-gedor menyadarkan gadis itu dari alam lain. “Lyssa, buka pintunya, Lyss!” Suara Leo terdengar memanggil. Suara berbisik, seperti sedang mengobrol. Lyssa perlahan bangkit duduk. Lemas berdiri membuka pintu rumah. Pas sekali, saat itu Leo sudah berhasil membuka kunci gerbang atap. “Oh, hai!” sapa Leo ramah. Tanpa dosa mengambil be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN