Keesokan harinya, Lyssa berangkat ke sekolah dengan wajah bengkak habis nangis. Pipinya yang pernah chubby kembali tirus seperti dulu. Jam makannya pun semakin berantakan. Gadis itu hanya makan saat kepalanya mulai berkunang— “Apa Kakak baik-baik saja?” “Ya?” Lyssa bertanya bingung pada lelaki di depannya. “Tadi Kakak mau jatuh, jadinya aku pegangin.” Saat ini Lyssa ternyata sedang berada dalam posisi setengah berpelukan dengan anak cowok bertubuh tinggi. Lyssa sekilas melihat dasi yang dipakai anak itu, warna merah. Anak kelas satu. Mengumpulkan tenaganya, Lyssa menarik napas dalam-dalam. Ia akhirnya berhasil berdiri dengan kakinya sendiri. Meski begitu, anak lelaki di depannya itu masih berjaga-jaga merentangkan tangannya di belakang tubuh Lyssa. Di bawah keramaian koridor gedung d

