Aku tahu, pertemuan kita kembali bukanlah suatu kebetulan. Melainkan ada 'tangan' tak terlihat yang sudah mengatur semuanya.
Tapi siapakah Dia?
~ Wanita Terindah~
¤¤¤
Berkali-kali Jo memastikan dirinya sendiri, bahwa apa yang terjadi bukanlah mimpi. Tangannya sibuk menepuk kedua pipinya, kemudian mencubit salah satunya, "aww." Jo meringis saat ia tidak sengaja mencubit pipinya terlalu kencang.
Kedua matanya menatap benda yang terletak di meja. Hanya sebuah rantang mampu membuat harinya menjadi indah. Jo mengambil benda bersusun yang terbuat dari stainless itu, kemudian mendekatkannya pada bibir. "Muach!" ia memberikan satu kecupan di sana.
"Aargh fix gue gila!" teriak Jo. Dia menyugar rambutnya sendiri, ia yakin perempuan yang datang tadi bukanlah halusinasinya, apalagi hanya ilusi semata. Perempuan itu benar-benar nyata.
Jo beringsut dari tempatnya. Kaki panjangnya setengah berlari ke luar rumah untuk meniti jejak perempuan yang baru saja datang ke rumahnya. Namun, ia terlambat. Jejak-jejak yang dicarinya hilang, yang ia dapat hanya desiran angin yang menerpa wajahnya.
"Cari siapa, Mas?"
Seorang perempuan berambut hitam sepunggung menyapanya. Jo memaksa tersenyum, karena biar bagaimana pun dia warga baru di sini dan harus memberikan kesan baik saat pertama kali. Kening Jo bergelombang karena melihat perempuan di depannya ini salah tingkah.
"Nyari Nia, Mbak. Mbak kenal nggak?"
"Nia? Maksud Mas Dania?" tanya perempuan itu untuk memastikan. Jo langsung mengangguk cepat. "Oh dia itu pembantunya Ummi Salamah Mas, rumahnya itu dua rumah dari sini."
"Pembantu?" tanya Jo heran. Seingatnya ia tidak pernah mendengar perusahaan papa Nia bangkrut, tapi kenapa Nia malah jadi pembantu?
"Mas?" perempuan itu mengayunkan tangannya di depan wajah Jo yang sedang melamun. Jo terkesiap namun segera menguasai dirinya. "Kenalkan Mas, nama saja Indri." perempuan yang menyebut namanya itu mengulurkan tangan, alis Jo menaut. Dia tidak pernah bertanya nama perempuan di depannya ini.
"Jo," balas laki-laki berkulit putih pucat dengan terpaksa. Namun ia harus berterima kasih juga pada Indri karena telah memberikan informasi mengenai Nia. Dengan berat hati Jo membalas uluran tangan itu.
Kedua tangan itu menaut. Indri terlihat bahagia dengan apa yang terjadi. Kedua matanya membesar sempurna, dan satu tangannya yang lain mengelus tangan Jo. "Ya ampun Mas, tangannya halus banget sih."
Sudut bibir Jo tertarik sempurna, menampakkan sederet giginya yang rapi. Itu bukan senyuman, melainkan cengiran aneh karena mendengar ucapan Indri barusan. "Mohon dilepas, Mbak." Jo menarik tangannya agar jauh dari Indri. Ia merasa seperti habis terkena virus berbahaya. Dan Jo tidak tahu, setelah ini hidupnya tidak pernah tenang setelah pertemuannya dengan perempuan bernama Indri ini.
¤¤¤
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia lagi, hal pertama yang Jo lakukan adalah mencari tahu di mana sahabatnya berada. Selain ingin menyambung persaudaraan, Jo ingin memastikan bahwa seseorang yang bersama sahabatnya itu bahagia. Bukannya meragukan, namun dari dulu laki-laki itu tidak bisa diandalkan. Jo hanya tidak ingin orang itu terluka, itu saja.
Jo tahu ini salah. Memendam rasa pada seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Namun ia sendiri tidak bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh cinta. Semuanya berjalan seiring waktu, dari rasa ingin melindungi hingga rasa membutuhkan kehadirannya. Sudah ia lewatkan. Anggap saja hal itu adalah kesalahan terindah.
Jo tidak pernah mendapatkan kabar mengenai sahabatnya itu. Ia juga pernah menghubunginya melalui telepon dan juga email, namun tidak pernah ada jawaban. Seperti hilang ditelan bumi.
Berbeda dengan keadaan sekarang, saat ia mencoba untuk ikhlas. Saat ia mencoba untuk menutup pintu hatinya yang telah lama terbuka tanpa pemilik. Saat ia memutuskan hanya akan menyimpan nama itu di lubuk hatinya paling dalam, keduanya malah dipertemukan lagi dalam kondisi yang berbeda. Terkadang takdir selucu itu.
Kepala Jo mendongak ke atas, matanya bertemu dengan langit-langit rumahnya yang berwarna putih gading. Bayangan masa lalu berkelebat dalam benaknya bagai scene demi scene film yang sedang ditayangkan.
¤¤¤
"JONATHAN KEMBALIKAN NOVEL AKU!" Suara cempreng dari gadis yang memakai seragam putih abu-abu menggema di koridor sekolah. Napasnya tersengal karena kelelahan mengejar laki-laki yang sedang membawa kabur benda kesayangannya itu.
Ya, bagi Nia novel adalah benda kesayangannya. Bagaimana tidak, ia harus mengurangi jatah jajannya untuk membeli benda itu.
"Sini kejar aku! Baru aku kasih!"
Laki-laki bermata sipit itu memeletkan lidah. Untung saja kondisi sekolah sudah sepi, kalau tidak mereka bisa masuk ruang BP bersamaan.
"Jonathan! Ish sebel!"
Nia masih terus mengejarnya meskipun napasnya terputus-putus. Rambutnya acak-acakkan karena beberapa helai ada yang terlepas dari ikatan. Kemeja putihnya juga sudah tak karuan, keluar dari rok abu-abu selutut yang sedang ia pakai.
"Aku tidak keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya. — Seno Gumira Ajidarma," teriak Jo sampai suaranya menggema hingga menggaung ke kelas atas.
Mata Nia membulat sempurna. Dia tahu, Jo sedang membaca tulisannya yang berada di balik sampul novel miliknya. Ia sengaja menulis quote itu karena suka dengan kata-katanya.
"Jo ish balikin nggak?!"
"Nggak!"
Kening Jo mengerut. Dia bingung mengapa kedua sudut bibir Nia tertarik. Selanjutnya Jo merasakan seseorang merebut novel itu dari tangannya.
Lagi-lagi Wisnu yang merebut sesuatu darinya. Termasuk dia, gadis yang memiliki senyum secerah mentari pagi.
"Kayak bocah banget sih mainnya," komentar Wisnu. Laki-laki yang masih memakai baju basket berwarna merah itu memberikan benda yang diambil Jo kepada pemiliknya. Si pemilik tersenyum penuh kemenangan.
Beberapa detik Jo sempat tertegun, saat melihat senyum itu. Sisi hatinya serasa berbunga, meski ia sangat tahu bukan ia penyebab munculnya senyum itu.
"Kamu udah selesai, Wis?" tanya gadis berkuncir kuda pada kekasihnya itu. Rambutnya bergoyang saat siempunya bergerak.
"Udah, kamu ikut aku yuk habis ini. Kamu mau aku kenalin sama temen-temen aku."
"Bener?" tanya Nia antusias. Senyumnya semakin mengembang saat mendapat anggukkan dari ketua tim basket sekolah.
Wisnu segera meninggalkan dua manusia bagai kucing dan tikus itu untuk mengganti bajunya. Hal itu dimanfaatkan Nia untuk mengejek seorang laki-laki yang menjadi sahabat kekasihnya itu.
"Yaaa enggak ada yang bela ya, makanya cari pacar," ledek Nia. "Ups, nggak ada yang mau ya, habisnya nyebelin sih."
Jo terlihat membesarkan matanya, lagi-lagi Nia meledek, "nggak usah dipelototin tuh mata. Tetep aja kecil."
"Awas kamu, Ni!"
"Ih marah, memang bener kan?"
Belum sempat Jo membalas ucapan Nia, Wisnu segera datang. "Ayo kita berangkat."
"Memangnya mau kemana sih, Wis?" tanya Nia.
"Ke tempat tongkrongan aku," jawab Wisnu. Dia sudah memakai seragam putih abu-abunya lagi tanpa memasukkan kemejanya ke dalam celana.
Diam-diam Jo mengikuti keduanya dari belakang. Entah mengapa hatinya tidak tenang membiarkan Nia pergi. Ia sendiri pun merasa aneh, Nia pergi dengan pacarnya. Tidak perlu dikhawatirkan, namun hatinya berkata lain.
"Aku benci sama sahabat kamu itu," seru Nia yang berjalan bersisian dengan Wisnu. "Kenapa sih kamu mau sahabatan sama dia?"
"Dia baik kok orangnya."
"Tapi tetep aja nyebelin! Aku enggak suka!"
"Ya kalau kamu suka, dipacarin dong."
"Ish Wisnu aku serius!" pekik Nia. Wisnu hanya terkekeh.
"Hati-hati lho Ni, kata orang cinta sama benci itu beda tipis."
"Terus menurut kamu aku cinta sama dia gitu? Idih amit-amit deh."
Wisnu terkekeh mendengarnya.
Tanpa keduanya ketahui di belakang sana hati Jo seperti digigit ribuan semut rangrang. Sakit. Ia hanya bisa merekatkan jaket biru langit yang sedang ia kenakan, berharap rasa sakit itu segera hilang.
Kamu emang enggak pernah bisa ngeliat aku, Ni.
¤¤¤
Jonathan memutuskan mengikuti hatinya sendiri. Dia menyusul Wisnu dan juga Nia dengan menaiki angkot. Di zaman itu, motor adalah benda sangat mewah untuk dimiliki oleh anak SMA seperti mereka. Hanya orang kaya saja yang memilikinya.
Untung saja Jo pernah ikut Wisnu ke tongkrongan yang dimaksud. Tempat itu tidak begitu jauh dari sekolah mereka.
Jo berjalan menyusuri g**g sempit. Dari turun angkot, ia harus berjalan lagi agar cepat sampai ke tempat itu. Anggap saja jalan pintas.
Matanya menatap gedung tua di hadapannya. Ia tahu, gedung tua itu sudah disulap oleh teman-teman Wisnu sebagai basecamp mereka. Dari celah pintu, Jo bisa melihat hembusan asap yang keluar.
Diam-diam kaki Jo melangkah dengan pasti. Dia telah berada di depan pintu gedung tua itu.
"Oh jadi ini cewek yang lo bilang tercantik di sekolah lo." Jo melihat seorang laki-laki berambut ikal dengan seragam SMA awut-awutan. Dia berkata sambil mendekatkan tubuhnya pada sosok perempuan satu-satunya di sana.
Laki-laki lain yang membawa sebotol air mineral berjalan mendekati Nia. Jo bisa melihat bahwa laki-laki itu sengaja menumpahkan air ke seragam Nia, sehingga bagian atas Nia tercetak jelas pakaian dalam yang sedang dipakainya.
"Ups sorry enggak sengaja."
Kedua tangan Jo terkepal kuat hingga jari-jarinya memutih. Rahangnya mengetat keras dengan sorot mata yang menyeramkan. Ternyata benar firasatnya, bahwa gadis itu sedang dalam keadaan tidak baik. Jo bisa melihat dari tempatnya berdiri kalau Nia sedang melingkarkan kedua tangannya ke d**a dan kakinya bergetar hebat.
Ini tidak bisa dibiarkan. Ia segera melepas jaket yang dipakainya dan berjalan menuju gadis yang menjadi bulan-bulanan itu.
Jo langsung memakaikan jaketnya pada tubuh Nia, untuk melindungi gadis itu dari pandangan lapar mata-mata yang haus kenikmatan itu. Semua orang yang berada di sana terheran melihat Jo yang nampak seperti pahlawan kesiangan. Termasuk Wisnu dan Nia. "Ni kita kan harus latihan drama. Bentar lagi kita pentas," bohong Jo. Kemudian ia langsung menarik tangan Nia untuk meninggalkan gedung tua itu.
"Sorry ya semua, Nianya gue pinjem dulu. Mau latihan drama."
Jo membawa Nia keluar dengan cepat. Takut kalau teman-temannya Wisnu mengikuti mereka. Tanpa keduanya sadari, tangan mereka saling bertautan. Jo mengeratkan genggaman tangannya saat mengetahui tangan Nia masih bergetar.
Keduanya tidak pernah tahu, jika di masa depan tangan mereka juga saling bertautan. Keduanya terikat garis takdir yang tidak bisa dipisahkan oleh siapa pun. Nama Jo sudah tertulis di kitab Lauhul Mahfudz untuk melengkapi hidup seseorang. Dan catatan itu telah kering. Tidak ada satu orang pun yang bisa merubahnya.
¤¤¤
Jo mengingat semuanya. Ia tidak pernah lupa waktu kebersamaannya dengan gadis itu. Termasuk peristiwa yang begitu saja muncul di kepalanya. Karena setelah peristiwa itu, dia jadi dekat dengan Nia.
Semuanya tidak berubah, rasa yang ia punya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Namun cara ia mencintai yang tidak pernah berubah. Ia masih bertekad dengan cara lamanya, yaitu membuat Nia kesal dan membencinya. Hal itu sudah cukup, asalkan dia bisa memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.
Dari kejauhan dia mencintai Nia, dari kejauhan juga dia melindungi Nia. Hingga suatu hari nanti ia menyadari, bahwa melindungi Nia bukanlah dari kejauhan. Melainkan selalu berada di sisinya.
Jo harus bersyukur, entah ditujukan pada siapa rasa syukur itu. Yang jelas skenario ini begitu indah, seseorang yang ia cari-cari kini muncul di hadapannya sendiri. Jo sangat berterima kasih pada "the best planner" yang telah mempertemukan mereka. Jo siap patah hati lagi, asalkan dia bisa melihat gadis itu baik-baik saja. That's enough.
Nyatanya, ada rahasia besar yang tidak pernah Jo ketahui. Bahwa DIA mampu menarik hamba-Nya pada jalan kebenaran dengan cara apa pun. Termasuk cara yang ditulis bagi jalan hidup seorang Jonathan Liem.
Melalui kebetulan yang indah ini, Jo dapat menemui jalan terang bagi hidupnya yang gulita.
Dan kita hanya bisa menyaksikannya kapan hal itu akan terjadi.
*****
Huaaaah semoga bisa ngobatin kangen kalian sama Jo ya?
Gimana part ini? Hehe