Secercah Cahaya Baru

1391 Kata
Setelah selesai bercerita, Ibu Hani terus-terusan menenangkanku yang terlihat seperti sudah tidak memiliki harapan lagi dan sangat membutuhkan orang lain untuk menjadi teman bicara, tapi aku selalu takut jika harus bercerita masalahku ini dan membuat orang lain juga terkena imbasnya seperti Nenek, aku tidak ingin orang lain tersakiti karena aku, cukup aku saja. Ibu Hani mengatakan banyak hal kepadaku dan semua kata-katanya selalu bisa membuatku tenang seperti dia memberi air kepada tanaman yang berada di padang pasir tandus, dan membuatku merasa bahwa ada secercah cahaya baru yang mungkin bisa menuntun aku untuk keluar dari semua masalah besar ini. “Bagaimana kalau Mara untuk sementara ini tinggal di tempat Ibu saja, sampai Ibu berhasil membuat Ayah tiri Mara itu mendapat balasan atas semua perbuatan kejinya kepada Mara?” ucapnya kepadaku. Saat itu aku menganggukkan kepala tanda bahwa aku menyetujui tawaran Ibu Hani karena Ibu Hani berniat untuk menolongku, dan aku juga mulai berharap kepadanya. Tidak begitu terasa, sore pun tiba, Ibu Hani dan aku pulang dari sekolah dan pergi ke rumahnya Ibu Hani, aku akan mulai menginap di rumahnya selama beberapa hari, aku akan bisa fokus belajar di sini tanpa gangguan dari laki-laki b***t itu. Ibu Hani menyuruhku untuk lekas mandi lalu kemudian Ibu Hani juga menyiapkan beberapa bajunya untuk kupakai, Ibu Hani tinggal sendirian di rumahnya karena keluarganya jauh dan rumah ini kata Ibu Hani adalah rumah Ayahnya yang sudah lama meninggal. Setelah selesai mandi Ibu Hani kembali menyeduhkan teh hangat untuk aku minum sambil belajar katanya, aku belajar hingga larut malam dan tentunya di sini sangat tenang karena tidak ada suara Ibu yang menyuruhku makan malam bersama dan tentunya tidak ada suara laki-laki  b***t itu. Aku berada di kamar nomor dua, di rumah Ibu Hani ini ada tiga kamar yang bersebelahan, di kamar pertama adalah kamarnya Ibu Hani, kamar kedua tempat aku sekarang ini dan di kamar ketiga kata Ibu Hani itu adalah kamar teman perempuan Ibu Hani yang berprofesi sebagai Arkeologi yang juga sering menginap di sini. Dinginnya malam saat ini begitu menenangkan, untuk pertama kalinya aku belajar sampai mataku begitu berat dan sudah sangat ingin tidur, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di rumah yang ada iblisnya itu. Aku seperti berada di galaksi lain saat ini, berbeda seperti kemarin-kemarin semuanya adalah galaksi yang kacau yang bisa saja seketika membinasakan aku, tapi sekarang benar-benar tenang, aku ingin ke kamar Ibu Hani untuk bilang terima kasih dan bilang aku ingin segera tidur malam ini karena sudah sangat mengantuk. Saat berjalan menuju kamar Ibu Hani aku melihat beberapa gambar Ibu Hani dan keluarganya yang dipajang di dinding-dinding rumahnya, sungguh iri rasanya karena gambar-gambar di rumah ini semuanya begitu hangat. Aku menundukkan kepalaku dan tanganku menggenggam ujung lengan piyama milik Ibu Hani yang aku kenakan, aku benar-benar iri dan ingin menangis mempertanyakan kenapa semua hal ini tidak pernah terjadi di keluargaku. Akhirnya aku sampai di depan pintu kamar Ibu Hani, aku pun mengetuk pintunya pelan beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar itu, aku pun memutuskan untuk membuka pintu itu. Setelah aku membuka pintu aku melihat Ibu Hani tiduran di sofa panjang di samping tempat tidurnya, banyak sekali buku berserakan di lantai kamarnya, aku pun melihat buku-buku itu sambil berjalan ke kasur untuk mengambil selimut Ibu hani dan kemudian menyelimuti Ibu Hani. “Ternyata Ibu Hani suka membaca buku-buku yang rumit, ya,” gumamku, dan kemudian aku segera keluar dan menutup pintu kamar Ibu Hani setelah menyelimuti tubuhnya agar Ibu Hani tidak kedinginan, karena saat ini sangat dingin. Lagi-lagi aku berjalan dan melewati semua gambar yang membuat aku sangat iri, aku kembali menunduk untuk menghindari melihat semua gambar yang begitu hangat dan penuh kasih sayang. Setelah masuk kamar aku langsung berbaring di kasur, saat berbaring aku melihat langit-langit kamar, kemudian aku kembali memikirkan Nenek dan bagaimana keadaan Ibu sekarang, dadaku kembali sakit dan kepala kembali pening, aku segera menutup mata dan mulai menghitung domba dalam pikiranku agar aku cepat tidur. Genap delapan puluh domba yang aku hitung hingga mataku terlelap.   ***   Aku berdiri di sebuah jalan di tengah rumah-rumah kecil, aku berjalan untuk keluar dari tempat itu tapi seperti tak punya ujung sampai-sampai aku berlari untuk menuju tempat lain, tapi yang terjadi hanyalah pengulangan, aku hanya berdiri tepat di sebuah jalan yang banyak rumah kecil di sana. Aku pun berteriak untuk meminta tolong, tidak ada sahutan atau apa pun kecuali suara teriakanku yang bergema, kemudian aku kembali merasa pening di kepalaku sejurus dengan langsung menelungkupkan kepalaku di kedua lututku. “Mara!” suara itu seakan menyambar dari langit. Suara iblis itu langsung membuat sekujur tubuhku mati rasa, rumah-rumah kecil yang kosong tadi tiba-tiba ada iblis itu yang siap menerkamku, bukan hanya ada satu iblis, ada banyak sekali iblis yang berlarian ke arahku dari rumah-rumah kecil itu, laki-laki b***t menjadi sangat banyak, dengan muka yang sama menyeringai mengerikan. Aku mencoba berdiri karena ingin lari dari iblis-iblis yang juga berlarian ke arahku, tapi aku terjatuh dan tersungkur ke tanah, kakiku tidak bisa digerakkan hingga akhirnya semua iblis itu  menangkapku lalu melakukan hal yang tidak senonoh itu padaku. Aku hanya bisa menangis dan merintih saat itu, berteriak minta tolong, dan terus melawan, tapi semuanya tidak ada gunanya sampai aku mendengar suara lembut memanggilku. “Mara … bangun!” seru suara itu, dan aku langsung membuka mataku lalu memeluk Ibu Hani yang dengan cepat juga memelukku. Dia mengelus pelan rambutku sambil berbisik, “Tenang … tenang … Ibu akan selalu membantu Mara.” Ibu Hani terus mengatakan hal itu, dan air mataku tidak bisa berhenti membanjiri pipiku. Tubuhku tidak bisa berhenti gemetar sampai Ibu Hani mengatakan, “Ibu akan menyelamatkan Mara.” Seketika tubuhku yang tadinya gemetar langsung berhenti dan dengan senyumannya Ibu Hani mengatakan, “Jika tidak bisa terselamatkan juga, Ibu akan mengambil setengah derita Mara itu, jika masih kurang juga, izinkan Ibu menanggung semua derita Mara itu.” Detik jam seakan berhenti setelah Ibu mengatakan itu, air mataku yang berjatuhan segera aku seka dan aku akhirnya mulai tenang. Setelah beberapa saat dan aku sudah benar-benar tenang Ibu Hani segera mengambilkan baju ganti untukku dan menyuruhku untuk siap siap. Aku bertanya kepada Ibu, “Ke mana, Bu? Ini jam satu malam, Ibu,” tanyaku kepada Ibu Hani, Ibu Hani menjawab dengan senyumannya, “Ibu ada teman Psikiater yang dapat Ibu percaya, Ibu ingin mengajak Mara kenalan dengannya, boleh?” jawabnya sekaligus bertanya lagi kepadaku, aku menganggukkan kepala, karena selama perginya bersama Ibu Hani, ke mana pun itu aku mau. Kami pun berangkat ke rumah Psikiater tersebut, beliau adalah Ibu-ibu yang berumur sepertinya cukup tua, beliau menanyakan banyak hal kepadaku dan aku menjawab dengan jujur semua pertanyaan beliau. Beliau kemudian menyimpulkan bahwa aku kekurangan tidur dan jam tidur yang berantakan membuat aku mengalami mimpi buruk yang biasanya terjadi selama tahap tidur yang dikenal sebagai rapid eye movement (REM). Penyebab pasti mimpi buruk tidak diketahui, tapi sumber dari mimpi buruk adalah ayah tiriku sendiri. Supaya ini tidak terulang lagi adalah dengan cara meminum obat tidur, supaya otak dan mata menjadi tidak aktif lagi ketika sedang tidur, karena kalau cuma mata yang terlelap sedangkan pikiranku masih terjaga maka akan rentan mengingat hal-hal buruk dan membuat semua itu terbawa ke mimpi. Ibu Hani berbincang sedikit dengan Psikiatar itu dan memutuskan untuk membuat laporan untukku dan diantar ke kantor polisi nanti oleh Psikiater itu. Psikiater itu memberi kami catatan obat yang harus dibeli di puskesmas, kami pun membeli obat dan segera pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari, aku disuruh meminum obat dan segera istirahat oleh Ibu Hani, aku pun menuruti perkataannya dan minum obat, Ibu Hani terus berada di sampingku sampai aku terlelap karena efek dari obat tidur. Saat aku bangun tidur, sinar matahari sudah masuk ke kamar tempat aku tidur dan aku pun melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11:00 siang, aku tidak bersekolah hari ini, untung saja ujian telah berakhir kemarin. Aku mengambil ponsel dari dalam tas dan melihat ada beberapa pesan yang masuk dan panggilan yang masuk, pastilah ini dari Ibu karena cuma dia yang sering mencariku apabila aku tidak ada di rumah, aku pun membaca semua pesannya dan dari nomer hp ibu ada satu pesan yang membuat aku sangat ketakutan, pesan itu berisi; [Oh, main lapor lagi? Polisi di sana semua adalah teman Ayah, jadi tidak akan ada yang mendengarkan semua perkataanmu, Mara. Apa ada yang membantumu saat ini? Apa mau Ayah bikin dia menderita seperti Mara?] Deg! Lagi-lagi ini terjadi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN