My hope

1397 Kata
Malam itu percobaan bunuh diriku gagal dan hal yang lebih buruk dari itu juga terjadi kepadaku, aku bangun dari tidur yang panjang dengan tidak ada sehelai benang pun di tubuhku. Tidak bisa dipungkiri lagi dia benar-benar melakukan hal yang k**i dan tak senonoh kepadaku saat aku kehilangan kesadaran malam itu, aku hanya bisa menangis saat ini karena memang tidak ada satu hal pun yang bisa aku lakukan kecuali menangis. Aku benar-benar kehilangan harapan saat ini, bunuh diri saja aku sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk itu karena percobaan pertama saja sudah cukup membuatku tidak akan bisa melupakan kejadian itu untuk selama-lamanya. Pikiranku benar-benar tidak jernih saat ini, dan terus-terusan memikirkan apa saja yang dia lakukan pada tubuhku ini selama aku tidak sadar, aku berpikir semua hal k**i yang pernah dia lakukan kepadaku membuat perutku sakit dan membuatku ingin muntah. Aku segera memakai pakaian dan pergi ke toilet karena mual-mual, tidak ada yang bisa aku muntahkan karena perut ini sedang tidak ada isi apa pun di dalamnya. Sepi sekali rumah hari ini, seperti tidak ada siapa pun di rumah ini selain aku sendiri, kemudian dari kamar aku pun fokus untuk menggunakan indra pendengaranku untuk mendengarkan apakah ada pergerakan atau suara orang di rumah ini, dan ternyata memang tidak ada. Aku pun membuka pintu kamarku yang masih terkunci hingga saat ini, yang membuat aku terus berpikir kalau pintu ini sudah benar aku kunci lewat mana dia masuk kamar ini, apa mungkin dia sudah ada di sini terlebih dahulu, sebelum aku masuk? Pasti itu. Pasti itu alasannya, karena aku sudah berulang kali memastikan bahwa seluruh akses masuk kamar ini sudah aku kunci dengan benar, aku mulai merinding membayangkan dengan cara apa laki-laki b***t itu masuk ke kamar ini. Aku pun keluar dari kamar dan aku mulai berjalan mengitari seluruh ruangan rumah yang sangat sepi dan sunyi ini, ternyata benar-benar kosong seperti tak berpenghuni. Laki-laki b***t itu sepertinya bekerja yang aku tidak pernah tahu apa pekerjaannya itu, Ibu sepertinya juga sedang dinas seperti yang laki-laki b***t itu katakan kepadaku tadi malam saat aku sedang tidak berdaya karena efek obat yang begitu berat. Hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi karena kebodohan diriku sendiri. Telepon rumah tiba-tiba berdering dan aku segera bergegas untuk menerima panggilan masuk itu. Aku pun mengangkat telepon itu dan suara seseorang mulai terdengar. “Mara …,” ucapnya pelan, ini suara Ibu. “Iya, Ibu. Ini Mara, kenapa, Bu?” tanyaku, kepada Ibu. “Mara sudah makan?” “Belum, Bu. Ini Mara baru bangun tidur.” “Habis ini makan ya, Mara,” ucapnya lagi. “Baik, Bu.” “Mara … Ibu sepertinya tidak akan pulang beberapa hari,” ucap Ibu membuat aku semakin ketakutan karena jika Ibu tidak pulang, laki-laki b***t itu akan semakin merajalela di rumah ini.   “Ibu …,” lirihku. “Ayah juga tadi baru menelepon Ibu, katanya Ayah tidak akan pulang ke rumah beberapa hari juga, jadi Mara di rumah baik-baik ya, sendirian.” Aku menghela napas menandakan bahwa aku sedang sangat lega saat ini, lebih baik sendiri daripada harus bersama laki-laki b***t itu. “Mara … jangan sering-sering menghela napas, itu dapat mengusir keberuntungan, sudah dulu ya, Ibu mau masuk kelas lagi, Ibu sayang Mara,” ucapnya pelan sejurus dengan putusnya panggilan telepon rumah. Aku tidak menjawab lagi apa yang Ibu katakan dan langsung meletakkan telepon itu ke tempatnya, aku bergegas mengemas semua pakaian untuk ke tempat harapanku, yaitu rumah Ibu Hani. Lagipula laki-laki b***t itu dan Ibu tidak akan cepat pulang, biasanya kalau Ibu menelepon … seminggu lagi ia akan pulang, dan laki-laki b***t itu memang jarang pulang ke rumah, apakah bisa kata ‘jarang’ itu menjadi ‘tidak’ saja? Agar dia tidak pulang ke rumah ini lagi, selama-lamanya. BRAK! SREKK! Aku mengunci rumah dan menutup semua jendela kemudian langsung berjalan menuju rumah Ibu Hani, untuk bercerita semua masalahku dan meminta maaf karena telah membuatnya khawatir selama aku pergi, dan yang terpenting adalah aku ingin melihat senyumannya yang bisa dengan mudah menenangkan jiwa dan hatiku. Sampai akhirnya aku berada di depan rumah Ibu Hani, aku mengetuk pintunya. Tok! Tok! Tok! Aku mendengar langkah kaki yang menuju pintu itu untuk membukakan pintu, pintu pun terbuka dan Ibu Hani menatapku, bulir-bulir air matanya menetes di pipi yang sejurus memelukku dan mengatakan, “Syukurlah, Mara baik-baik saja,” ucapnya lirih, aku tak kuasa menahan tangisanku juga yang sudah aku tahan semenjak berjalan menuju rumah Ibu Hani. Kami sama-sama menangis, Ibu Hani khawatir dan takut aku kenapa-kenapa, sementara aku menangis karena kerinduan akan kehangatan yang akhirnya bisa aku jumpai kembali. Ibu Hani langsung menyuruhku masuk ke rumahnya dan mempersilakan aku untuk duduk di kursi ruang tamu beliau, aku duduk dan seperti biasa Ibu Hani juga duduk tepat di depanku dan saat ini Ibu Hani masih menangis. Tidak biasanya dia begini, biasanya Ibu Hani langsung menyeka bulir-bulir air matanya dan mengatakan, “Ibu tidak menangis, ini hanya air teh yang keluar dari mata, Mara.” Ibu Hani selalu mengatakan hal itu jika ada beberapa bulir membanjiri pipinya, tapi saat ini tidak, Ibu Hani membiarkan semua air matanya berjatuhan dan Ibu Hani mulai berbicara kepadaku. “Ibu pikir Mara tidak akan ke sini lagi,” lirih Ibu Hani sesegukan karena tangisannya yang semakin tidak bisa Ibu Hani kontrol. “Maaf, Ibu. Mara diancam olehnya seperti kata Mara di surat yang Mara tulis untuk Ibu, Ibu sudah baca?” tanyaku kepada Ibu Hani untuk menenangkan Ibu Hani. “Iya, Ibu sudah baca dan Ibu sangat khawatir dengan Mara. Apa dia melakukan hal itu lagi kepada Mara?” tanyanya juga kepadaku, aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini jujur, karena melihat Ibu Hani yang masih menangis, mungkin kalau aku bercerita sekarang dia akan semakin menangis karena aku. “Mara ceritanya nanti malam saja ya, Ibu,” ucapku kepada Ibu Hani, karena aku benar-benar tidak ingin membuatnya semakin bersedih dan semakin menangis. Ibu Hani menganggukkan kepalanya kepadaku dan sejurus dengan beliau yang beranjak dan bilang kepadaku ingin membasuh muka untuk menghilangkan bekas-bekas air mata di pipi merah merona Ibu Hani. Aku juga beranjak untuk meletakkan tasku ke kamar nomor dua milik Ibu Hani, di jalan menuju kamarku tidak lagi iri melihat gambar-gambar hangat keluarga Ibu Hani di dinding, aku menatapi satu-satu foto itu dengan senyuman dan mengatakan, “Terima kasih, sudah menjadi cahaya penerang untuk Mara,” gumamku, sampai akhirnya aku tepat di pintu kamar itu dan langsung masuk karena aku benar-benar rindu dengan kamar yang bisa membuat aku tidur dengan tenang tanpa gangguan dari laki-laki b***t seperti di rumah itu. Tidak beberapa lama, malam pun tiba dan Ibu Hani masuk ke kamar nomor dua untuk menemui aku. Ibu Hani membawa dua buah gelas berisikan s**u untuk kami minum sambil berbincang. Ibu Hani duduk di kursi samping kasur, sedangkan aku duduk di kasur. “Nih Mara, s**u hangat supaya Mara tidak kedinginan malam ini soalnya cuaca saat malam sedang hujan terus,” ucap Ibu Hani sambil menyodorkan gelas yang berisikan s**u itu kepadaku, dan aku langsung meminumnya satu tegukan bersamaan dengan Ibu Hani yang mengatakan, “Minum, Mara.” Tidak lama dari itu Ibu Hani mulai memberikan aku pertanyaan, dan aku menjawab semuanya dengan jujur. Aku pun mulai bercerita dari cerita tentang Ibu yang ingin memasukkan aku ke PTN dekat rumah, tentang aku yang ingin bunuh diri, tentang laki-laki b***t yang tiba-tiba sudah berada di kamar setelah aku kehilangan kesadaran sampai kemudian dia melakukan hal k**i dan tak senonoh kepadaku. Aku mengatakan semua perihal itu kepada Ibu Hani yang hanya bisa mengeluarkan bulir-bulir air mata dan terdiam sambil menatap mataku dengan hangat dan duka. Tiba-tiba Ibu Hani ke arahku dan mendekapku begitu erat, padahal yang saat ini menangis adalah dirinya. Tumben sekali aku bercerita masalahku sendiri dan tidak ada sedikit pun bulir-bulir air mata yang keluar dari mataku. Apa kemanusiaan di dalam diriku sudah rusak? Ibu Hani segera menelepon polisi karena geram mendengar semua perbuatan laki-laki b***t itu kepadaku dan ingin segera melihat laki-laki itu dijebloskan ke penjara dan dihukum atas semua perbuatannya. Tapi yang terjadi adalah … setelah Ibu Hani mengatakan nama korbannya adalah Mara, Polisi malah menjawab dengan nada tertawa “Dia hanya pembual,” katanya dari telepon genggam yang Ibu pegang, Ibu terus mengatakan banyak hal sampai akhirnya polisi itu memutuskan sambungan teleponnya dengan telepon milik Ibu Hani. “Polisi tidak berguna,” ketus Ibu Hani, Ibu Hani akhirnya tahu bahwa polisi mengacuhkan setiap laporan yang berhubungan dengan Mara. Tapi alasannya apa?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN