Aku Juga Punya Keinginan

1291 Kata
  Setiap malam aku lalui dengan rasa ketakutan dan kecemasan karena laki-laki b***t itu terus berusaha untuk melakukan hal yang tak senonoh itu kepadaku. Konsentrasi belajarku selalu hilang jika suaranya sudah mulai memanggilku, dan saat melihat senyum menyeringainya yang mengerikan dan mencekam itu selalu membuat aku merinding serta ketakutan. Hanya kamarlah tempat aku berlindung saat ini, dan itu pun jika ibu terus berada di rumah. Kalau tidak ada ibu, dia akan melakukan hal yang gila dan semakin semena-mena di rumah ini. Pagi ini akan ada ujian lagi, dan aku harus benar-benar konsentrasi kali ini. Dua hari sebelumnya konsentrasiku selalu hilang dan pergi entah ke mana, karena terus memikirkan cara untuk melindungi diriku sendiri. Aku tidak sarapan di rumah tentu saja, karena aku tidak ingin makan semeja dengan laki-laki b***t itu, dan langsung berangkat ke sekolah saja. Aku makan di kantin pagi itu meski perutku agak sedikit sakit karena tadi malam dia juga mencoba untuk melakukan hal yang tak senonoh itu kepadaku. Untungnya sekarang aku selalu ingat untuk mengunci semua akses masuk kamar. Lonceng masuk kelas pun berbunyi dan aku segera memasuki kelas. Apa akhir-akhir ini aku kelihatan murung? Teman-temanku sering sekali bertanya kepadaku tentang apa yang membuat aku murung. Aku selalu menghindari semua pertanyaan teman-temanku dengan mengatakan, “Aku baik-baik saja.” Mereka akan tersenyum kepadaku dan mengatakan, “Jangan murung-murung lagi!” Dan aku selalu menjawab, “Iya, terima kasih.” Dengan senyuman kaku di bibirku. Aku bukan murung atau apa pun, aku hanya tidak ingin kalian terlibat dalam masalah besarku ini, karena aku tahu kalian tidak akan bisa menolongku, dan semua nasihat dari kalian itu tidak berguna untukku karena kalian tidak berada di posisi seperti aku yang sekarang. Karena itulah aku berkesimpulan bahwa aku tidak perlu bercerita apa pun kepada kalian. Ujian dimulai, lembar soal pun dibagi dan hari ini katanya kami boleh melihat catatan untuk menjawab ujian. Aneh sekali, tapi itulah yang sering terjadi di sekolah ini. Nilai adalah segalanya, tanpa nilai kau tak akan naik kelas atau lulus, bahkan jika kau giat sekali pun tanpa nilai yang bagus, kau tetap akan gagal. Yang mengawasi ujian hari ini adalah Guru PKL (Praktek Kerja Lapangan) atau bahasa lebih mudahnya adalah Guru magang. Aku tidak tahu banyak tentangnya, tapi sepertinya dia sangat menjunjung tinggi keadilan. Lihat saja buktinya hari ini, ketika dia mengawas ujian, dia memperbolehkan semua peserta ujian untuk melihat catatan, karena dia menganggap bahwa ujian ini tidak terlalu penting untuk masa depan, yang terpenting katanya adalah kita rajin bersekolah dan mau untuk ujian dan bersedia menjawabnya, mau dapat jawaban atau tidak seharusnya tidak berpengaruh pada nilai, karena sekolah itu bukan hanya sekedar nilai dan ujian tapi juga kedisiplinan dan kemauan. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi semua itu sama sekali bukan urusanku. Aku tidak bisa konsentrasi saat mengerjakan ujian kali ini entah kenapa, aku terus berpikir bagaimana cara supaya laki-laki itu tidak melakukan hal yang tak senonoh lagi padaku. Bagaimana kalau aku hilangkan saja sumbernya? Hah? Aku melenyapkan laki-laki b***t itu? Entah kenapa saat aku memikirkan hal yang demikian itu aku merasa bahwa aku sedang tersenyum saat ini. Tanpa aku sadari, aku mengeluarkan dan membuka buku catatanku sendiri dari dalam tas dan mulai menulis judul dari rencana yang aku buat khusus untuk laki-laki b***t itu, yaitu ‘Dead Perfectly’  bahasa Inggris dan dalam bahasa Indonesia berarti ‘Mati dengan Sempurna’ pertama-tama aku ingin membalaskan satu untuk Nenek terlebih dahulu dan sisanya aku ingin melihat dia mati mengenaskan. Tanpa panjang lebar aku mulai lagi di paragraf selanjutnya setelah judul tadi yaitu; 1. Memasukkan racun tikus ke kopinya. 2. Menusuknya saat tidur. 3. Membuat dia tersengat listrik saat mandi. Ah ... ini cara yang terlalu klasik untuk laki-laki b***t seperti dia. Aku mulai mengerutkan dahi menandakan bahwa aku sangat berpikir keras saat ini, sejurus dengan merobek kertas itu dan membuatnya menjadi gumpalan bola seperti bola salju, aku meletakkannya di bawah meja. Aku tidak yakin jika dia akan mati kalau dia hanya menelan racun tikus, menusuknya saat tidur sepertinya juga cukup berisiko karena dia tidur dengan ibu, dan membuat dia tersengat listrik saat mandi pun juga sepertinya sulit, karena aku belum mengetahui itu efektif atau tidak. Aku pun mulai mengulang menulis lagi dari judul yang masih sama dan rencana membunuh nomor satu kali ini yaitu; Saat dia menjenguk aku dan menampakkan mukanya di jendela kaca, aku akan melempar ke jendela kaca itu vas bunga yang juga terbuat dari kaca, apa itu cukup untuk membalas perbuatannya kepada Nenek? “Lima menit lagi lembar jawaban sudah dikumpul semua,” ucap Guru PKL dengan suara cukup tegas, aku terkejut karena keasikan dengan buku catatan, aku lupa bahwa aku baru mengerjakan 34 dari 55 soal ujian hari ini. Aku pun memasukkan buku catatan yang berisikan rencana itu tadi ke dalam tas, dan kemudian aku menjawab sisa soal ujian tadi dengan perasaan lega karena telah melampiaskan kekesalan yang selama ini ada di pikiranku, dan menulis yang aku ingin lakukan untuk membalas dendam kepada laki-laki b***t yang saat ini masih tinggal di rumahku dan Ibu. Setelah sekian lama akhirnya aku memiliki keinginan lain selain kabur dari rumah dan membuat Ibu mengerti. Karena semua keinginan itu hanya menjadi hal yang tidak mungkin, maka aku yang sekarang telah membulatkan tekad untuk mewujudkan keinginanku yang terbaru yaitu membuat sumber masalah ini lebih menderita dari diriku sendiri dan mati dengan cara paling mengenaskan. Hatiku benar-benar berbunga saat ini entah dia hanya duri dari mawar atau cuma rumput liar tapi sekarang yang terpenting adalah aku telah mempunyai tujuan, setelah selama delapan tahun aku mencari tujuan ini dan akhirnya aku menemukannya hari ini. Laki-laki b***t itu harus segera aku lenyapkan! Dia harus segera menghilang dari muka bumi! “Waktu habis, silakan kumpulkan!” ucap Guru PKL itu tegas, selang beberapa detik Guru PKL itu menyambung ucapannya, “Yang sudah mengumpul lembar jawaban ujian boleh pulang.” Aku langsung menuju Guru PKL itu dan mengumpul lembar jawaban ujian milikku. Beliau tersenyum kepadaku dan aku pun membalas senyuman beliau dengan senyuman kaku yang kupunya, karena semu dan hampa bahkan derita menghalangi aku untuk tersenyum tulus sama seperti senyuman beliau. Aku langsung pulang ke rumah dan seperti biasa bergegas masuk ke kamar lalu mengunci seluruh akses masuk agar aku aman dari perbuatan tidak senonoh iblis yang juga tinggal di rumah ini.   ***   Di sekolah Guru PKL yang tadinya mengawasi ujian segera ingin membersihkan kelas karena semua peserta ujian sudah pulang. Beliau mengambil sapu dan langsung membersihkan kelas sampai di meja ketiga dari depan. Ya, meja Mara. Guru PKL itu sedikit tersenyum melihat selembar kertas yang sudah dibentuk seperti bola salju itu karena beliau berpikir kalau di dalam kertas itu berisi contekan ujian, beliau teringat masa SMA beliau yang juga suka membuat contekan yang sudah dibuat mulai dari rumah untuk dipakai saat ujian di sekolah. Guru PKL itu membuka pelan-pelan kertas itu untuk melihat contekan apa saja yang remaja itu tuliskan di sana, beliau menyandarkan sapu di bahu dan menggunakan kedua belah tangan untuk membuka kertas yang masih berbentuk seperti bola salju itu. Beliau terkejut melihat isi kertas yang berjudul ‘Dead Perfectly’ dan beliau berucap dengan pelan “Kematian yang sempurna?” Beliau membaca isi tulisan Mara yang berisikan rencana k**i untuk membunuh laki-laki b******n itu. Beliau langsung menyimpan kertas itu di kantong baju beliau, dan segera merapikan lembar jawaban ujian dan memasukkan semuanya ke dalam amplop yang sudah disediakan untuk menampung semua lembar jawaban ujian dari seluruh peserta ujian. Beliau berkeringat dingin setelah melihat tulisan Mara yang dengan tidak sengaja dan tidak sempat remaja itu simpan ke dalam tas, karena benar-benar lupa ditambah saat beliau mulai mengatakan lima menit lagi ujian berakhir, Mara benar-benar lupa telah menaruh kertas itu di tempat yang benar-benar tidak aman. “Aku akan menyelidiki siapa pemilik kertas ini,” ucap Ibu PKL pelan kepada dirinya sendiri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN