Serpihan Satu

1278 Kata
Wajah Agus pias, “Dek, Kakak minta tolong. Satu pekan itu terlalu sebentar. Situasi ini tidak akan lama, Dek. Kakak janji. Ya?” “Adek sudah mempersiapkan diri Adek, Kak. Bagaimana pun kondisi keluarga Kakak. Adek siap diperkenalkan sebagai istri Kakak yang kedua. Masalah apa lagi?” tanya Hera. “Kondisi Mama sedang kurang stabil, Dek. Kakak kan, sudah cerita. Mama terus memikirkan kapan Kakak bisa memberikan cucu untuknya dari Vina.” Agus menggenggam erat tangan Hera. Mata Hera lurus menatap Agus yang menatapnya dalam. Hatinya begitu gamang. Kesempatan untuk masuk ke dalam keluarga Agus mulai terbuka di hadapannya. Namun, suaminya itu seakan menghempaskannya kembali ke dalam persembunyiannya yang panjang. “Katakan saja pada Mama, kalau Kakak sudah punya anak dari Adek. Apakah sulit?” Hera menepis tangan Agus kasar. “Dek, please. Situasinya tidak semudah itu. Karena terlalu banyak pikiran, Mama jadi sering drop. Adek tolong pahami Kakak sebentar lagi, ya?” Tatap Agus penuh harap. “Sepekan, Kak. Tidak kurang, tidak lebih. Mungkin, akan lebih baik memang, jika Adek tidak masuk ke keluarga Kakak.” Hera merajuk. “Jangan bilang begitu, Sayang. Baiklah. Maksimal lima hari Kakak akan datang lagi, ya. Tolong jaga Aiman.” Agus mengecup kening Hera sebelum melesat menyusul Vina. Hera menatap punggung Agus yang menjauh, matanya berembun. Pertahanannya goyah. Hatinya berbisik, ini adalah kali terakhir ia akan bertemu dengan suaminya. === "Malam itu, setelah kepergian Bapakmu, Ibu tidak bisa tidur hampir setiap malam. Berharap, bapak datang meski hanya sekedar menemui Ibu. Nyatanya, Bapakmu benar-benar tidak kembali,” ujar Hera mengusap air matanya. Aiman menatap wajah sang ibu yang sendu sepanjang berkisah tentang bapaknya. Aiman merasa gamang. Satu sisi, ia bahagia bisa bertemu dengan ayahnya. Di sisi lain, ia juga merasa bersalah karena telah membuka kembali luka di hati sang ibu. Suara notifikasi handphone, membuyarkan suasana hening di antara keduanya. Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau milik Aiman. Dari Airin. [Kak, Ayah mau minta nomor Kakak. Boleh?] Aiman menatap Hera yang sedang mengusap air matanya, “Bu, apa boleh Bapak minta nomor handphone Aiman?" tanya Aiman ragu. Ia khawatir akan menyakiti hati sang ibu. Hera menghela nafas, "beliau bapakmu, Nak. Ibu tidak lagi berhak melarangmu. Keputusan ada di tangan Aiman. Apakah mau terus menjalin silaturahmi, atau menghindar lagi,” jawab Hera sambil tersenyum hambar. “Aiman sudah memikirkan semuanya, Bu. Biar bagaimanapun, darah Bapak mengalir dalam tubuh Aiman. Aiman tetap tidak akan bisa menghindari itu. Sekarang, kita sama-sama menghadapi ini ya, Bu,” ujar Aiman sambil merangkul Hera. Hera terisak perlahan. Air matanya yang telah mengering setelah perpisahannya dengan Agus, kini kembali basah. Padahal, di malam-malam penantian, ia telah menguras seluruh air matanya hingga benar-benar kering saat ia memutuskan untuk pergi. *** “Ma, makan dong. Kalau Mama ga mau makan, nanti Mama sakit.” Arman, putra pertama Vina, masih berusaha membujuk sang ibu yang belum makan sejak malam kedatangan Aiman dan Hera. Sejak malam itu, Vina terus mengurung diri di kamarnya. Vina hanya terus berbaring sambil memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Airin menatap sang bunda dengan perasaan bersalah. Jika saja, ia tidak meneruskan proses ta'aruf dengan Aiman, semua tidak akan jadi seperti ini. "Dek, sudah jangan melamun. Baiknya kita fokus ke Mama. Biar beliau mau makan.” Arman menepuk pundak Airin pelan, "tapi, sekarang, biarkan Mama istirahat dulu. Tuh, lihat, kayanya Mama ketiduran." Airin menghela nafasnya berat, lalu menoleh ke arah sang bunda. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang begitu besar. Arman merangkul pundaknya hangat. "Kita pindah ke ruang keluarga. Abang mau dengar cerita dari Adek,” ajak Arman sambil menuntun adik sambungnya itu. *** "Hmm, lalu, bagaimana Adek menyikapi ini?" tanya Arman sambil mengusap pundak sang adik perlahan. Kemudian mengusap air mata yang menetes sepanjang Airin bercerita. Perasaan yang sudah tumbuh bahkan sejak sebelum Airin mengajukan ta'aruf, akhirnya harus dipangkas demi menyadari posisi keduanya yang haram menikah. "Ai belum tahu, Bang. Mungkin saat ini, Ai masih harus menata hati. Ai akan berusaha menghindari Kak Aiman saat ini. Ya, meski kami belum ketemu lagi, sih. Kebetulan perkuliahan sedang diliburkan pekan ini,” ujar Airin. Arman mengangguk-angguk. Aiman adalah salah seorang dosen muda yang jadi favorit para mahasiswi di kampusnya. Pun dengan Airin, meski tidak menunjukkan sikap berlebihan, ia tidak menampik perasaan kagum sempat memenuhi hatinya. Karenanya, ia begitu berbunga saat tahu Aiman menjadi salah satu calon yang diajukan murobbiah-nya. "Tapi, Ai tidak tahu bagaimana nanti kalau Ai ketemu kak Aiman di kampus," Airin menghela nafasnya, "Bang. Ai baru ingat. Kak Aiman dosen pembimbing skripsi Ai. Ai harus bagaimana?” tanya Airin panik. Arman tergelak melihat wajah Airin yang tampak begitu frustrasi. "Bagaimana kalau pas ketemu sama Aiman, Adek pakai helm saja?" usul Arman sambil mengacak pucuk kepala sang adik. "Ih, Abang mah..." Bibir Airin mengerucut. Arman tergelak. "Ya sudah, nanti kalau bimbingan, biar Abang antar Adek, ya. Abang juga mau ketemu sama adik baru abang itu,” ujar Arman tersenyum. "Abang jangan menyesal, lho. Pokoknya, Abang kalah keren sama kak Aiman,” ledek Airin. Arman hanya tertawa miris. Sebuah pikiran terlintas di benaknya. *** "Nak Aiman.” Agus berdiri menyambut kedatangan Aiman di restoran tempat yang mereka janjikan. Aiman tersenyum melihat Agus. Tidak menyangka, ia benar-benar bertemu sang ayah setelah ia berusaha meyakinkan dirinya kalau ayahnya memang sudah tiada. Agus menyambut Aiman dengan pelukan hangat. Aiman membalas pelukan sang ayah canggung. Ia lantas mencium punggung tangannya takzim. "Duduk, Nak, duduk. Mau pesan apa? Aiman suka makan apa, Nak?" tanya Agus antusias. Ia merasa ada celah kosong yang harus segera ia isi antara ia dengan putra pertamanya. "Apa saja, Pak. Aiman biasa makan seadanya. Aiman tidak pilih-pilih makanan, kok,” ujar Aiman tersenyum. Agus lalu menunduk. Ada rasa sesal dalam dirinya karna ia terlambat menemui Hera hari itu, kehidupan Hera dengan Aiman pasti sulit. Aiman merasa tidak enak hati kepada sang ayah. Khawatir jika kata-katanya barusan menyinggung perasaan bapaknya. Agus menceritakan kejadian sejak malam terakhir pertemuan dengan Hera. Vina melaporkan pertemuannya dengan Hera hingga Gina, ibunya, jatuh sakit hingga ibunya meninggal dunia. Karena itulah, Agus tidak menemui Hera hingga pekan selanjutnya. “Bapak benar-benar menyesal, Nak. Jika saja Bapak saat itu datang meski sebentar, hanya untuk sekedar menjenguk ibumu, atau menitipkan pesan kepada Bang Jabir, orang kepercayaan Bapak yang tinggal di sebelah rumah ibumu, mungkin ibumu tidak akan meninggalkan Bapak, Nak,” ucap Agus penuh sesal. Aiman menepuk punggung tangan Agus, berusaha menenangkan. “Semua sudah terlanjur, Pak. Sekarang, kita sudah bertemu. Allah menakdirkan kita bertemu lagi. Allah masih sayang nasab kita, Pak. Aiman tidak bisa membayangkan kalau nanti, anak cucu Aiman dan Airin akan bertemu, lalu tidak tahu kalau ternyata mereka mahram, dan menikah,” jawab Aiman lembut. Agus mengangguk mengiyakan. Ia bahagia dengan reaksi Aiman yang menyambutnya dengan hangat. Hera benar-benar mendidik putranya dengan baik. "Emm, Bapak mau bawa kamu ke perusahaan Bapak, Nak. Bapak akan menjadikan Aiman salah satu direktur di sana. Sekaligus memperkenalkan Aiman sebagai putra Bapak. Bagaimana?" Aiman tersentak. Aiman menatap sang ayah. Mencoba menerka apakah sang ayah benar-benar memintanya atau hanya sekedar mengujinya. Namun, ia hanya mendapat senyuman tulus dari lelaki di hadapannya. Ia merasa masih harus banyak mengenal ayahnya terlebih dahulu sebelum ia diperkenalkan kepada kolega sang ayah. "A-Aiman harus diskusikan dengan Ibu dulu, Pak. Terima kasih banyak, Bapak masih mau mengakui Aiman sebagai anak Bapak,” ujarnya tulus. "Tidak seperti itu, Nak. Aiman memang anak Bapak,” sela Agus. Agus menggenggam tangan Aiman erat. Ia ingin berusaha menebus segala kesalahannya karena telah meninggalkan Hera dalam penantian bersama putra kesayangannya. Ia yakin, perjuangan Hera begitu berat membesarkan Aiman tanpa dirinya. "Iya, Pak. Aiman hanya harus terbiasa dengan ini." Aiman tersenyum. Ia merenung, gerangan apa lagi yang akan terjadi di kemudian harinya. “Aiman dosen di kampus Airin, kan?” tanya Agus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN