“Kamu nih bisa duduk yang betul apa tidak, sih?” Wajah Rania berubah cemberut, bahkan sampai melipat kedua tangannya di d**a. Tatapan gadis itu masih tertuju kepada sang ibu yang berdiri di sampingnya. Sejak tadi perdebatan demi perdebatan memang terus terjadi. di rumah mereka hanya berdua, tapi ramainya mirip sekomplek. Ditatap lekat oleh anaknya Ayna menjulurkan lidah. “Mau diam ngga? Kalau nanti potongannya pendek sebelah yang berujung ngga benar, jangan salahin Buna ya?” “Kenapa? Adik diam, Buna.” Tangan Ayna mengusap wajahnya. Sudah tahu kesabarannya sangat tipis, tetapi dia dikaruniai anak yang senang menguji kesabaran. Andai kata kurang sabar, mungkin sejak tadi tangannya sudah mencubit. Ayna menarik kedua lengan Rania, membetulkan posisi duduknya agar menghadap dirinya. Siang i

