Skors

1927 Kata
"Git ayo buruan!" Teriak Nesya dari luar kelas. "Lo duluan aja, gue mau cari buku gue." Gita ikut berteriak dan sibuk mencari buku yang ia maksud. Nesya dan Arana pun memutuskan untuk menunggu Gita di parkiran, sedangkan Gita masi sibuk mencari bukunya dikelas yang kosong. Brukk... Tiba-tiba seseorang membuka pintu kelas dengan kasar membuat Gita tersentak kaget. "Lo! Mau ngapain lo!" Sinis Gita melihat dua gadis di hadapanya. Caramel dan Melisa berjalan mendekati Gita, "lo kan yang tadi ngatain gue babu guru," ucap Melisa mengangkat dagu Gita. Gita berdecak kesal dan menepis tangan Melisa, "Dasar muka dua, ga cukup satu ya mba, skin care mahal loh kasian duitnya," sinis Gita. Plakk.. Melisa menampar pipi Gita membuat Gita tertegun sesaat dan memegang pipinya yang ditampar, Gita menatap Melisa tajam dan hendak membalas tamparan Melisa, namun tangannya dicekal Caramel dan pergerakannya pun dikunci gadis itu. "MAU LO APASI!" Kesal Gita. Melisa tersenyum sinis dan menjambak rambut Gita, "Makanya kalau ngomong itu di filter dulu." "Setidaknya gue lebih baik dari pada muna kayak lo." Plakk... Plakkk... Melisa menampar Gita berulang kali membuat pipi gadis itu memerah bekas tamparannya, "s****n lo!" Maki Gita. "Terus lo mau apa? Gabakal ada yang bantuin lo!" Melisa memberi Caramel kode, dan Cramel dengan segera membuka beberapa kancing baju Gita, Gita ingin berontak namun pergerakannya ditahan. Melisa dengan siap mengeluarkan ponselnya dan merekam keadaan Gita yang sangat mengenaskan dengan kancing baju yang hampir terbuka sepenuhnya, setelah puas Melisa menyuruh Caramel melepaskan Gita. Gita terisak dan hendak merampas ponsel Melisa namun gadis itu dengan cekatan menjauhkan ponselnya dari Gita. Bruukk... Tiba-tiba pintu terbuka keras membuat Melisa dan Caramel tersentak kaget. "Ck! Mainya keroyokan!" Umpat gadis yang baru saja mendobrak pintu kelas itu. Arana berjalan mendekat dan tersenyum tipis, "lo apain temen gue?" Tanya Arana. "Gue cuma ngasi pelajaran buat temen lo." Arana kembali berdecak dan tersenyum sinis, Arana dengan segera merampas ponsel Melisa dan membantingnya kelantai dan menginjak nya hingga tak berbentuk. Melisa yang kaget hendak mengambil ponselnya namun Arana ikut menginjak tangan Melisa, "itu balasan buat tangan kotor lo yang nampar temen gue." "Aarghh! Lepasin tangan gue," ringis Melisa kesakitan. Caramel yang hendak membantu Melisa naasnya tangannya ikut dipelintir Arana, "ini balasan buat lo!" Setelah puas Arana melepaskan kedua gadis itu, Arana berjongkok dihadapan Melisa dan mengangkat dagu gadis itu. Plaakkk.... Arana menampar pipi Melisa, Arana kembali tersenyum sinis. "ARANAA!" teriak seorang guru yang suaranya amat dikenali Arana. Arana berdecak kesal dan membalikan tubuhnya, "ya?" Jawab gadis itu dengan santainya. "Ikut saya keruang bk!" Bentak bu Susi. Arana menaikan satu alisnya, "salah saya apa?" "Dasar anak jaman sekarang, tidak pernah diajarkan sopan santun, sekarang keruangan saya dan kalian juga," tunjuk bu Susi kepada Gita, Caramel dan Melisa. "Ok," balas Arana dengan santainya dan melangkahkan kakinya mengikuti bu Susi, namun sebelumnya ia membantu Gita merapikan penampilanya. Sesampainya diruang Bk keempat gadis itu duduk menghadap bu Susi, "Arana! Sudah berapa kali kamu membuat ulah!" Geram bu Susi. Arana menaikkan satu alisnya dengan wajah datarnya, "ga ngitung, ga guna soalnya." "Tapi bukan Arana yang salah, mereka duluan yang membully saya," sela Gita menunjuk Melisa dan Caramel. "Kamu jangan mengada-ngada, mana mungkin murid teladan seperti Melisa dan Caramel membully kamu, yang ada kamu dan Arana yang membully mereka!" Bentak bu Susi. "Tap—" ucapan Gita terhenti ketika Arana memegang tangannya. "Terus mau ibu apa?" Tanya Arana santai. "Saya benar-benar tidak mengerti dengan kamu yang tidak pernah diajarkan sopan santun, kamu saya skors!" Arana menaikkan satu alisnya lalu manggut-manggut mengerti, "oke, dan juga soal sopan santun, saya kesekolah buat belajar karena dirumah saya tidak pernah diajarkan, tapi sepertinya saya salah memilih sekolah," sinis Arana dan berlalu begitu saja. Gita cengo menatap punggung Arana, "terus mereka berdua gadihukum bu?" Kesal Gita. "Jelas tidak karena mereka tidak bersalah, seharusnya kamu menanyakan hukuman untuk mu, besok bersihkan toilet!" "Lah buk gaadil banget," protes Gita. "Jangan membantah atau saya tambahkan lagi." Gita berdecak kesal dan menghentakkan kakinya, setelah itu Gita berjalan meninggalkan ruang Bk menyusul Arana. "Yasudah, kalian hati-hati ya," ucap bu Susi begitu manisnya kepada Melisa dan Caramel. *** Sekarang Valdo dan keempat temanya telah berkumpul untuk menjalankan misinya, sesuai permintaan Anje, mereka mengenakan hoodie yang diberikan cowok itu. Valdo melirik jam nya jam masi menunjukan pukul 22.30, "sekarang!" Perintah Valdo. Keempat cowok lainya pun ikut bergegas dan berjalan menuju taman yang tak jauh dari sekolah mereka. Kelima cowok itu bersembunyi dibalik semak-semak melihat bu Susi yang sedang menunggu seseorang dengan gelisah. "Siapa sih?" Kepo Anje. "Shhtt! Jan berisik lo!" Bisik Wanda. Tiba-tiba beberapa orang berjas datang menghampiri bu Susi namun sialnya wajah mereka ditutupi masker. "Gimana nih?" Bisik Andara. "Gamungkin sekarang, mereka banyak dan bawa bodyguard bersenjata, kita pasti kalah," ucap Zean. "Terus gimana?" Tanya Andara. "Kita butuh orang yang nguasain s*****a," ucap Zean. "Siapa?" Tanya Anje. "Arana," ucap Zean membuat Anje, Wanda dan Andara mengernyitkan dahinya. "Arana?" Beo Anje. Valdo tampak berfikir beberapa waktu dan tanpa sepatah kata ia keluar dari persembunyian membuat Anje melongo. "g****k!" Umpat Wanda. Kehadiran Valdo menarik perhatian bu Susi dan juga sosok berjas beserta para Bodyguard nya. Valdo dengan segera menyerang Bodyguard yang berjumlah enam orang itu dengan tangan kosong. Valdo melakukan tendangan melingkar dan tendangan pertama tepat mengenai kepada salah satu bodyguard, bodyguard yang lainya ikut maju dan menyerang Valdo. Bughhhh.. Bughhhh... Bughhhh.... Terjadilah perkelahian tak seimbang dengan enam lawan satu, Zean berdecak kesal dan keluar dari persembunyian untuk membantu Valdo dan diikuti Wanda, Anje dan Andara. Bughhh.. bughhh.. bughh.. Kelima cowok itu terus menyerang namun tetap saja mereka kalah jumlah, hingga akhirnya salah satu bodyguard mengeluarkan pistol dan mengarahkanya ke Valdo. Dorrr... Suara tembakan menggema dan Valdo tersungkur ke rumput, untungnya Andara dengan cepat mendorong tubuh Valdo hingga tak ada yang terluka. "Cabut!" Perintah Zean. Kelima cowok itu pun berlari menghindari enam bodyguard yang terus mengejar mereka. *** Bughhh... "PUAS LO? PUAS BIKIN RENCANA GAGAL?!" maki Anje setelah memukul wajah Valdo. "KEMANA OTAK PINTAR LO? LO JUAL?!" "HARUSNYA LO BISA MIKIR, JUMLAH MEREKA GA SEBANDING SAMA KITA DAN MEREKA BAWA s*****a t***l!" Andara sedari tadi berusaha menenangkan Anje dan membawa cowok itu menjauh dari Valdo yang sedari tadi hanya menampilkan raut datarnya. "Lo gini karena Arana?" Tanya Zean buka suara. Valdo masi diam tak berkutik dengan wajah datar menyebalkanya. "Lo gaboleh egois, disini kita butuh Arana," ucap Zean. "Kenapa dia? Dia cewek dan gue cowok, kalau gue bisa kenapa engga?" Ucap Valdo akhirnya buka suara. Wanda yang sedari tadi diam akhirnya bangkit dan sedikit menendang kursi yang tadi ia duduki, "bisa kata lo? Sadar anjing itu wajah lo udah gaada bentuk! Dan gara lo juga kita-kita ikutan bonyok anjing!" Kesal Wanda. Zean menepuk bahu Valdo, "ke sampingin ego lo, gue sama yang lain pulang dulu," pamit Zean dan mengajak Wanda pergi bersamanya sedangkan Valdo mengusap wajahnya gusar dan menendang salah satu kursi hingga terbanting ke tembok Dilain tempat Arana mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang menusuk matanya, gadis itu menguap beberapa kali melihat jam yang menunjukan pukul 7. Gadis itu segera berlari ke kamar mandi dan menyiapkan seragamnya, namun setelah selesai ia teringat akan sesuatu. "g****k!" Maki gadis itu sembari memukul kepalanya. Namun ia tetap berjalan keluar kamar tanpa mengganti seragamnya, ia melihat rumahnya yang hanya dipenuhi pelayan dan penjaga yang berlalu lalang, hingga ia bertemu dengan Bara, papanya yang sudah rapi dengan stelan kantornya. "Arana!" Panggil Bara ketika gadis itu hendak berjalan menuju pintu utama. Arana membalikan tubuhnya dan menaikan satu alisnya, "ya?" "Saya dengar nilai kamu tidak ada peningkatan, jangan membuat saya malu! Selama ini saya tidak pernah membatasi apa pun yang ingin kamu lakukan, jangan sampai saya membatasi kamu Arana." Arana menaikkan satu alisnya, "membatasi?  Tanpa sadar papa selama ini ngekang Arana, papa selalu mata-matain Arana, papa selalu tahu Arana sedang apa dan bersama siapa, itu disebut apa?" Tanya gadis itu dan tersenyum sinis. "Tap—" "Udah pa, kalo papa emang mau Arana nurut sama papa, tolong berhenti mata-matain Arana, Arana juga butuh privasi," ucap gadis itu lalu membalikan tubuhnya dan berlalu begitu saja. Gadis itu memasuki mobilnya dan mengendarai nya tanpa arah dan tujuan dengan seragam sekolah yang ia kenakan, ia terpaksa harus keluar rumah dengan seragam walau ia di skors, karena sangat tidak mungkin untuk mengatakan kepada papa nya bahwa ia di skors. Hingga mobil Arana berhenti di suatu tempat, gadis itu segera keluar mobil dan mengedarkan pandangnya, sebuah taman yang tidak terlalu ramai dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah. Kedua sudut bibir gadis itu tertarik, Arana tersenyum lebar dan menyusuri taman itu, entah kenapa kehangatan menyelimutinya ketika ia menginjakan kaki di taman itu. Langkah Arana terhenti pada sebuah danau yang tenang, gadis itu memejamkan matanya sesaat merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. "Disini kita bisa ngerasain ketenangan," ucap seseorang membuat Arana membuka matanya dan menoleh ke samping, Arana menatap bingung wanita yang sekiranya berumur 40 tahun disebelahnya. Wanita itu tersenyum hangat kepada Arana, "kenapa ada disini?" Tanya wanita itu sedikit melirik seragam yang dikenakan Arana. Arana menggaruk tengkuknya bingung ingin menjawab apa, "di skors," jawab gadis itu ragu. Wanita itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti masi dengan senyum yang tercetak di wajah cantiknya yang terlihat awet muda, wanita itu kembali menatap hamparan air tenang yang ada di hadapanya. "Kesedihan dan ketenangan, pasangan yang cocok kan?" Tanya Lea kembali menoleh kearah Arana, ya, wanita itu adalah Lea, Aleanka Xone Devandra. Arana mengangguk ragu, "tante kenapa disini?" Tanya gadis itu. "Kenangan, seburuk atau semanis apa pun kenangan itu suatu saat kamu pasti tersenyum ketika mengingatnya." "Kenangan apa?" Tanya Arana penasaran. Lea melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, "saya harus pergi, lain kali kita lanjutkan," ucap Lea tersenyum hangat dan melangkahkan kakinya meninggalkan Arana yang menatap punggungnya yang semakin menjauh. Arana memegang dadanya, entahlah ada sebuah rasa yang menyelimutinya, ketenangan, kenyamanan dan kehangatan, rasa yang tak pernah di dapatkannya. Gadis itu memutuskan untuk duduk dipinggir danau sembari memikirkan perkataan wanita yang tadi menghampirinya, kesedihan, ketenangan, dan kenangan, tiga kata itu terus berputar diotak Arana. Dilain tempat Valdo dan keempat temanya sedari tadi mengedarkan pandanganya melihat sekeliling kantin mencari seseorang, namun mereka tak kunjung menemukan orang yang mereka cari. Hingga Wanda melihat Gita dan Nesya memasuki kantin, "WOI ONDEL-ONDEL!" teriak Wanda membuat beberapa penghuni kantin menoleh kearah pintu kantin. Gita yang baru memasuki kantin berdecak kesal, dan menatap Wanda kesal, Gita menarik tangan Nesya menuju pojok kantin. "Apa lo!"  Wanda tersenyum, "sadar diri juga ya kalau lo ondel-ondel." Gita terdiam berusaha meresapi ucapan Wanda barusan sedangkan Nesya yang berdiri disebelahnya seberusaha mungkin menahan tawanya. Gita dengan muka merah padam membalikkan tubuhnya dan hendak pergi namun wanda mencekal pergelangan tangannya. "Main kabur aja lo, Arana mana?" Tanya Wanda membuat raut Gita kembali berubah. "Ngapain lo nanyain Arana?" "Ada perlu, Arana kemana? Kok ga keliatan." "Arana di skors," jawab Gita. "Ooh, pantes," ucap Anje yang duduk disebelah wanda. Gita mengernyitkan dahinya heran bercampur penasaran, ada apakah hingga geng Respect mencari Arana? Gita hanya takut jika temanya itu membuat ulah. "Yaudah lo boleh pergi," usir Wanda dan melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Gita. "Enak banget lo udah nahan gue terus ngusir gue seenak jidat, mumpung kantin penuh gue sama Nesya numpang disini," ucap Gita dan mengajak Nesya untuk duduk bergabung dengan geng Respect. Nesya memilih duduk dihadapan Zean dan tersenyum manis, "hai!" Sapa gadis itu yang dibalas Zean dengan mengangkat satu alisnya dan menatap gadis itu heran. Andara yang duduk disebelah Zean menyenggol bahu cowok itu, "dingin amat lo sama cewek." Zean kembali menoleh kearah Nesya, "hai," sapa Zean balik membuat Nesya mematung dengan detak jantung yang terus berpacu. Kalau ini mimpi gue rela gabangun, batin Nesya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN