25. Motif

1177 Kata
Setelah aku selesai mandi kulihat Febi sudah tidak ada di tempat semula akhirnya aku coba cari ke bawa, dan benar saja Febi ada di sana sudah siap sarapan bersama mama dan papa. "Lha, udah mandi kamu Feb?" tanyaku. "Udahlah, biasalahlah mandi bebek," katanya sambil cengengesan. Aku kemudian ikut duduk untuk sarapan. "Papa anter lagi ya hari ini," kata papa. "Nambah satu nih Pa anak kita hari ini," canda mama, mataku langsung mengarah ke Febi yang sedang nyengir kuda. "Asyik nasi goreng," kataku kegirangan melihat sarapan nasi goreng pagi ini. Dalam diam kami makan, jujur aku masih memirkan kejadian beberapa hari ini yang semakin memusingkan kepala, rasa penasaranku sudah benar-benar ada di puncak. "Pa, soal yang kemarin ...." "Iya, udah Papa laporkan dan nanti akan diselidiki bareng Ayah Febi. Katanya sih penjaga CCTV di rumah Febi yang lapor," kata papa memotong ucapanku. "Wah, garcep dan tanggap ya si Om botak," komentarku menanggapi. "Baguslah jadi aku gak suah capek-capek lapor Ayah lagi," sahut Febi sambil mendaratkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Setelah itu kami bersiap untuk pergi ke sekolah terlebih dahulu, dan dilanjutkan dengan papa mengantar mama seperti biasa dan kemudian papa pergi ke kantornya. Aku belum tau pasti di mana alamat kantor papa karena belum sempat bicara soal itu. Sudah banyak anak-anak lain yang turun dari mobil, ojek, atau angkot di halte dekat sekolah sebelum ke gerbang. Kami ikut masuk ke dalam setelah berpamitan, di dalam sekolah lebih ramai terlihat lagi. Apalagi saat kami menuju mading yang sudah penuh oleh desak-desakan untuk melihat nomor mereka apakah lolos ke sekolah ini atau tidak. "Ke kantin dulu aja yuk, males liat banyak orang gini umpek," kata Febi. "Lebih baik kita keliling sekolah aja dulu, daripada ke kantin lagian aku masih kenyang nih karena tadi sarapan," usulku. "Ide bagus." Akhirnya kami sepakat berkeliling di sekolah ini, banyak kelas yang masih ditutup dan ada beberapa orang menggunakan seragam dengan logo sekolah itu menandakan mungkin mereka kakak kelas di sekolah ini. Ada juga yang menyebarkan selebaran tentang ekskul mereka, dan saat kuperhatiakan ada Kak Gilang dan Irfan juga. Kebanyakan yang antri untuk mengambil selebaran mereka adalah kaum hawa. "Eh, itu kan Kakak kelas yang kemarin di kantin." Tunjuk Febi. Aku menurunkan tangannya. "Jangan nunjuk-nunjuk malu tau," omelku. Aku menarik tangan Febi ke tempat lainnya, setelah cukup lelah berkeliling kami duduk di salah satu taman yang ada di depan koridor jajaran kelas. Febi memgambil bekal air minum yang dia bawa begitu juga dengan aku, dan minum secara bersamaan. Tidak lupa pula dia mengeluarkan camilan miliknya yang selalu banyak dia bawa, dan berbagi denganku. "Yuk, liat mading lagi siapa tau udah sepi," kataku. Febi mengangguk dan kami menuju ke tempat semula, sesampainya di sana masih ramai tapi tidak seramai tadi. Kami melihat nomor kami dan ya kami bersorak senang karena berhasil lolos. "Ye, akhirnya. Semoga kita sekelas ya," kata Febi berharap. Aku mengangguk, ikut senang kami berpelukan. Setelah itu ponsel kami berdering bersamaan dan di sana ada sebuah pesan. 'Senangnya yang lolos masuk sekolah impian.' Dari nomor tidak dikenal pesan itu berasal, aku langsung melihat sekitar mencari orang yang sekiranya mencurigakan tapi tidak ada sama sekali. Ponselku berdering lagi dan memperlihatkan wajah kami berdua seperti sedang berswafoto, bagaimana ini mungkin aku juga bingung. "Kok bisa dia ambil gambar kayak kita lagi selfi gini?" tanya Febi heran. Bulu kudukku seketika meremang, karena merinding melihat itu. "Kayaknya memang harus ditangkap orangnya baru jerah deh, Feb," sahutku. "Iya, pokoknya habis ini aku akan telepon Ayah dan bilang secepatnya tangkep orang itu. Bakal aku kirmkan juga buktinya, kirimkan itu ke aku Gen biar aku kasih tau Ayah." Aku mengangguk segera kutangkap layar untuk bukti dan kukirimkan ke Febi. "Yaudah yuk, kita minta jemput mobilku habis itu nongrong dulu kita. Lupakan sejenak masalah." "Boleh, ayo," kataku setuju dengan usul Febi "tapi sebentar aku foto dulu nomor kita buat bukti kalau memang kita lolos." Aku kemudian mengambil foto nomor kami yang terpampang di mading. Setelah itu Febi menelepon supirnya dan kami menunggu di halte dekat gerbang sekolah. Kami harus menunggu beberapa menit, selain kami juga ada beberapa anak yang menunggu di halte dan sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Banyak juga yang sudah pulang dari sekolah ini atau yang baru datang. Tidak lama aku merasakan ponselku yang ada di saku celana bergetar, segera kuambil ponsel itu. "Febi." Aku menyikut Febi yang sedang asyik menghitung banyak kereta atau mobil yang lewat. Febi melihat ke arahku, aku menunjukkan foto kami yang dikirimkan nomor yang tadi kali ini foto saat kami ada di halte bus. "Udahlah gak usah dipusingkan lagi Gen, capek aku tuh," komentarnya, "nah, itu jemputannya, ayok Gen." Febi langsung menarik tanganku, ucapannya yang lumayan kencang itu menarik perhatian beberapa pasang mata melihat ke arah kami. "Bentar, ya aku cari dulu kira-kira kafe mana yang oke buat jadi tongkrongan." Febi mulai sibuk dengan ponselnya. Aku memilih untuk melihat jalanan yang padat seperti biasanya. "Gimana kalau kafe ini?" tanya Febi sambil menunjukkan salah satu kafe yang terbilang cukup estetik. "Boleh," jawabku. Febi mengangguk, setelahnya memberitahukan nama jalannya kepada pak supir yang ada di depan. *** "Akhirnya sampai juga." Febi merenggangkan seluruh badannya. Kami segera masuk ke dalam, lonceng kecil yang menggantung di pintu berbunyi saat kami membuka pintunya dan menutupnya kembali. Kami disambut dengan nuansa biru dan putih yang estetik dengan banyak hiasan dinding yang ala anak sosmed banget. Kami memilih duduk di pojokan kafe dekat dengan rak buku, tidak terlalu ramai pengunjung di sini. Aku melihat bagian rak buku dan memilih salah satu buku yang judulnya menarik perhatian. Menjelang siang kafe ini semakin ramai saja, kami bisa menikmati suasana kafe yang sepi mau pun ramai dengan Febi yang selalu saja sibuk berswafoto. "Eh, Feb liat ke luar kafe yuk itu kayaknya ada kebunnya gitu deh." Aku menunjuk ke salah satu pintu yang terbuat dari kaca sehingga bagian luar yang penuh dengan warna hijau tanaman terlihat. Banyak juga yang duduk santai di sana. Kami melihat-lihat sekitar sambil membawa minuman dan makanan kami yang belum habis, sebelum ke sana aku meletakkan kembali buku ke rak dan posisinya semula. Rasanya mata ini segar karena melihat banyak tanaman hijau begitu juga dengan rumput yang tumbuh subur tapi rapi ditata. Beberapa kursi dan meja berwarna putih tersedia di sana ada juga gazebo yang terletak di agak ke sudut. Kami memilih kursi dan meja yang atasnya mempunyai atap berupa tanaman rambat yang menjalar. "Wah, hijau bikin mata fresh," pujiku sambil meminum kopi manis yang ada di hadapanku juga memakan kue yang aku pesan. "Iya, bener." Febi menyandarkan tubuhnya sambil melihat sekitar. Tidak lama dia bermain ponsel kembali. "Iya, halo. Iya, Yah kenapa?" Mendengar hal itu aku menajamkan indra pendengaran sambil meletakkan perlahan cangkir kopi yang tinggal setengah. "Oke, iya kami ke sana sekarang." Febi melihat ke arahku setelah memasukkan ponselnya ke saku baju. "Kenapa?" tanyaku. "Pelakunya udah ketangkep, kita ke sana sekarang yuk mau denger langsung dan mau tau siapa pelakunya dan apa motifnya," jelas Febi panjang lebar. Akhirnya rasa penasaran kami bisa terbalaskan, aku mengangguk. Dengan cepat kami membayar dan masuk ke dalam mobil yang masih terparkir rapi di parkiran kafe itu. Catatan: • Berswafoto = Selfie
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN