Hasna masih bergelung dalam selimutnya. Keadaan wanita itu sedang tidak baik. Dua hari yang lalu dia nekat menembus hujan menggunakan sepeda motor, tanpa mengenakan mantel. Hasilnya, sesampai di rumah Indah mencak-mencak. Hasna tak membantah perkataan ibunya. Pikirannya sedang kalut memikirkan permintaan Mama Kenan. Harusnya dia tak memedulikan, tetapi nuraninya tak bisa bertindak sekejam itu. Apalagi Mama Kenan baru pulih, bisa saja kambuh kembali bila mendengar kebenaran itu. "Ibu sudah bilang, kalau hujan mending tunggu sampe berhenti." Indah menempelkan kompresan ke dahi putrinya. "Kelamaan, Bu. Hujan enggak bakalan berhenti juga." Hasna meraih tisu lalu mengeluarkan ingus yang menyumbat hidungnya. "Kamu dibilangin. Tau dari mana hujan enggak bakal berhenti?" "Ya, nebak aja." Ind

