Vero berjalan tidak tentu arah, ia benar-benar merasa sangat kacau. Bukankah seharusnya Vero merasa senang jika Alena tidak menyalahkan dirinya? Tapi kenapa ia merasa tidak senang sama sekali. Vero malah merasakan sakit, tapi sayangkan ia tidak tahu dimana asal nya rasa sakit itu. Langkahnya sampai ke taman rumah sakit, padahal Vero tidak memiliki tujuan kemana langkahnya akan pergi. Di taman ini dilengkapi fasilitas kursi dan beberapa mainan anak-anak seperti ayunan dan perosotan. Vero duduk di kursi kosong, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa jadi begini?" lirih Vero frustasi. Ia lebih suka jika Alena marah dan memaki-maki dirinya. Tapi Alena tidak melakukan itu, ia masih bisa tersenyum dihadapan Vero. "Marah dan Maki gue Alena!!!" teriak Vero cukup keras. Ia langsung menj

