“Ada apa?” tanya Vero berusaha untuk mengendalikan pernafasan. Jangan sampai Bagas melihat betapa lemah dirinya. Dia pikir Bagas hanya akan berbicara melalui kaca jendela mobil, sayangnya tidak demikian. Bagas membuka pintu sebelah kanan dan masuk ke dalam. Vero benar-benar kaget, dia membuang wajah ke samping sehingga Bagas tidak bisa melihat wajahnya. “Lo kenapa?” Bagas sangat mengenal Vero dengan sangat baik. Jika Vero tidak berani menatap, maka pasti ada yang salah. “Gue nggak apa-apa.” Vero berharap Bagas segera meninggalkan dirinya sendiri. Dia menjawab dengan suara datar seperti biasanya. “Lo nggak bisa bohong sama gue.” Bagas membenci sifat Vero yang terbiasa menyembunyikan sesuatu. Bahkan saat Vero sudah tahu ada hal yang aneh dan tidak beres tapi dia malah mencari tahu sendir

