Olivia membuka matanya dan melihat Jayden yang menatapnya seraya memberikan senyum.
"Selamat, pagi." Jayden kinu telah memakai baju putih polos dan celana kain santai sampai lutut.
Olivia tetergun dan tersipu malu. "Pa-pagi," jawabnya gugup.
"Apa tidurmu lelap?"
"Y-ya. Kau?"
Jayden terkekeh melihat kegugupan yang ketara di suara gadis yang masih berbaring itu. "Tentu saja, aku bahkan, tidak pernah selelap semalam."
Olivia mendudukan tubuhnya. Ia menutupi tubuh polosnya dengan selimut. "Lalu kenapa kau bangun duluan?"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau kau sangat lelap dalam tidurmu. Harusnya kau tidur lebih lama," kata Olivia.
Jayden tersenyum manis. "Aku sudah terbiasa bangun pagi, Sayang, dan kau tau, aku adalah tipe orang pekerja keras!" imbuhnya. Lelaki berbibir plum itu menekankan kalimat pekerja keras, sehingga membuat Olivia mendengkus geli.
"Memangnya aku perduli," ucapnya tak acuh.
Jayden tergelak kecil ketika mendapatkan balasan seperti itu. Ia mengecup singkat bibir Olivia. "Mulutmu sepertinya mintaku lumat, ya." Jayden menyeringai untuk menggoda Olivia. "Ya sudah pakai bajumu dan temani aku breakfast."
"Tugasku telah selesai, Tuan, dan menemanimu sarapan, itu sudah di luar perjanjian."
Jayden berdecak. "Hey! Kau ini selain agresif ternyata juga perhitungan, ya?" Lelaki itu kemudian mengangguk kecil. "Baiklah aku akan membayarmu karena menemaniku sarapan, hm."
"Bukan begitu. Aku tidak mau mami kuatir. Nanti dia kira kau menculikku," urai Olivia.
"Aku dan mami itu sudah berteman sejak kecil," ucap Jayden terdengar Yakin. "Jadi kami sudah saling mempercayai satu sama lain."
Olivia membelalakan matanya. Marry pernah bilang kalau umurnya sudah enam puluh tahun dan Jayden, wajahnya terlalu muda untuk orang dengan umur setua itu.
"Tapi kata mami kau masih muda dan belum memiliki istri?"
"Dan kau percaya?"
"Pada siapa?" Olivia terlihat serius.
"Padaku." Jayden tergelak kecil.
Merasa dipermainkan, Olivia lantas melemparkan bantal tepat ke wajah Jayden. "Menyebalkan!" semburnya. Hal itu hanya membuat lelaki dengan iris coklat muda itu terkekeh.
Jayden mendesah. "Kau ini ternyata, polos, ya? " ujarnya. "Ya sudah cepat ganti bajumu!"
"Ta-tapi, masa aku harus memakai dress anak SD, lalu makan bersamamu di restoran hotel."
"Mau pakai apalagi. Daripada kamu telanjang."
Pipi Olivia merona merah. "Bu-bukan begitu. Maksudku, tidak bisakah kau memesan layanan kamar?"
Jayden tersenyum. Ia mengambil HP-nya di atas meja dan menelfon sang supir. "Hallo, belikan aku t-shirt wanita dan jogger pants di mall!"
"Ukurannya, Pak?"
Jayden menoleh pada Olivia. "Berapa ukuran baju dan celanamu?"
"Xl dan celana ku L," jawab Olivia.
Jayden mendengkus sebal. Ia tau ukuran tubuh Olivia yang sebenarnya. "T-shirt dan jogger-nya L" ujarnya. "Lebih dari dua puluh menit, kau kupecat," tukasnya mengakhiri sambungan telepon.
"Hey, bukankah aku bilang kalau ukuran bajuku Xl." Olivia mengajukan protes ketika Jayden menengok padanya.
"Ukuran tubuhmu M dan L saja besar untukmu apalagi, Xl," tukas Jayden.
Olivia menatap Jayden kesal. "Lalu kenapa kau bertanya?"
"Itu karena aku pikir kalau kau tidak menyebalkan."
"Tapi aku suka memakai size yang lebih besar," kata Olivia.
"Tapi L juga besar bukan?" Sanggahan yang diterimanya, membuat Olivia diam. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.
Tidak lama bel kamar hotel mereka di tekan. Jayden membuka pintu kamar hotel. Itu adalah Supir Jayden. Setelah memberikan pesanan sang Bos, lelaki itu lantas pergi.
Setelah supirnya pergi, Jayden menutup pintu, kemudian memberikan paper bag berisi pakaian kepada Olivia.
"Apa supirmu itu The flash?"
Jayden terkekeh mendengar penuturan gadisnya. "Mall-nya ada disebelah hotel kita, Sayang."
Olivia segera melilitkan tubuh polosnya dengan bad cover. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju jendela. Ia memastikan apakah penuturan Jayden benar.
"Sejak kapan dia ada disana?" "Dia" yang dimaksud Olivia adalah mall.
"Dia disana, sejak sepuluh tahun yang lalu," kekehnya. "Ya sudah, aku akan menunggumu di luar." Jayden pergi keluar untuk menunggu Olivia, mengganti baju.
***
Di restoran hotel, Jayden memesan dua pancake pisang dan dua s**u kepada seorang pelayan wanita.
Setelah karyawan restoran hotel tersebut pergi, Olivia mengangkat suara. "Kau tidak bertanya apa pesananku?" protesnya.
Jayden mengerjapkan matanya. "Apa kau tidak suka makan pancake?"
"Suka, sih, tapi aku mau makan bubur." Olivia memiringkan mulutnya, murung.
"Maaf, Oliv," sesalnya, "apa mau ku pesankan lagi?"
"Sudahlah, tidak apa-apa," jawabnya pelan. "Tapi setelah ini usahakan bertanya, apa keinginan teman makanmu, ya!" Olivia memberikan nasihatnya.
Jayden tersenyum. "Siap, Nyonya," kelakarnya.
"Hey, umurku masih dua puluh dua tahun. Paham!" Nyonya terasa sangat tua untuknya.
"Oh, ya, kupikir kau sudah tiga puluh tahun," canda Jayden.
"Dasar sialan!" Keduanya tertawa kecil.
Setelah pesanan mereka datang, Jayden dan Olivia, memakan hidangan mereka. Si gadis memulai pembicaraan.
"Tuan, umurmu berapa?" tanya Olivia setelah menelan potongan pan cake.
"Tiga puluh tahun, kenapa?"
"Kenapa kau belum menikah?"
"Banyak orang yang belum menikah, padahal umurnya jauh di atasku, lalu menurutmu itu kenapa?" tanya Jayden tanpa melihat Olivia. Ia sibuk memotong pancake, kemudian memakan bagian tersebut.
"Ya pasti mereka memiliki alasannya sendiri," kata Olivia, "lalu apa alasanmu?"
Jayden menatap wanita yang kini menyuap potongan pancake di mulutnya. Ia menopang kepalanya dengan kedua punggung telapak tangan yang ia jadikan satu.
"Mungkin karena aku belum bertemu, denganmu," jawabnya penuh arti.
Setelah menelan potongan pancake, Olivia meneguk susunya. "Kenapa karena belum bertemu denganku? Memang ada hubungannya, ya?"
Jayden berdehem. Ia ingin memberi Olivia kejutan nanti. "Sudahlah. Lagi pula bulan depan aku akan menikah," imbuhnya.
Olivia mengangguk kecil. Pikirnya, Jayden dan Vincent sama. Sudah memiliki tunangan. Namun, masih suka bermain dengan Jalang. "Oh, Tuan sudah memiliki calon istri rupanya."
Jayden menatap Olivia intens, kemudian tersenyum. "Kau tau, calon istriku itu sangat menggairahkan. Bahkan dengan baju kebesaran, dia masih dapat membuatku bernafsu."
Olivia mendengkus. "Apa setelah menikah, Tuan akan menggaulinya setiap hari?" tanyanya sakartis.
"Tentu saja. Apa kau pikir aku akan melewatkannya sehari saja?" Kemudian Jayden mendesis. "Mungkin dia tidak akan sempat menggunakan baju." Lelaki itu tersenyum lebar.
Olivia berdecak, lelaki di depannya sangatlah hyper. "Aku jadi prihatin dengan calon istrimu itu," katanya. Jayden terkekeh kecil. "Tapi asal calon istrimu sanggup, why not," lanjut gadis itu santai.
***
Vincent menghampiri Cristian Bell yang duduk sendiri sambil membaca buku pelajaran. Bocah teladan, kekeh lelaki tampan berhidung mancung itu dalam hati. Ia menghampiri calon adik iparnya itu.
"Kau sendirian saja, Cris?" Cristian berpaling dari bukunya. Ia tersenyum saat melihat Vincent. Lelaki berkulit putih itu menutup bukunya.
"Eh, Kak, kenapa di sini?"
Vincent duduk di sebelah Cristian. "Aku tiba-tiba, merasa rindu dengan kampusku." Sebenarnya alasannya kemari, ialah mencari sosok yang dekat dengan Cristian. "Mana temanmu itu ... Miss Brown?"
Raut Cristian mendadak murung. Ia mendesah. "Sudah sepekan dia tidak masuk kuliah."
Ah pantas saja, batin Vincent. Padahal ia sudah rela meluangkan waktu berharganya hanya untuk mengintai gadis itu.
"Kenapa dia tidak masuk. Apa dia sakit?"
Cristian menggeleng. "Tidak ada surat pemberitahuan, Kak, padahal dia itu penerima beasiswa. Jika begini beasiswanya pasti di cabut, 'kan?"
Secara samar Vincent tersenyum saat mengetahui kalau Olivia adalah penerima beasiswa di kampus, miliknya. Ia akan segera mendapatkan gadis menyebalkan itu.
"Oh jadi dia itu penerima beasiswa."