2. First Meet

1008 Kata
Siang yang cerah menyambut Nasira yang baru saja bangun dari tidur nya. Tanpa di sadari nya, waktu menunjukkan pukul 7.30 pagi menandakan jam masuk kerjanya sudah dekat. Sesaat dia tak menyadari, yang di sadarinya rasa kantuk yang masih di rasakan nya. Ketika dia tersadar akan waktu yang sudah mepet, dia terkejut dan bergegas bangun dari tempat tidur untuk mempersiapkan diri. Tak berselang lama, Nasira keluar dari kamar mandi dengan wajah gugup dan cemas dia bergegas mengambil barang barang yang di perlukan hingga membuat dia lupa membawa dokumen pemasukan milik restoran. Di jalan dia bergegas berlari dengan sekuat tenaga, agar dia tidak mendapatkan semprot omelan dari sang bos, namun usahanya untuk datang tepat waktu percuma karena dia terlambat beberapa menit membuat dirinya di hukum dan menerima potongan gaji. "Maaf pak, saya telat. Saya mohon ... maaf kan saya," Nasira berkata dengan nada rendah sambil melipat kedua tangannya di depan d**a dan memasang wajah melas.Namun usahanya meluluhkan hati sang bos tidak berhasil. Dia harus menerima Omelan dan hukuman dari sang bos. Nasira pun melakukan hukuman itu. Sesaat kemudian dia masuk ke dalam resto dan mulai bekerja. Di dalam resto, seorang pria duduk dengan marah. Terlihat ponsel di sampingnya terus berbunyi, namun pria itu tidak merespon panggilan itu. Beberapa saat kemudian, Nasira menghampiri pria itu untuk memberikan pesanan yang di pesan oleh pria yang tak lain adalah Tama. Dengan perasaan ragu, ia mengantarkan pesanan itu. "Permisi kak, atas nama Kak Tama. Silakan pesanannya," ujar Nasira dengan menaruh minuman yang di pesan Tama dengan sesekali melihat ponsel yang terus berdering . Namun dia tak berani mengatakan sepatah katapun, dia bergegas pergi dari dekat Tama. Waktu berjalan dengan cepat, malam hari tiba dan resto mulai sepi, namun Nasira melihat pria itu masih diam terduduk dengan tidak mempedulikan ponselnya yang terus berbunyi. Melihat hal itu, Nasira menatap nya dengan penuh tanda tanya, namun dia di kaget kan dengan kedatangan temannya yang bernama Daniar. "Hey! Apa yang kamu lihat?" kejut Daniar hingga membuat Nasira terkejut. "Kamu apa apaan sih, buat aku kaget aja." "Ya, sorry Ra. Lagian kamu ngapain si lihat cowok itu terus, kamu naksir ya sama dia?" ucap Daniar dengan sedikit menggoda Nasira. "Apaan sih kamu, aku gak naksir sama dia. Aku cuma bingung aja sama dia, dia itu kenapa kok dari tadi siang sampai malam duduk di tempat ini dengan ekspresi muka kesel, bahkan sampai habis beberapa gelas minuman loh," jawab Nasira. "Iya juga, tapi aku pikir dia lagi ada masalah sih sama pacarnya makanya dia seperti itu, tapi ya udah lah Ra, ngapain kita bicarakan soal dia. Lebih baik kita lanjutkan kerja aja kan?" Ujar Daniar "Iya, kamu betul juga." Nasira dan sahabatnya pun melanjutkan pekerjaan nya tanpa mempedulikan Tama. Hari larut malam, namun Tama tak beranjak dari tempat duduknya. Melihat hal itu, Daniar mendekati Nasira dan berbisik di telinga Nasira. "Ra, ngapain si cowok itu duduk di sini terus, ini kan udah malam dan resto juga udah mau tutup," ucap Daniar di dekat telinga Nasira. "Entahlah, biarkan aja nanti kalau kita mau tutup aku akan datangi dia." "Ya jangan nanti dong, sekarang lah kita kan mau tutup Ra," Tekan Daniar. Mendengar perkataan sahabatnya, Nasira melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam, melihat hal itu Nasira tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. "Okey .. okey, aku datangi dia." Nasira pun menghampiri Tama. Ketika dia berada di dekat Tama, Nasira meyakinkan diri dan mencoba memberi taunya dengan baik dan sopan. "Permisi kak ," ujar Nasira membuat Tama terkejut dan bangun dari duduknya. "Iya, ada apa Mbak?" "Maaf kak, bukan maksud saya gimana atau seperti apa, cuma sekarang sudah jam 10 malam, resto kami akan tutup 5 menit lagi, " ucap Nasira. "Oh iya, sorry." Tama pun merapikan barang barangnya dan pergi, hingga tanpa di sadarinya gelang jam miliknya tertinggal di atas meja. Tama pun pergi dan tak menyadari bahwasanya gelang jam miliknya tertinggal. Ketika Nasira tengah membersihkan meja, dia melihat gelang jam itu dan mengambilnya. "Ini pasti milik pria tadi," ucap Nasira bergegas keluar resto dan mengejarnya, namun Tama sudah pergi meninggalkan restoran. "Yah, dia udah pergi. Gimana dong? Ya udah lah aku bawa aja, besok kalau dia ingat pasti datang ke sini lagi." Nasira pun masuk ke dalam resto dan menyimpan jam tangan itu di pakaian nya. Di pertengahan jalan, Tama tiba tiba menyadari bahwa jam tangannya tertinggal di restoran itu. Menyadari hal itu, dia bergegas memutar balik mobilnya dan menancapkan gas berharap para pegawai restoran itu belum pulang. Tak berselang lama, Nasira dan Daniar keluar dari resto dengan pakaian biasa. Mereka bersiap untuk pulang ke rumah, tiba tiba seorang pria dengan motor matic menghampiri mereka dia adalah Rasya calon suami Daniar. "Ra, sorry ya aku duluan soalnya Mas Rasya sudah datang jemput aku," ucap Daniar. "Iya, ITS oke. Kalian hati hati ya, kalau aku mah aman lah," jawab Nasira dengan bercanda . Daniar pun menghampiri calon suaminya dan pergi bersama calon suaminya. Saat Nasira akan melanjutkan perjalanan sebuah mobil mendekatinya, dan berhenti di hadapannya. Beberapa saat kemudian, Tama turun dari mobil dan menghampiri Nasira. "Maaf mbak aku menganggu kamu. Apa jam tangan punya saya ketinggalan di dalam?" tanya Tama. Mendengar pertanyaan itu, Nasira mengambil jam tangan yang di simpannya dan menunjukkan kepada Tama. "Apa jam ini Mas?" jawab Nasira dengan menunjukkan jam tangan yang di temukannya. Melihat jam tangan itu, Tama terlihat sangat bahagia. Dia mengambil jam itu dengan wajah sumringah. "Makasih ya Mbak." Nasira pun tersenyum kepada Tama. "Dan mbaknya mau ke mana? Biar saya antar," tawar Tama. "Saya mau pulang mas, cuma terima kasih atas tawaran nya. Tidak perlu repot-repot, saya sudah biasa pulang malam sendiri, lagian rumah saya juga dekat," jawab Nasira. "Tidak papa mbak, biar saya antar saja. Jangan menolak saya mohon, ini sebagai ucapan terimakasih saya ke kamu." Nasira pun tersenyum dan menuruti apa yang di katakan oleh Tama. Dia pun pulang bersama dengan Tama. Semenjak kejadian malam itu, Nasira dan Tama semakin dekat. Mereka semakin akrab bak sudah mengenal lama antara satu dengan yang lain. Kedekatan itu terjalin semakin erat setelah Tama menceritakan semua tentang kehidupan nya dan seluk beluk keluarganya. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN