16. Projek Biologi (1)

1012 Kata
Kala langit senja sangat memukau indera penglihatan setiap insan. Berwarna jingga dipadu dengan sedikit rona merah. Indah. Seperti Lila. Itu yang Magenta lihat di depan rumah Lila. Dia belum mengetuk pintu ataupun menekan bel. Cowok itu justru mengelilingi sejenak tanaman-tanaman yang dirawat Lila dan mamanya. Bunga-bunga yang waktu kemarin Magenta lihat masih kuncup, sekarang sudah mekar dengan mengagumkan. Terlebih, bunga mawar beraneka warna yang sangat memikat hati. Dan tentu saja, ada yang berwarna ungu. Setiap Magenta melihat bunga itu, dia teringat dengan nama seseorang yang dia sayang. Lila Rosetta. Tanaman anggrek yang menempel di pohon mangga pun, sudah berbunga banyak. Warna putih, kecil, sangat manis kelihatannya. Serasa keliling taman bunga itu sudah cukup, Magenta menyalakan kran air di depan rumah Lila yang disambungkan dengan selang panjang. Dia hendak menyirami tanaman itu. Segala sesuatu yang berhungan dengan Lila, Magenta sebisa mungkin ikut menyayangi dan menjaganya. "Genta!" seru Lila dari jendela kamarnya di lantai dua. Gadis itu terlihat gembira mendapati Genta yang sudah di depan rumahnya. Senyum genta mengembang sempurna. Bidadari hidupnya telah tampak. "Sini lo turun! Mau gue semprot juga pake air, nih! Lo pasti belum mandi, kan?" "Lo emang sahabat paling the best! Tau aja gue belum mandi. Mandi itu, mending 1 hari sekali, jadi nggak usah boros-boros air!" sahut Lila dengan lantang. Gadis itu kemudian menghilang dari pandangan Genta. "Lo jadi tukang kebun di sini?" Magenta menoleh ke samping kanannya. Dahinya mengerut memikirkan sesuatu karena Navi mendadak datang ke rumah Lila. "Mau apa lo ke sini?" tanya Magenta sinis. Dia mematikan kran air dan menghampiri Navi yang ia anggap musuh bebuyutannya. Navi melepaskan kaca mata hitamnya. Dia menyapukan rambutnya kebelakang. "Gue ada urusan sama Permen Karet," jawab Navi datar. "Magenta!" panggil Lila dari ambang pintu rumahnya. "Loh, ada Navi?" tanya Lila terheran-heran. Dia lalu mendekat, menghampiri kedua cowok tampan itu di taman miliknya. "Kontrak dimulai hari ini kalo lo tadi baca!" sarkas Navi dengan ketus. Navi benci melihat Lila saat ini. Gadis itu memakai kaos pendek dengan panjang lengannya hanya sampai bahu, celana jeans pendek diatas lutut, rambutnya yang dicepol satu sehingga leher jenjangnya terekspos dengan jelas. "Jadi, kalo ketemu Genta dia penampilannya kayak gini?" tanya Navi membatin. Tapi tunggu. Astaga, Lila masih mengenakan kaos kaki sekolahnya yang bagian jempolnya sudah berlubang sehingga jempol Lila keluar dari kaos kaki yang ia kenakan. Melihat itu, seketika Navi ingin tertawa. Namun dia haru jaga image di depan Lila. Bisa-bisa, gadis itu baper lagi. "Cepet! Gue tuh sibuk, banyak urusan!" pekik Navi. Magenta bergerak mendekati Lila. Dia memajukan wajahnya kepada telinga Lila. "Kontrak apaan, La? Kok gue--" "Cepet!" belum juga Magenta selesai berbisik, Lila sudah ditarik paksa oleh Navi menjauh dari Magenta. "Gue bilang, gue sibuk! Jadi cepetan belajarnya!" tegas Navi akan memasuki rumah Lila. "Genta, gue mau belajar. Lo pulang aja, ya? Bye, makasih udah nyiramin tanaman gue!"seru Lila melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Magenta membeku di tempat. Lagi-lagi, dia kalah dengan Navi. Lagi-lagi, hati dia yang tersakiti. *** Lila beberapa kali menganggukan kepalanya karena mengantuk. Dia sudah tidak tahan dengan materi yang Navi ajarkan. Fisika. Dia enggan mempelajari itu. Mau belajar bersama Navi atau tidak, Lila tetaplah diri Lila yang apa adanya. Pemalas dan juga berantakan. Buku di mejanya dibiarkan terbuka tanpa dia baca. Ah, Lila membaca tadi. Tapi hanya sepintas membaca judulnya saja. Gelombang bunyi. "Gelombang bunyi atau suara adalah gelombang longitudinal yang merambat melalui suatu media. Ada 3 aspek utama dalam gelombang bunyi. Sumber bunyi, media, dan penerima bunyi atau pendengar." Navi menguraikan materi fisika itu dengan jelas. Dan bagi seseorang yang mendengarkannya, pasti langsung paham. Tapi itu berlaku pada orang yang mempunyai otak. Sedangkan gadis di sebelah kanan Navi, seorang Lila Rosetta itu tidak mempunyai otak. Pantas saja mau menjelaskan pelajaran apapun, Lila tidak dapat mencerna materi itu dengan baik. Navi menepuk jidatnya sendiri. Dia sudah bingung bagaimana caranya agar Lila mengerti dan paham terhadap materi yang disampaikan olehnya. Fase blue-nya sudah lenyap tepat dia sampai di rumah setelah pulang sekolah tadi. Dan sekarang yang di samping Lila itu, merupakan Navi yang berada di fase unblue. Navi geram. Dia ingin menabok Lila rasanya, agar gadis itu terjaga, dan mau belajar. Brak!! Navi memukul keras meja di hadapannya dan berhasil membuat Lila terkejut hebat. Mata gadis itu membulat, seakan dia telah menghilangkan rasa kantuknya. "Astaghfirullah! Kan, gue udah ngomong tadi siang. Kalo lo baik ke gue, nantinya juga bakal galak lagi. Nah, bener kan ini? Emang prediksi seorang bidadari langit ke tujuh itu nggak pernah meleset!" seru Lila menyombong. Dia mengambil gelas di atas meja yang berisi jus mangga favoritnya. "Meja gue, Nav. Kasian jadi kena emosi lo!" sambung Lila mengelus-elus meja dih hadapannya. Deru napas Navi tidak beraturan. Dia susah mengendalikan kemarahannya. Apalagi jika marah dengan Lila. Dia bisa saja menghancurkan apa yang ada di depannya. "Makanya kalo gue nerangin tuh lo dengerin!" "Udah untung gue mau bantuin lo, eh malah lo sendiri kayak gitu. Dasar Permen Karet!" lanjut Navi. Dia kesal sampai menyentil cepolan rambut Lila. Bersyukur cuma menyentil, jika emosi lagi, dia bisa saja merusak cepolan itu tanpa ampun. "Heh, gue mau belajar sama lo, mau belajar sendiri, tetep aja gue males! Muka lo yang ganteng itu nggak ngaruh sama sekali!" tukas Lila yang juga mulai emosi. Apa-apaan ini, Lila sama sekali tidak mengerti kepada Navi yang dikit-dikit berubah dari kucing garong ke kucing gemay terus ke kucing garong lagi. Dikira Lila seorang pawang kucing apa yang tetap terima-terima saja dengan kelakuannya? Ish, menyebalkan. "Ikut gue!" perintah Navi dengan penuh penekanan. Dia mencekal kuat pergelangan tangan kanan Lila. Lila memekik tajam. Dia lelah sekali ditarik-tarik Navi terus. Astaga, Dia kan bukan peliharaan yang harus menurut jika ditarik seseorang. "Sakit, Navi!" Navi tidak peduli. Dia membuka pintu rumah Lila dengan cepat. Oh, rupanya Navi akan mulai mengerjakan projek biologinya dengan Lila. Terbukti, saat Navi membawa Lila ke taman di depan rumah gadis itu. Tetapi, Navi masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Lila. Sakit. Lila merasakan sakit ditangannya. Dia merasa tulang-tulangnya telah remuk hanya karena cekalan Navi. "Lepas!" bentak Lila membuat Navi tersadar dan melepaskan cekalannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN