“Jadi hanya berdua saja?” Antika merapikan kerah mantel wool hitam suaminya, jarinya menyapu debu kecil yang sebenarnya tidak ada. Ia hanya ingin secara halus menyentuh suaminya lebih lama. Nagara mengangguk lembut. “Kamu sudah mengizinkan ini sebelumnya, Sayangnya saya.” Nada itu selalu berhasil membuat seluruh tulang Antika luluh. Ia tahu maksud Nagara. Khairel belakangan terlalu sibuk dengan kursus robotik, kelas sains dini, kelas renang, piano, membaca ensiklopedia sampai lupa waktu. Anak itu haus pengetahuan, penuh rasa ingin tahu. Tapi… terlalu cepat tumbuh, terlalu cepat menjauh. Nagara tidak ingin kehilangan masa kecil putranya. Ia ingin malam ini hanya mereka berdua. Ayah dan anak. Tanpa gangguan. Tanpa buku. Tanpa guru. Hanya ruang untuk bicara hati. Antika memeluk pinggang

