Tentu saja teman-teman bengkel menyambut Cici dengan riang seolah ia tidak pernah hilang dari dunia mereka. Asap knalpot, suara mesin meraung, dan lampu-lampu jalan yang kosong membuat malam itu terasa seperti potongan masa muda yang kembali utuh. Mereka balapan kecil, meminjam jalanan yang sepi, mengelabui polisi yang berjaga tanpa membahayakan siapa pun. Cici tidak menang, tidak perlu menang. Yang ia rindukan adalah angin yang memukul wajahnya, tawa yang pecah di tengah malam, dan kepalanya yang untuk pertama kalinya kosong dari nama Sadam. Kini ia duduk di sofa usang di sudut bengkel, ditemani Raffi yang masih tertawa sambil menyodorkan minuman dingin. Dini hari Jakarta terasa hangat, seperti pelukan lama yang pernah ia lupakan. Banyak dari teman-temannya sudah menikah, punya anak, pun

