BAB 8 PESAN PERPISAHAN

1041 Kata
Pintu diketuk dengan sopan. “Permisi, Tuan Muda Reiven Spencer, apakah Anda di dalam?” Suara yang sangat ia kenal — suara salah satu pengawal keluarga. Rei berdiri dengan langkah goyah, menatap pintu dengan tatapan panik. “Bagaimana mereka bisa tahu aku di sini…” gumamnya pelan. Ia membuka sedikit tirai jendela dan melihat dua orang pria berjas hitam di luar. Mobil hitam mengilap berhenti tak jauh dari sana. Mereka menunduk hormat begitu melihat pergerakan di dalam rumah. Rei menggigit bibirnya. Ia tahu, jika mereka datang, berarti keluarganya sudah menemukan dirinya. Tak ada jalan untuk bersembunyi lagi. Ketika Kenyataan Menjemput Pintu akhirnya diketuk lagi, kali ini sedikit lebih keras tapi tetap sopan. “Tuan Muda, kami diperintahkan langsung oleh Ayah Anda untuk menjemput. Mohon jangan khawatir, kami hanya ingin membawa Anda pulang dengan selamat.” Nada mereka tidak mengancam, tapi lembut dan penuh penghormatan. Rei tahu, melawan tidak akan ada gunanya. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menatap ke sekeliling rumah sekali lagi. Ruang kecil itu dipenuhi kenangan singkat namun hangat: cangkir teh El di meja, handuk kecil yang tergantung di kursi, dan aroma kopi yang masih samar tercium dari dapur. Ia duduk di kursi, memejamkan mata, menahan air mata yang mulai jatuh. “Bang El pasti masih di tempat kerja sekarang… Dia nggak tahu kalau aku bakal pergi.” Dengan tangan gemetar, Rei mengambil buku catatan kecil di meja. Ia menulis pesan dengan tinta biru yang sedikit bergetar karena tangisnya tertahan. “Bang El… Aku harus pergi sekarang. Maaf karena nggak bisa pamit langsung. Terima kasih udah nyelametin aku, udah ngerawat aku waktu aku nggak berdaya. Empat hari bersamamu bikin aku ngerti arti ketulusan dan arti rumah yang sesungguhnya. Aku nggak akan lupain ini, Bang. Aku janji bakal kembali, dan waktu itu… aku pengen ceritain semuanya. Jangan khawatir, aku baik-baik aja. Tolong jangan cari aku dulu, biar semuanya tenang dulu di pihak keluargaku. Ini nomorku… kalau Bang El mau hubungin aku nanti.” Tinta di bagian akhir sedikit meleber terkena air matanya. Rei menatap tulisan itu lama, sebelum melipatnya rapi dan meletakkannya di meja makan — tempat pertama kali El menyuapinya makanan saat ia belum bisa bangun dari ranjang. Dijemput Ketika dua pengawal masuk, Rei sudah berdiri di depan pintu dengan tas kecil berisi beberapa baju. “Tuan Muda, apakah semuanya siap?” tanya salah satu dari mereka. Rei hanya mengangguk, menahan getar di suaranya. “Tolong jangan ganggu rumah ini. Jangan kasih tahu siapa pun kalau aku tinggal di sini,” katanya tegas namun pelan. Para pengawal saling pandang, lalu menunduk sopan. “Baik, Tuan Muda.” Mereka berjalan keluar rumah dengan langkah perlahan. Di belakangnya, Rei menoleh untuk terakhir kali. Rumah kecil itu berdiri tenang di bawah cahaya matahari siang. Tak ada yang istimewa dari luar — tapi di dalamnya, ada seseorang yang mengubah hidupnya hanya dalam waktu empat hari. Mobil hitam melaju perlahan meninggalkan gang kecil itu, membawa Rei pergi. Dalam perjalanan, Rei hanya diam memandangi jalan yang perlahan menjauh dari dunia kecil yang membuatnya merasa hidup kembali. El Pulang ke Rumah yang Kosong Sore itu, Elvano pulang dengan pakaian kerja yang kotor oleh debu proyek. Ia menghela napas panjang, menaruh helm di meja, lalu memanggil lembut, “Rei? Udah bangun, belum?” Sunyi. Ia menunggu sebentar, lalu melangkah ke kamar. Tak ada siapa pun di sana. Tempat tidur yang biasanya berantakan kini sudah rapi. Di atas meja makan, sebuah lipatan kertas menarik perhatiannya. El mengambilnya perlahan, membuka lipatan itu, dan membaca pesan Rei dari awal sampai akhir. Setiap kata terasa menekan dadanya — lembut, tapi dalam. Ada perasaan hangat sekaligus kehilangan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap meja makan itu, mengingat wajah Rei yang polos saat pertama kali disuapi makan di sana. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Dia pergi tanpa pamit…” bisiknya lirih. Namun tidak ada amarah, tidak ada sesal. Hanya rasa tenang bercampur rindu yang belum sempat diucapkan. Malam yang Hening Malam itu rumah terasa benar-benar kosong. Tak ada suara langkah ringan, tak ada tawa kecil, tak ada aroma sabun dari kamar mandi yang biasa Rei pakai. El duduk di sofa kecilnya, menatap catatan Rei di tangannya untuk kesekian kali. Ia tahu anak itu akan baik-baik saja — dia bukan lagi bocah manja seperti dulu. Tapi hatinya tetap berat karena perpisahan itu terlalu mendadak. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, hanya berisi satu kalimat: “Bang, jangan khawatir. Aku udah sampai rumah. Terima kasih buat semuanya. – Rei.” El tersenyum tipis. Ia menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya membalas, “Jaga dirimu, Rei. Kamu anak baik. Aku bangga.” Pesan terkirim, tapi centangnya tetap satu. Mungkin Rei belum membukanya, atau mungkin ia sengaja tidak membalas. El tidak mempermasalahkan itu. Ia tahu, beberapa hal memang harus dilepaskan agar bisa tumbuh. Hari-hari Tanpa Rei Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. El bangun pagi, berangkat ke proyek, dan menuntaskan pekerjaan dengan teliti. Tapi setiap kali pulang, ia selalu merasa ada yang kurang. Rumah kecil itu kini terlalu tenang. Kadang ia menatap kursi kosong di meja makan, membayangkan Rei yang dulu duduk di sana sambil tertawa kecil karena kebanyakan sambal. Kadang ia memandangi kamar yang kini sunyi, seolah menunggu suara anak itu mengeluh lelah seperti dulu. Namun hidup harus terus berjalan. El tahu itu. Ia kembali fokus bekerja, sambil menyimpan semua kenangan itu di hati — tidak untuk dilupakan, tapi untuk dikenang. Sementara di Rumah Keluarga Spencer Rei sudah empat hari di rumahnya, tapi semuanya terasa berbeda. Ia tidur di kamar mewah, kasur empuk, tapi tak pernah bisa nyenyak. Ia makan makanan mahal, tapi rasanya hambar. Bahkan kolam renang pribadi dan halaman luas yang dulu membuatnya bangga kini terasa kosong. Ia duduk di balkon, memandangi langit malam. Di tangannya, ada selembar foto yang ia print dari ponsel — foto samar El yang tertangkap kamera saat mereka sedang bekerja di proyek. “Bang El…” bisiknya pelan. “Aku kangen.” Air matanya jatuh perlahan, tapi senyum kecil terukir di wajahnya. Karena di balik semua itu, ia tahu satu hal pasti — suatu hari nanti, entah kapan, ia akan kembali menemui pria itu. Dan ketika saat itu tiba, ia ingin datang bukan sebagai anak yang diselamatkan, tapi sebagai seseorang yang bisa berdiri sejajar — dan bisa membalas ketulusan yang pernah ia terima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN