Adel tak dapat membendung air matanya saat melihat peti mati tersebut dimasukkan ke dalam liang lahat. Gadis itu menatap kosong ke arah gundukan tanah yang masih basah. Tak ada suara yang keluar dari bibir pucat itu. Yang terdengar hanya tangis lirih yang menyahat hati. “Jangan tinggalin Adel hiks.. “ lirih gadis itu dengan netra sapphire nya yang terlihat sembab. Sudah sedari semalam gadis itu tak berhenti menangis karena kepergian orang terkasihnya. Seseorang yang telah berjanji akan selalu menjaganya. “Kenapa nggak pernah bilang sama Adel kalau sakit? Kenapa tega banget ninggalin Adel sendiri hiks?” lirih Adel sembari mengusap batu nisan berbahan granit yang ada di depannya. “Baby.. “ lirih seorang pria yang senantiasa berada di sampingnya sejak tadi. Adel lantas mendongak dan berte

