Semua beranjak masuk ketika suster yang bertugas merawat Ify keluar dari ruang inapnya.
Namun, Rio masih menunduk bersandar pada tembok. Alvin yang melihat, mengurungkan niat untuk mengikuti orang-orang. Ia memilih mendekat pada sahabatnya. Menepuk pundak Rio, memberi kekuatan.
"Ayok masuk," ajaknya yang dibalas senyuman kecil oleh Rio.
"Duluan aja. Gue mesti ngabarin mama."
"Oke jangan lama-lama. Ify butuh lo."
Alvin tahu Rio membutuhkan waktu untuk sendiri, ia mengalah memberi ruang untuk pria itu.
Sebelum merogoh ponselnya, Rio menghela napas berkali-kali. Memilih untuk sedikit menjauh dari sana. Taman rumah sakit sepertinya tempat yang tepat untuk menetralisir rasa cemas dan takutnya.
Tangannya mendial nomor sang mama ketika ia sudah duduk tenang di kursi taman.
Akan tetapi, ia segera membatalkan niatnya. Rio takut suaranya masih bergetar dan membuat mama panik.
Namun, sekejap kemudian, mama kembali menghubunginya.
"Halo, Sayang."
"Mama." Benar sekali, suara Rio bergetar di ujung seiring detak jantungnya yang masih sedikit kencang.
"Kak, kenapa? Kamu di mana?" Nada suara mama terdengar khawatir.
"Ma, Kakak izin gak pulang hari ini, ya, nginap di rumah Alvin."
Tak ada jalan lain, sepertinya berbohong adalah sesuatu yang tepat untuk saat ini. Ia mengembuskan napas lega kala mama mengiyakan.
Rio beranjak, sudah lebih dari sepuluh menit ia tak segera masuk ruangan. Bagaimana kalo Ify sudah siuman.
Sivia berdiri kaku dengan Alvin yang merangkul pinggangnya, takut jika sewaktu-waktu sang kekasih ambruk.
Ify masih betah tak sadarkan diri, mengabaikan genggaman tangan mama serta usapan sayang papa di rambutnya. Baju seragam yang tadi ia pakai, telah diganti dengan baju rumah sakit oleh suster. Gadis itu masih harus dirawat untuk beberapa hari ke depan.
Gabriel mendekat, peluh membasahi area wajahnya. Kamar ac sama sekali tak membantu, karena Gabriel asyik dipanasi oleh rasa takut.
Ia menatap nanar, Ify harus kembali menginap di tempat ini. Tempat yang sebenarnya paling ia takut juga benci.
Gabriel juga benci tempat ini, tempat yang menjadi saksi ketika adiknya selalu merasa kesakitan. Tempat yang selalu membuatnya ketakutan kala Ify berbaring lemah tak berdaya seperti saat ini.
"Mama pulang aja, Abang yang jaga Ify."
Mama menggeleng, berada di rumah bukanlah hal yang sesuai untuk saat ini. Karena rasa khawatir akan terus menghantuinya.
"Pulang aja, Ma. Rio akan temani Abang." Mama tak bergeming, semakin menggenggam erat tangan Ify. Tanda bahwa beliau tak akan meninggalkan tempat itu.
Pintu ruangan rawat terbuka, Rio berjalan gontai mendekat ke arah bangsal di mana Ify masih menutup matanya. Para sahabat tak berani mendekat, hanya berdiri sedikit jauh di kanan ranjang.
"Pa, ajak mama pulang."
"Mama gak mau, Bang. Mama mau temani adekmu. Iya, Sayang, Ify mau ditemani mama 'kan, Nak? Mama temani."
Papa menggeleng, karena tahu perasaan sang istri. Sejujurnya Gabriel tak tega melihat wajah sedih mamanya kala menatap Ify. Mata itu begitu rapuh.
"Tante, Rio sayang Ify, sayang banget." Mario bersimpuh, di samping tempat duduk mama. Ia menikmati elusan lembut dari ibu yang telah melahirkan sang kekasih.
"Mama tahu." Masih setia mengelus kepala Rio, mama menjawab.
"Kalau begitu ijinkan Rio merawat Ify hari ini." Digenggamnya tangan rapuh yang telah merawat sang kekasih beserta para saudaranya tersebut. Mencium punggung tangan mama dengan khidmat.
"Tante pulang, ya, wajah Tante pucat."
"Kamu sukses, Rio. Sukses bikin mama sayang sama kamu. Oke mama pulang." Mama beranjak, begitu pula Rio.
"Panggil tante 'Mama'," pintanya yang diangguki kekasih Ify.
"Iya, Ma. Jangan lupa istirahat biar Mama bisa ikut andil rawat pacar Rio."
***
Mobil Alvin berhenti di depan rumah Sivia yang pagarnya masih terbuka sehabis isya' ini. Sehingga mobil Alvin bisa masuk ke halaman rumah kekasihnya. Mereka baru saja meninggalkan rumah sakit tempat Ify yang masih belum membuka matanya.
Sivia berjalan pelan dengan Alvin yang mengikutinya dari belakang. Wajah gadis itu begitu lesu, semangatnya telah hilang setelah kenyataan yang baru saja didapat tadi .
Pasangan itu disambut oleh bapak-bapak yang sedang asyik bermain catur di teras rumah berlantai dua milik Sivia.
Sivia menyalami Hamdan ---ayahnya, lalu berlanjut menyalami Tyo ---ayah Alvin. Kedua bapak itu menyambutnya dengan senyuman.
"Bagus, mentang-mentang anak muda jam segini baru pulang." Tyo menegur putranya yang asyik memainkan kunci mobil.
Sivia enggan ikut masuk ke percakapan mereka, memilih pamit untuk masuk kamar. Ia butuh mandi dan mengganti seragamnya yang ada bercak darah Ify.
"Dari mana tadi Alvin?"
"Dari rumah sakit Om, Ify masuk rumah sakit."
Alvin memainkan pion catur punya sang ayah asal, ia meringis kala tangannya mendapat pukulan dari duda beranak satu itu.
"Om, Alvin nginep di kamar abang, ya?"
"Heh, pulang kamu! Diseret Pak RT papa nanti yang nanggung," tegur Tyo memelototi anaknya. Heran saja sama Alvin, di rumah kamarnya lebih besar, tiap hari dibersihkan oleh pembantu, tetapi tidak pernah ditempati. Malah asyik tidur di kamar Abang Sivia, sempit-sempitan berdua.
"Iya, sana! Abangmu udah tidur kayaknya. Asal jangan nyusul ke kamar adekmu!" Hamdan mengizinkan, tetapi malah dibalas dengkusan oleh anak angkat Almarhum istrinya itu.
"Sivia pacar Alvin, bukan adek," ujarnya mengingatkan. Ia lelah tiap dianggap abang oleh kekasihnya.
Tanpa memedulikan kedua duda yang asyik mengobrol dengan suguhan kopi itu, Alvin memasuki rumah yang sudah ia kenal sedari kecil. Menyelinap masuk untuk mengganggu Aras yang sudah terlelap ke alam mimpi, tumben sekali abang Sivia itu sudah tertidur.
"Lain kali, kamu usir aja si Alvin. Kayak nggak punya rumah aja. Makan di sini, tidur di sini, mandi di sini, lama-lama aku hidup sebatang kara, Dan."
Hamdan hanya tertawa mendengar tuturan sahabat istrinya itu. Sedari kecil memang istrinya lah yang mengulurkan tangan untuk merawat Alvin setelah ibunya meninggal. Hamdan terlalu sibuk mengurusi kafenya, membuat Alvin tidak terurus. Beruntung sekali ia memiliki sahabat yang pengertian, Alvin bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi memalui istri Hamdan.
Sering bersama sejak kecil, membuat Sivia dan Alvin tak bisa dipisahkan. Alvin meracuni pikiran Sivia dengan pacaran juga ciuman sejak SMP. Para orang tua tak dapat melarang, karena jika dilarang Alvin akan semakin menjadi. Mereka pasrah saja kala Sivia dijadikan pacar oleh remaja lelaki bermata sipit tersebut.
"Anakmu semakin dilarang, semakin menjadi. Sudah biarkan saja."
Tyo mendengkus, mirip sekali dengan Alvin jika seperti itu. Bibirnya menyeruput pelan kopi buatan Hamdan. Meski kopi yang dibuat sahabatnya ini tak seenak kopi di kafenya, tetapi ia berusaha menghargai. Keduanya kembali masuk ke dalam arena catur, yang diakhiri u*****n Hamdan karena terkena skak mat oleh Tyo.
***
Pukul delapan malam, masih terlalu sore untuk seseorang tidur, tetapi kekasihnya ini sudah memejamkan mata. Hampir enam jam, dan Ify tak kunjung tersadar. Rio meratap miris, rasa takut menyerangnya. Ia tak tenang karena pikiran-pikiran buruk terus membayangi isi kepalanya.
"Makan dulu, Yo." Gabriel menyerahkan bungkusan berupa nasi Padang yang ia beli di depan rumah sakit. Tangannya terasa pegal kala Rio tak kunjung menerimanya.
"Makan dulu, Ify bentar lagi pasti sadar."
"Ify belum makan, Yel."
Gabriel mengembuskan napas, menatap ragu bungkusan di tangannya. Mendengar ucapan Rio, membuat ia jadi tidak nafsu untuk makan. Mengingat adiknya juga belum bisa membuka mata.
"Yo, kita juga butuh asupan lebih buat jaga Ify." Gabriel masih berusaha untuk menguatkan nafsu makannya. Ia tak mau ikutan sakit dan tak diijinkan untuk merawat sang adik lagi.
"Yok, makan. Ify pasti sadar. Ayok!" Mau tak mau Rio bangkit menuju sofa, menerima bungkusan yang diberikan Gabriel meski tatapannya tak beralih dari sang kekasih yang terbaring di atas bangsal.
Gabriel dapat melihat itu, melihat bagaimana tatapan sang sahabat pada adiknya. Cinta yang dimiliki Rio sudah sebesar ini untuk Ify, Rio benar-benar serius membuktikan ucapannya untuk menjaga dan membahagiakan adiknya. Gabriel bersyukur untuk itu, beruntung ia tak menyesali tindakannya untuk memberikan Rio kesempatan, bersyukur karena dulu memberhentikan aksinya untuk menghalangi Rio mendekati adiknya