Part 35 - Syarat

1600 Kata
KEDUA mata Delma membulat sempurna usai mendengar perkataan Alka. Laki-laki itu bahkan sampai berjengit dari tempat duduk. Ia menunduk, menatap Alka dengan raut terkejut. “Apa kamu bilang tadi? Pergi jalan-jalan?” Alka dengan tenangnya mengangguk. “Iya.” Delma mengembuskan napas berat dan perlahan kembali mendaratkan p****t di kursi depan indekos Alka. Ia menatap sahabatnya dengan tampang serius. “Alka, kamu inget, ‘kan, besok Sabtu ada apa?” “Inget.” “Apa coba?” “Pulang ke rumah,” jawab Alka sambil menatap kuku tangan dengan santai. “Nah, itu kamu tau. Kenapa malah bilang rencana-rencana mau pergi segala besok Sabtu?” “Emangnya enggak boleh?” Delma mencoba menahan emosi. Ia harus sabar menghadapi Alka yang sudah dari sananya terlahir keras kepala. “Lagian, sekali-kali aku enggak pulang ke rumah, enggak apa-apa, ‘kan?" sambung Alka. Gadis itu mengalihkan tatapan dari kuku tangan menuju Delma. “Mama sama papa pasti enggak akan marah, kok.” Delma menyandarkan punggung pada kursi. Laki-laki itu menatap lurus ke depan. Terlihat ada beberapa teman indekosnya yang laki-laki tengah berkerumun, menonton sesuatu dari laptop miliknya sambil tertawa-tawa. Delma melirik Alka yang saat ini sedang menyesap teh hangat. “Kalo dugaan kamu salah, gimana?” Alka balas melirik Delma. Gadis itu menjauhkan cangkir dari mulut, lalu meletakkannya secara perlahan di meja. “Eum ..., tinggal minta maaf aja. Gampang, ‘kan? Lagian, mama sama papa enggak marah sampe yang parah banget kali.” Delma mendengkus pelan. “Kalo kata aku, mending jangan maksa, deh. Apalagi, tempat yang kamu bilang tadi itu jauh banget, Al.” “Emang kamu tau tempatnya?” “Tau. Dulu, aku pernah ke sana malah.” Alka terkejut mendengar pernyataan Delma tersebut. “Iiih, kamu, kok, udah pernah ke sana? Kok, aku enggak?” “Kamu, kan, waktu itu enggak sekelompok sama aku. Beda tempat observasi buat tugas kuliah, Al.” Bibir merah Alka mengerucut, khas orang yang sedang kesal. Gadis itu melipat kedua tangan di depan d**a. “Okay. Berhubung aku belum pernah ke sana, aku bakal ngotot supaya bisa pergi ke sana, besok Sabtu sama Alden. Titik.” “Ya ampun, Alka. Inget rumah. Sabtu itu jadwalnya kamu pulang ke rumah, kumpul sama keluarga. Nanti mama sama papa kamu khawatir, gimana?” “Makanya, aku izin dulu sama mereka sebelum pergi, Ald. Jadi, mereka enggak akan khawatir.” “Tapi---” “Udah, udah. Biar pasti, kita tanya langsung sama mama papa sekarang,” sela Alka, memotong perkataan Delma. Delma kemudian hanya diam, menatap Alka yang sedang mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seseorang via sambungan telepon. Nada sambung menyapa indra pendengaran Alka. Gadis itu menunggu Agatha---mamanya---menjawab panggilan teleponnya. “Udah dijawab?” Delma bertanya, memastikan. Alka menatap Delma dan menggeleng pelan. Gadis itu melirik ponsel yang menempel di telinga kanan. “Angkat, dong, Ma,” gumam gadis itu. Beberapa detik berselang, akhirnya panggilan telepon itu direspons oleh Agatha. Mendengar sapaan Agatha, Alka langsung tersenyum lebar. Gadis itu membalas sapaan dari mamanya. “Ada apa? Tumben kamu telepon duluan.” Alka tertawa kecil. “Gini, Ma. Alka ... besok Sabtu kayaknya enggak bisa pulang ke rumah dulu,” ujar Alka, langsung pada intinya. Hening selama beberapa saat. Keheningan itu membuat Alka jadi agak cemas. Ia tidak bisa menebak bagaimana reaksi Agatha nantinya saat mengetahui alasannya yang tidak bisa pulang ke rumah besok Sabtu. Terdengar suara dehaman dari seberang sana. “Kenapa enggak bisa pulang? Ada kuliah, hm?” “Enggak, sih, kayaknya. Cuma ... Alka ....” Alka tiba-tiba merasa gugup. Gadis itu refleks mengelu-elus lutut. Sementara itu, Delma tetap menyimak dalam diam Alka yang sedang bercengkerama dengan Agatha. “Cuma apa, Al? Kamu kalo ngomong, jangan dipenggal-penggal, dong. Bikin lama plus penasaran aja.” Alka menelan ludah berat. “Soalnya, besok Sabtu, Alka ada rencana mau pergi bareng sama ... Alden, Ma. Mumpung weekend.” Setelah mengungkapkan hal tersebut, Alka meringis tanpa suara. Jantungnya berdegup kencang menanti keputusan yang akan diberikan mamanya. Dalam hati, ia terus berharap agar Agatha memberinya izin untuk tidak pulang ke rumah dulu dan mengizinkannya untuk menghabiskan waktu di hari Sabtu bersama Alden saja. “Enggak apa, ‘kan?” Hening selama beberapa saat. Baik Alka maupun Agatha di seberang sana terdiam, belum ada berbicara lagi. “Ma?” Terdengar embusan napas berat dari seberang sana. “Tempatnya di mana? Jauh?” “Eum ..., kalo kata Delma, sih, jauh.” Alka melirik Delma. “Katanya, sih, Ma.” Delma yang disebut namanya langsung menoleh, menatap Alka. Ia jadi penasaran dengan apa yang sedang dibahas oleh Alka dan Agatha. Mengapa ... namanya ikut disebut-sebut? “Kamu pengin banget pergi ke sana sama Alden?” Alka mengangguk. Namun, ia segera sadar kalau Agatha tidak akan mungkin bisa melihat anggukannya. “Pengin, Ma. Apalagi, Alka juga belum pernah ke sana. Kata Alden, tempatnya baguuus banget, Ma. Alka, kan, juga mau. Delma aja udah pernah.” Lagi-lagi, Delma dibuat penasaran mengapa namanya lagi-lagi disebut oleh Alka. “Ya ..., Mama, sih, ngizinin aja kalo kamu mau ke sana dan enggak pulang ke rumah dulu.” Mendengar perkataan mamanya, kedua mata Alka langsung berbinar. Senyumnya pun terkembang lebar. “Mama ... serius?” “Serius. Tapi ....” Senyum yang merekah di bibir Alka sedikit memudar. “Tapi, apa, Ma?” “Ada syaratnya.” Baiklah, senyum di bibir Alka sekarang sempurna hilang begitu mendengar dua kata yang diucapkan oleh Agatha. “Syarat? Syaratnya apa, Ma?” “Syaratnya, Delma juga harus ikut sama kalian berdua, ya.” Kedua mata Alka membulat sempurna begitu mendengar syarat yang diajukan oleh mamanya. Gadis itu mengerjap beberapa kali, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “A-apa, Ma?” “Ish, kamu telinganya bermasalah? Mama bilang, Mama kasih izin kamu pergi ke tempat itu sama Alden, tapiii ... Delma juga harus ikut. Paham?” Alka cukup terkejut dengan persyaratan yang diberikan oleh mamanya. Gadis itu berdecak pelan dan berkata, “Ma, apa enggak ada syarat yang lain? Masa gitu, sih?” “Gitu gimana maksud kamu? Harusnya bagus, ‘kan, kalo Delma juga ikutan? Kalian jadi ada yang ngawasin. Terutama, ngawasin kamu yang bandelnya minta ampun.” Alka mengerucutkan bibir mendengar perkataan mamanya. “Silakan kalo kamu mau tetep ke sana, tapi inget syaratnya. Kalo kamu enggak sanggup sama persyaratannya, ya, udah. Kamu tetep pulang ke rumah aja. Gampang, ‘kan?” Iya, gampang kalo ngomong doang, Ma. Tapi, Alka, kan, penginnya pergi ke sana berduaan doang sama Alden. Bener-bener berdua aja, enggak sama Delma. Sayangnya, Alka hanya bisa mengeluarkan keluh kesahnya itu di dalam hati. “Gimana? Kamu tetep jadi mau ke sana, hm?” Alka diam sejenak. Gadis itu melirik Delma yang sedang bermain ponsel. Wajah Alka terlihat kusut karena kurang puas dengan keputusan Agatha. Ah, ralat. Ia memang ‘tidak puas’ dengan keputusan wanita itu. Namun, berhubung ia sudah kadung janji dengan Alden akan pergi ke tempat itu, maka tidak ada pilihan lain selain ‘setuju’. “Tetep jadi?” Agatha kembali bertanya. Alka mengembuskan napas berat. “Iya, jadi.” “Nah, kalo gitu, kan, Mama jadi tenang. Ya udah, hati-hati besok perginya. Salam buat Delma. Oh, sama Alden juga.” Alka hanya menanggapinya dengan dehaman singkat. Gadis itu segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Agatha. Ia letakkan ponsel di meja. Tangannya menekuk, bertumpu pada meja. Ia menopang dagu dengan tangan. Wajahnya terlihat lesu. Delma menengok ke kanan. Ia baru sadar kalau sahabatnya sudah selesai bertelepon dengan Agatha. Laki-laki itu meletakkan ponsel dan menatap penasaran Alka. “Jadinya gimana, Al?” Alka melirik Delma. Gadis itu mengembuskan napas pelan. “Dibolehin, kok, sama mama.” Kedua alis Delma terangkat mendengar pernyataan Alka, cukup terkejut. Namun, ia dibuat heran karena wajah sahabatnya terlihat lesu, padahal seharusnya terlihat senang. “Kalo dibolehin, kenapa muka kamu kusut gitu?” Alka berdecak dan menatap Delma. “Soalnya, mama nyuruh kamu juga ikutan nanti.” Delma tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alka. “Ha? Aku ... disuruh ikutan juga?” Alka mengangguk dengan malas. “Katanya biar ada yang ngawasin aku sama Alden. Ih, aku, kan, enggak butuh gituan! Aku cuma butuh waktu quality time yang bener-bener cuma berdua aja sama Alden, tanpa orang lain,” gerutu Alka. Gadis itu tampaknya masih keberatan dengan syarat Agatha. Entah mengapa, mendengar perkataan Alka membuat perasaannya terbelah menjadi dua. Satu sisi, ia merasa senang karena ia diamanahi untuk ikut bersama Alka dan Alden pergi besok Sabtu, mengawasi pasangan itu. Akan tetapi, di satu sisi yang lain, ia merasa agak terluka dengan kalimat Alka yang menyatakan bahwa gadis itu hanya ingin pergi berdua saja dengan Alden, tanpa adanya orang lain yang tak lain adalah dirinya. Sepenting itu ternyata Alden bagi Alka? Padahal, yang paling lama kenal Alka adalah dirinya, bukan Alden. Alka menyugar rambut ke belakang. Gadis itu menatap intens Delma. “Hari H nanti, kamu enggak usah ikut, ya. Pura-pura aja kamu lapor ke mama kalo beneran ikut aku sama Alden.” Delma membulatkan mata, tak menyangka. “Enggak bisa gitu, dong, Al. Mama kamu, kan---” “Udah, lah, Ma!” potong Alka dengan tegas, nyaris membentak. “Nurut aja sama aku.” Delma terdiam. Ia menelan ludah berat. Tangannya pun terkepal kuat. Alka menatap Delma dengan ekspresi datar. “Kamu enggak mau bikin sahabat kamu sedih, ‘kan?” Delma tercenung mendengar pernyataan Alka. Laki-laki itu dibuat bingung dengan keputusan yang akan ia ambil selanjutnya. Apakah ... ia harus mengalah lagi pada Alka untuk ke sekian kalinya? BERSAMBUNG ke PART 36 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN