USAI menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama dengan Alden pada malam hari, Alka pun kembali masuk ke dalam rumah. Wajah gadis itu terlihat berseri-seri. Senang rasanya bisa menghabiskan waktu bersama sang pacar sebelum dirinya naik ke tempat tidur dan terlelap dalam mimpi.
“Lama banget di luarnya. Ngobrolin apa aja, sih? Kayaknya asyik banget sampe gak inget waktu.”
Langkah Alka terhenti saat melangkah menuju ruang tengah. Ia menemukan mamanya yang sedang duduk di atas sofa sambil menonton acara televisi.
Gadis itu hanya tersenyum-senyum menanggapi pertanyaan Agatha.
“Lah, ditanya malah mesam-mesem-m***m gitu. Jawab pertanyaan mama,” kata Agatha sedikit kesal melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh putri sulungnya.
Senyum yang semula menghiasi bibir Alka seketika lenyap. Bibirnya mengerucut sebal mendengar perkataan mamanya baru saja, apalagi bagian terakhir. “m***m apaan, sih, Ma? Kita mana ada bahas gitu-gituan.”
“Ya ... siapa tau aja, ‘kan?”
Alka hanya memutar bola mata malas. Ia pun melanjutkan langkah, hendak masuk ke dalam kamar.
“Eh, mau ke mana kamu?”
Langkah Alka terpaksa terhenti. Gadis itu baru saja akan memegang gagang pintu, tetapi tertunda oleh panggilan mamanya. Ia menoleh, menatap Agatha dengan pandangan bertanya. “Ada apa, Ma? Alka mau ke kamar, mau istirahat, ngantuk.”
“Sini bentar, dong. Ada yang mau mama bicarain sama kamu. Pen-ting.”
Kedua alis Alka bertaut mendengar pertanyaan dari Agatha. Ia sedikit menelengkan kepala. “Bicara tentang apa?”
“Makanya, sini dulu. Duduk sebelah mama, sini,” pinta Agatha. Wanita itu menepuk-nepuk sofa di sebelah kanannya.
Alka menimbang selama beberapa saat. Jujur, ia juga penasaran dengan apa yang ingin dibicarkan oleh mamanya.
“Udah, enggak usah kebanyakan mikir. Serius amat kayak mau mikir ujian. Buruan, sini, Al.” Teguran Agatha itu membuyarkn lamunan Alka. Gadis itu mengerjap beberapa kali dan mulai melangkah, mendekati mamanya. Ia menurut dan duduk di sebelah kanan Agatha.
“Nah, gitu, dong, dari tadi.” Agatha menepuk pelan pundak Alka.
“Terus, Mama mau ngomong apa?”
Agatha terdiam beberapa saat. Wanita itu mematikan televisi agar obrolannya dengan Alka bisa berjalan lancar tanpa gangguan dari suara lain.
Alka menatap mamanya penasaran. Seserius itukah pembicaraan wanita itu padanya hingga televisi pun harus dimatikan?
“Mama mau ngomong apa, sih?” Alka kembali bertanya. Gadis itu sudah mulai tidak sabar. “Ah, jangan-jangan mau bahas tentang aku sama Alden, ya?”
Agatha segera menatap Alka. Ia tidak menyangka jika putrinya bisa dengan cepat menangkap maksudnya.
“Nah, Mama diem, ‘kan? Berarti bener dugaan Alka.” Alka menunjuk Agatha dengan jari teracung jahil.
Agatha segera menepis jari Alka dari hadapan. “Iya, bahas kamu sama Alden. Puas?” ketusnya.
Sekejap, Alka terdiam. Mulutnya tertutup rapat. Gadis itu mengerjap dan berdeham beberapa kali, mencoba menetralisasi keadaan. “Emang ... Alka sama Alden ada apa, Ma? Kita buat masalah?”
Agatha spontan menggeleng pelan. Wanita itu tersenyum tipis. Tangannya terangkat, mengusap lembut puncak kepala putri sulungnya.
Sikap Agatha itu semakin membuat Alka penasaran.
“Sebentar, ya, nunggu Papa ke sini dulu.”
Alka mengembuskan napas pelan. Mau ‘tak mau gadis itu mengangguk. Ia pun menunggu Sandy—papanya—datang.
Beberapa detik berselang, pria yang ditunggu-tunggu pun muncul di ruang tengah, lalu ikut bergabung duduk di sofa.
“Eh, ada anak papa yang pertama di sini. Udah selesai pacarannya?” goda Sandy pada Alka.
Alka merasakan pipinya yang terasa hangat mendengar kalimat papanya. Ia yakin, pipinya itu mulai bersemu merah, malu. Gadis itu berusaha keras menyembunyikan senyum. Padahal, bibirnya sudah terasa berkedut.
Melihat ekspresi putrinya itu, Sandy tertawa kecil. “Cie ... yang malu,” godanya lagi.
“Papa ...,” rengek Alka. Raut mukanya ia buat seolah-olah sedang kesal, padahal gadis itu sedang malu.
Lagi, Sandy tertawa kecil. Senang sekali ia menjahili putrinya sendiri.
“Udah, dong, Pa. Kasihan itu si Alka, pipinya kebakar gitu,” tegur Agatha.
“Mana ada kebakar, Ma?”
“Ada. Tuh, buktinya pipi kamu merah gitu. Coba ngaca kalo kamu enggak percaya.”
Refleks, Alka menyentuh kedua pipinya yang terasa hangat. Sepertinya, apa yang baru saja dikatakan oleh mamanya memang benar.
“Pa,” panggil Agatha, pelan, menegur sang suami.
Sandy menatap istrinya penuh perhatian. Beberapa detik terdiam, akhirnya ia paham maksud Agatha memanggilnya. Pria itu terlihat mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali.
Melihat gestur dari orang tuanya, membuat Alka kembali dirundung rasa penasaran. Ia menatap Agatha dan Sandy bergantian. Tentu, dengan tatapan bertanya.
Sandy berdeham beberapa kali, meredakan tenggorokan. Pria itu lantas menatap lekat Alka, buah cintanya yang pertama bersama dengan Agatha. “Alka,” panggilnya lembut.
Kedua alis Alka terangkat begitu Sandy memanggilnya. “Iya, Pa? Ada apa?”
Sandy melirik sekilas ke arah Agatha. Pria itu mendapat anggukan kepala dari sang istri. Ia mengembuskan napas pelan dan kembali menatap Alka. “Kamu beneran suka sama Alden?”
Alka berkedip beberapa kali mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut sang papa. Awalnya, ia merasa heran, tetapi ia segera mengangguk. “Iya, Pa. Emang ... kenapa?”
“Kamu yakin masih mau pacaran sama dia?”
Alka terdiam beberapa saat, mencoba mencerna maksud pertanyaan Sandy tersebut. Beberapa detik berpikir, gadis itu mengangguk.
Sandy mengembuskan napas panjang. Ia melirik Agatha. Lagi, anggukan kepala kembali diberikan oleh istrinya itu.
“Kalo papa minta kamu buat jauhin Alden, bisa?”
Sontak saja, kedua mata Alka membulat sempurna mendengar pertanyaan papanya tersebut. Gadis itu tanpa pikir panjang segera menggeleng dan menjawab dengan tegas, “Enggak! Alka enggak mau jauh dari Alden, Pa. Enggak mau!”
Agatha berdeham, mengisyaratkan putrinya itu untuk diam.
Alka melirik mamanya. Ia pun terbungkam.
“Iya, iya, tenang dulu Alka. Papa tau, kok. Makanya, papa nanya dulu ke kamu.”
Bibir Alka mengerucut. “Alka enggak mau jauh dari Alden, Pa.”
Sandy tersenyum penuh arti. “Iya, papa ngerti. Lagian, papa juga enggak setega itu misahin kalian berdua yang lengketnya, euh! Enggak ketulungan.”
Alka terdiam. Ia menatap Sandy heran. “Maksud Papa?”
Sandy kembali melirik Agatha sambil tersenyum tipis. Agatha balas menatap sang suami, lalu menatap Alka. “Jadi, mama sama Papa sepakat buat ....”
Entah mengapa, Alka merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Tiba-tiba saja, firasatnya menjadi tidak enak.
“Mama sama Papa mutusin buat kasih izin kamu pacaran sama Alden.”
“HA?!” pekik Alka tanpa sadar. Gadis itu sampai terlonjak dari posisi duduknya. Ia membekap mulut, 'tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap Agatha dan Sandy bergantian. “Mama sama Papa ... serius?”
Orang tua Alka itu serempak menganggukkan kepala.
Alka kembali memekik girang. Gadis itu sampai berjingkrak saking senangnya. Ia segera menghambur ke arah orang tuanya yang duduk bersebelahan. Ia memeluk dua orang tercintanya itu sekaligus.
“Makasih, ya, Ma, Pa. Alka seneng banget, serius.”
“Iya. Tapi, inget, pacaran yang sehat, ya,” pesan Agatha.
Alka mengangguk dalam pelukan.
“Dan jangan salah gunakan kepercayaan Mama sama papa, ya,” tambah Sandy.
“Siap, Pa! Alka janji bakal turutin pesen-pesen kalian. Makasih banget udah kasih izin Alka buat pacaran sama Alden.”
Alka benar-benar merasa senang dengan kabar ini. Akhirnya, lampu hijau sudah benar-benar menyala untuknya dan Alden. Orang tuanya sudah memberi izin. Itu artinya, ia tidak perlu lagi menutup-nutupi hubungannya dengan Alden lagi.
Usai mendapat kabar bahagia itu, Alka segera masuk ke dalam kamar. Gadis itu langsung menjatuhkan tubuh di atas kasur. Wajahnya masih berseri-seri. Senyum 'tak lepas dari bibirnya.
“Apa ... aku kabarin Alden sekarang, ya?” Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku jaket yang dikenakannya. Baru saja ia menghidupkan layar, gadis itu termenung. “Eum ... kayaknya besok aja, deh. Biar surprise.”
Alka tersenyum dan memeluk ponsel. Matanya terpejam dengan perasaan senang. Sepertinya, malam ini ia akan mimpi indah.
BERSAMBUNG
ke
PART 30
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡