Part 42 - Rapuh

1057 Kata
Merasa ada yang ganjal, Delma memilih bergegas untuk pergi dari kafe. Ia segera membayar uang kopi pada pelayan. Ia bahkan tak sempat untuk menerima uang kembalian yang disodorkan. Fokusnya saat ini hanyalah Alka. Ya, sahabatnya sejak kecil. Tepat saat Delma berada di luar kafe, ternyata hujan deras yang semula jatuh merembes memabasahi bumi telah berhenti. Delma teringat kalau pergi ke kafe ini dengan jalan kaki. Segera, ia mengaktifkan ponsel dan memesan layanan ojek online. Tak butuh waktu yang lama, pemesanan berhasil dan ia tinggal menunggu kedatangan si driver ojek online. Untungnya, posisi driver tersebut tidak jauh dari posisi Delma saat ini. Delma menunggu dengan perasaan tak tenang. Ia dibuat resah memikirkan keadaan Alka. Ia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Alka menelepon dirinya, tetapi belum sempat menjawab telepon tersebut, gadis itu sudah mengakhirinya. Anehnya lagi, saat Delma mencoba untuk menghubungi Alka, hanya terdengar suara operator yang memberitahu jika kontak Alka sedang tidak aktif alias tidak bisa dihubungi. Kemungkinannya satu, Alka mematikan ponsel. Perasaan Delma benar-benar tidak tenang. Ia merasa cemas terhadap keadaan sahabatnya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. TIN! Delma menoleh ke sumber suara. Laki-laki itu menjatuhkan perhatian pada seorang pengendara sepeda motor yang menggunakan jaket berwarna hijau dengan beberapa bagian berwarna hitam. Delma yakin kalau pengendara sepeda motor itu adalah driver ojek online yang sudah ia pesan jasanya tadi. “Mas Delma, ya?” “Iya, Mas. Sesuai aplikasi, ya, Mas.” “Siap, Mas.” Delma mengambil alih helm dari tangan driver ojek online dan mengenakannya secara buru-buru. Ia segera duduk di jok sepeda motor, tepat di belakang driver ojek online. “Mas, tolong ngebut, ya. Saya buru-buru soalnya.” “Tapi---” “Please, Mas.” Driver ojek online pun pasrah. Ia mengangguk dan berpesan pada Delma, “Ya, Mas. Saya ngebut, nih. Pegangan.” “Ya,” balas Delma. Tangannya bergerak ke belakang, berpegang erat pada handle. Sepeda motor melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Untungnya, si driver ojek online cukup handal untuk urusan kebut-mengebut di jalan. Delma merasa puas dengan kesanggpuan si driver ojek online, walaupun ia agak waswas saat sepeda motor menghadapi belokan jalan. Apalagi, keadaan jalan masih basah akibat hujan derasa tadi. Tidak menuntup kemungkinan kalau akan membuat licin dan kendaraan kehilangan keseimbangan. Beberapa menit perjalanan, akhirnya Delma sampai di tempat tujuan. Ia buru-buru turun dari sepeda motor dan segera berlari kecil memasuki area indekos. “Eh, Mas, Mas!” Delma terpaksa menghentikan langkah. Ia membalikkan badan dan menatap driver ojek online. “Apa, Mas?” tanyanya dengan suara agak keras. “Helmnya lepas dulu, lah. Saya mau narik lagi ini.” Delma melirik ke atas. Ia berdecak pelan. Bisa-bisanya ia lupa untuk melepas helm. Ia buru-buru melepas pengait helm dan mendorong benda itu ke atas. “Ini, Mas,” katanya sambil menyerahkan helm pada driver ojek online. Ia sudah siap membalikkan badan, tetapi langkahnya lagi-lagi harus tertunda oleh sebuah panggilan. Ia menolah ke belakang dan menatap driver ojek online dengan raut seperti sedan menahan kesal. “Apa lagi, Mas?” “Ongkosnya belum bayar, Mas. Saya, kan, butuh duit buat makan juga.” Delma mendesah berat. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan selembar uang berwarna hijau. Ia berikan uang tersebut pada driver ojek online dan segera kembali pada niatnya. “Mas!” Delma mendengkus kasar. Ia membalikkan badan dan menatap tajam driver ojek online. “Apa?” tanyanya datar. Driver ojek online tersenyum lebar dan mengangguk. “Makasih uangnya. Mari.” Delma hanya diam, menatap kepergian driver ojek online. Laki-laki itu bergegas berlari kecil menuju indekos putri. Area indekos terlihat sepi karena besar ada yang memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, ada juga yang masih ada tanggungan kuliah di hari Sabtu. Langkah Delma memelan saat melihat jejak sepatu di teras indekos putri. Laki-laki itu langsung menatap pintu indekos yang berada paling pojok kanan. Mungkinkah Alka sudah pulang? Delma kini sudah berada tepat di depan pintu kamar indekos Alka. Ia menatap papan kayu di hadapannya. Ia segera mengetuk-ngetuk pintu tersebut agak kencang. “Alka! Alka!” Delma terus mengentuk pintu kamar indekos sahabatnya. “Alka! Kamu udah pulang?” Usaha Delma itu tidak membuahkan hasil. Tidak ada yang menyahut seruannya. Hanya hening yang mendominasi. Delma kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar indekos Alka. Ia meraih gagang pintu dan mencoba mendorongnya. Alangkah tertegunnya laki-laki itu saat pintu kamar indekos Alka bisa terbuka. Dahi Delma berkerut menyadari hal tersebut. Segera, ia mendorong pintu, membukanya lebih lebar. Laki-laki itu tercenung melihat seorang gadis yang ternyata berdiri di balik pintu. Delma terdiam di tempat. Napasnya agak tersengal karena panik, usai berlari kecil, dan mengetuk-ngetuk pintu. "Alka?" panggilnya pelan pada gadis yang berdiri dengan kepala tertunduk dan rambut panjang yang terlihat agak lepek, juga berantakan. Delma menatap Alka dengan raut heran. Ia berjalan mendekati sahabatnya. Ia dibuat bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi pada Alka. Mengapa ... gadis itu terlihat kacau dan ... rapuh? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadu pada gadis itu? Pandangan Delma mengedar. Ia baru sadar kalau keadaan kamar Alka cukup berantakan. Ia dibuat tertegun saat melihat beberapa potong pakaian tercecer begitu saja di lantai kamar indekos. Di antaranya juga terdapat dalaman khusus wanita. Delma meneguk ludah berat. Laki-laki itu kembali menatap Alka dengan raut bingung. Ia memegang kedua pundak gadis itu. "Alka, kamu ... kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir. Sayangnya, Alka hanya diam, tak menjawab apa-apa. Hening mendominasi suasana dalam kamar Alka. Delma terus memandangi sahabatnya yang membeku di tempat. Sungguh, ia benar-benar bingung dengan apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu. "Alka, kamu---" Ucapan Delma terhenti karena tiba-tiba saja Alka mengangkat wajah dan menatapnya. Delma tercenung melihat wajah Alka yang bersimbah air mata. Raut wajah gadis itu menyiratkan luka dan kerapuhan. Bahu Alka berguncang. Gadis itu menggigit bibir bawah dengan kuatnya. Air mata gadis itu mengalir deras, membuat wajahnya kian basah. Alka mulai terisak dan tanpa diduga, gadis itu berjalan ke arah Delma. Ia menghambur ke tubuh laki-laki itu, memeluk serat sahabatnya. Delma tertegun dengan tindakan Alka itu. Ia menatap Alka yang memeluk erat tubuhnya. Samar, ia bisa merasakan tubuh Alka yang berguncang. Ia juga bisa mendengar suara tangisan gadis itu. Terdengar memilukan di telinganya. Alka mengeratkan pelukannya dengan Delma. Ia menenggelamkan wajahnya di d**a sahabatnya. Ia terus menangis. "Delma ...." Delma hanya diam, menunggu kelanjutan perkataan Alka. "Alden ...." BERSAMBUNG ke PART 43 Jangan lupa ♡ untuk cerita IHYILY Komennya juga, ya, Epribadeh See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN