Part 9 - Terbaik untuk Alka

1407 Kata
ALKA dan Delma kini sudah duduk di dalam kereta. Mereka duduk bersisian dengan Alka berada di dekat jendela. Gadis itu menikmati pemandangan luar. Senyumnya terkembang tipis melihat pemandangan yang cukup indah. Apalagi, saat sinar mentari yang hangat menyiram paras cantiknya. Teringat sesuatu, Alka mengambil ponsel dan segera membuka aplikasi kamera. Ia mencari angle yang pas dan mulai mengambil memotret. Cekrek! Foto pemandangan yang menurut Alka cukup estetik itu, berhasil ia dapatkan. Seperti anak muda kebanyakan—pada zaman sekarang, Alka segera mengunggah foto tersebut ke cerita atau status media sosialnya. Tak lupa, ia membubuhkan sebuah caption, ‘Hangat, seperti rasamu untukku’ Alka tersenyum geli membaca ulang kalimat tersebut. Namun, ia segera menggeleng beberapi. ‘Alay banget, deh, kalimatnya,’ batinnya. Ia segera menghapus kalimat tersebut dan menggantinya dengan kalimat yang baru. Emoticon matahari menjadi keputusan final untuk Alka. Ia segera mengunggah foto tersebut. Kantung plastik putih di pangkuan menarik perhatian Alka. Ia menyimpan ponsel ke dalam tas dan beralih mengeluarkan isi dari kantung plastik. Gadis itu mulai membuka kemasan roti isi selai cokelat. Ia melirik ke kiri, di mana Delma berada. Laki-laki itu sedang duduk tenang dengan kedua telinga tersumpal earphone dan wajah menghadap ponsel. “Ma,” panggil Alka. Tak ada tanggapan apa-apa dari sahabatnya itu. Alka berdecak. “Delma!” panggilnya lebih keras sambil menyenggol bahu Delma. Delma menoleh dan melepas sebelah earphone-nya. "Apa?" tanyanya. “Mau, enggak?” Alka menawarkan roti isi selai cokelat pemberian Alden tadi di stasiun. Delma tanpa pikir panjang langsung menggeleng pelan, menolak tawaran Alka. Alka mengerutkan dahi. “Kenapa?” Gadis itu memang mudah penasaran. Tak terkecuali dengan hal-hal kecil yang kadang tidak terlalu penting untuk diketahui. “Lagi enggak pengin aja.” “Ya ..., enggak penginnya karena apa? Ini enak, lho. Rasa cokelat. Kesukaan kamu juga, ‘kan?" cecar Alka sambil menyobek kecil roti isi di tangan dan memasukkannya ke mulut. “Udah kenyang.” “Masa? Perasaan, tadi pas di kos kamu bilang belum makan, tuh.” “Udah kenyang liatin tingkah kamu sama Alden tadi di stasiun,” jawab Delma dengan nada datar. Mendengar jawab tersebut, Alka tertawa kecil. “Kenapa? Kamu iri, hm?” Delma hanya diam, tak membalas. “Makanya, kamu, tuh, cari pacar, Ma. Biar ada yang merhatiin. Biar enggak kesepian. Biar bisa merasakan apa itu cinta. Biar enggak jadi jomlo ngenes yang hobinya ngeliatin sahabatnya pacaran sama orang lain.” Alka tersenyum geli dan kembali melahap roti isi. Delma menatap Alka dari samping. Tatapannya begitu serius. Sadar sedang diperhatikan, Alka pun menoleh ke kiri. Benar dugaannya. Delma sedang menatapinya. Gadis itu terlibat kontak mata selama beberapa saat dengan Delma. “Kenapa?” tanyanya lugu. Delma segera mengalihkan perhatian ke arah lain. “Enggak apa-apa,” jawabnya. Alka hanya mengangguk singkat dan kembali menikmati santapan paginya. “Oh, ya, Al.” “Hm?” Alka menoleh ke arah Delma. Delma terdiam beberapa saat dengan tatapan lurus ke depan. Beberapa detik kemudian, barulah ia menoleh ke kanan, menatap Alka. “Kamu ... bahagia kalo pacaran?” Dahi Alka spontan berkerut. Ia berusaha menahan diri agar tidak tertawa usai mendengar pertanyaan konyol Delma itu. Padahal, bibirnya sudah berkedut-kedut. “Ya, bahagia, lah. Kenapa nanya gitu? Kamu ... pengen pacaran juga, ya, jangan-jangan?” Alka menuding Delma. “Justru, aku enggak mau pacaran, Al.” “Kenapa?” “Buang waktu,” singkat Delma. Alka cukup tertegun dengan jawaban Delma. Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia mendengar pernyataan itu terlontar dari mulut Delma. Akan tetapi, ada rasa tidak terima kalau pacaran dianggap hanya membuang-buang waktu. “Simpelnya, kalo bisa langsung serius, kenapa harus pacaran dulu?” “Ya ..., kan, semua butuh proses, Ma. Butuh adaptasi. Butuh pendekatan. Butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain.” “Emangnya ..., harus dengan label pacaran dulu, gitu? Sahabatan juga usaha untuk saling mengenal, 'kan?” “Eum ..., ya ..., enggak harus juga, sih. Ya ..., intinya, balik lagi ke prinsip tiap orang yang beda-beda. Prinsipku belum tentu sama kayak kamu. Begitupun prinsip kamu belum tentu sama kayak punyaku.” “Jadi, menurut kamu pacaran itu prinsip?” Alka terbungkam karena pertanyaan Delma yang satu itu. Matanya berkedip beberapa kali. Gadis itu terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia dibuat berpikir ulang tentang perkataannya sendiri. Sejak kapan 'pacaran' disebut sebagai prinsip? “Al?” Alka tersadar dari lamunan. Gadis itu menatap Delma dan tersenyum kikuk. “Ya ..., enggak gitu juga kali, Ma. Kenapa, sih, kamu, kok, jadi bahas-bahas tentang pacaran gini?” Delma mengembuskan napas berat. “Aku cuma pengen kamu gak terlalu terlena sama hubungan pacaran, Al. It's okay kalo kamu mau pacaran, dengan siapa pun itu, apalagi sama Alden. Silakan. Tapi ...,” Delma menatap Alka lekat-lekat, “kamu harus bisa jaga diri. Jangan gampang lengah. Kamu itu cewek. Harus bisa jaga kehormatan dan harga diri, Al.” Alka terdiam beberapa saat. Ia sekarang mulai paham akan mengarah ke mana pembicaraan ini. “Oh .... Kamu nyinggung soal kejadian malem kemarin-kemarin, yang aku lakuin sama Alden, hm?” Alka mengembuskan napas berat. “Aku tau itu emang salah, Ma. Tapi, setiap hal bisa terjadi karena ada alasan, ‘kan?” “Jadi, apa alasan kamu sama Alden ngelakuin itu? Di kosan, mentang-mentang udah sepi, enggak akan ada yang liat. Gitu?” Alka menelan ludah berat. Ia merasa terintimidasi sekarang. “Gimana kalo sampe keluarga kamu tau? Terutama mama sama papa kamu yang notebene enggak setuju kalo kamu pacaran, hm?” Alka memejamkan mata beberapa saat. Ia mengusap wajah, frustrasi dengan pertanyaan Delma yang seolah memojokkan, mencari kesalahannya. “Delma, listen.” Alka menatap Delma dengan raut muka serius. “Aku bisa urus masalah ini sendiri. Ini urusan aku, bukan urusan kamu. Iya, emang kamu sahabat aku. Kamu juga dikasih amanah khusus sama mama buat jagain aku. Tapi, please. Untuk urusan aku sama Alden, tolong kamu enggak usah ikut campur, ya. Aku bisa jaga diri dan aku tau batasan, kok. Alden pun gitu. Dia cowok yang baik. Aku percaya itu. Kemarin ... kita ... cuma khilaf aja.” Alka menunduk sejenak, merenungi penuturannya baru saja, terutama di kalimat terakhir. Gadis itu mengembuskan napas pelan dan kembali menatap Delam. “Intinya, kamu diem aja. Enggak usah ember ke mama papa kalo selama setahun ini aku pacaran sama Alden. Okay?" sambung Alka. Delma terdiam. Ia tidak tahu harus meladeni Alka hingga kapan. Mungkinkah, ia harus selalu berbohong terhadap orang tua Alka mengenai hubungan pacaran diam-diam yang dijalani anak mereka? “Aku bisa percaya sama kamu, ‘kan, Ma?” Alka menatap Delma penuh harap. Delma terdiam beberapa saat. Ia merasa ragu. Namun, melihat wajah Alka yang memelas seperti sekarang, apalagi gadis itu adalah sahabatnya sejak kecil, Delma jadi merasa tak tega. Laki-laki itu akhirnya mengangguk pelan. Untuk ke sekian kalinya, ia luluh oleh Alka. Alka tersenyum senang melihat respons Delma. “Makasih, ya, Ma!” Delma ikut tersenyum dan mengangguk. Ia hanya berharap, semoga Alka bisa memegang kata-katanya sendiri. Sisa perjalanan hanya diisi oleh keheningan. Tidak ada perbincangan yang terjadi usai perdebatan kecil antara Alka dan Delma beberapa menit lalu. Keduanya kini sibuk dengan urusan masing-masing. Alka yang tertidur, sedangkan Delma tengah asyik mendengarkan musik melalui earphone sambil memejamkan kedua mata. Sesekali, Delma bersenandung, mengikuti melodi lagu. Namun, di saat sedang asyik-asyiknya bersenandung, laki-laki itu dikejutkan dengan sesuatu yang menimpa bahunya tiba-tiba. Refleks, ia membuka mata dan menoleh ke kanan. Ia terdiam saat menemukan kepala Alka bersandar di bahu kanannya. Gadis itu tertidur pulas dengan deru napas yang teratur. Paras Alka tampak begitu tenang saat keadaan seperti ini. Bagai anak kecil yang benar-benar masih polos alias lugu. Sinar mentari menyirami paras cantik Alka. Walau begitu, Alka tetap lelap tertidur, tak merasa terganggu. Tak tega melihat hal tersebut, Delma menyelipkan tangan kanannya dari belakang tubuh Alka. Lantas, ia memosisikan tangannya di atas wajah Alka, melindungi wajah gadis itu dari paparan sinar mentari pagi yang menyilaukan. Delma biarkan hal itu terjadi hingga tiba di tempat tujuan. Terpenting baginya, Alka merasa nyaman. Ya, melihat Alka merasa nyaman dan bahagia dengan caranya sendiri itu lebih baik bagi Delma. Tak masalah jika ia yang harus selalu mengalah untuk Alka. Asal Alka bahagia dengan pilihannya sendiri. Delma hanya bisa mengawasi saja. Tak ada hak untuk ikut campur. Apalagi, dalam hubungan percintaan sahabatnya itu dengan Alden. BERSAMBUNG ke Part 10 Ada yang MLYT gegara Delma, enggak, nih? Hayoloooh, hihi:D Well, jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN