Chapter 22

1052 Kata

*** "Jadi kamu menolak?" tatapan culas itu menusuk Mega secara terang-terangan. "Kenapa? Ini tawaran besar, kan? Kamu hanya melakukan satu hal gampang." Rasya masih mencoba menprovokasi. Tapi sepertinya wanita kampung di depannya ini sama sekali tidak terlihat goyah. "Maaf, dok. Saya masih belum ngerti kenapa dokter justru meminta bantuan saya. Walaupun tawaran dokter sempat membuat saya bimbang, saya nggak akan mengkhianati teman saya." Rasya mendengus dan tersenyum sinis. Rupanya dia sudah tidak tahan lagi untuk melepas topeng. "Teman katamu?! Omong kosong!" Mega kebingungan saat melihat atasanya itu mengobrak-abrik seluruh barang di atas meja kerjanya. Perempuan itu tampak menggila dan Mega tidak tahu harus melakukan apa. Di saat Mega panik menggoyangkan tangannya untuk menenangk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN