Hanya karena seseorang berbuat tidak baik kepada kita, bukan berarti kita harus membalasnya dengan cara yang sama.
***
ARUMI POV***
Cinta, rasa yang tidak pernah aku duga sebelumnya jika dia akan hadir dan menyelimuti hari-hari ku. Rasa ini kian hari semakin bertambah. Tidak bisa aku pungkiri lagi jika kini aku sudah terpikat oleh wujud Mas Farhan.
Terkadang aku selalu menyayangkan takdir yang sedang aku genggam saat ini. Cinta hadir namun tak bisa aku genggam. Cinta bisa aku rasa, tapi tidak bisa aku miliki.
Aku tidak pernah bosan mengangkat kedua telapak tanganku dan menengadahkan kepal memohon kebaikannya. Aku yakin Tuhanku tidak pernah diam, aku yakin Tuhan ku mendengar apa yang aku pinta kepadanya.
Cinta tidak bisa aku salahkan, Karena cinta memang tidak pernah salah. Aku ingin semesta tau jika aku adalah milik Mas Farhan dan dia adalah milikku. Tapi aku sadar cinta memang tidak perlu memiliki, cukup dengan melihat orang yang kita sayang bahagia, itu sudah luar biasa.
Tapi, apa aku akan sanggup jika kebahagiaan suamiku ternyata bersama wanita lain?
Apa aku akan sanggup melihat suamiku bersanding dengan wanita lain?
Apa aku juga akan sanggup jika kelak akan ada kata istri kedua dalam rumah ini?
Sungguh hatiku tidak sekuat itu.
Rasanya aku ingin berteriak jika perih di d**a ini sangat melekat.
"Bu!" Suara remaja cantik mengalihkan fokus ku yang sedang menatap poto mesra postingan di i********: suamiku yang menampilkan Alifia sedang mencium pipi Mas Farhan.
"Ibu kenapa?" Sambung Nasya. Nasya adalah murid ku di SMP tempat aku mengajar saat ini. Dia sangat cantik juga sangat berprestasi.
"Ibu tidak apa-apa. Kamu ada apa ke ruangan ibu?" Aku mencoba menghampirinya yang hanya berdiri diambang pintu dengan ekspresi wajah canggung.
"Nasya mau ibu jadi guru privat Nasya." Ucapnya tanpa basa basi.
"Ibu bisa, kan?" Sambungnya lagi.
"Maaf Nasya, sepertinya ibu tidak bisa." Aku mengelus kepalanya yang memasang wajah kecewa setelah mendengar jawabanku.
"Tapi, Nasya mau ibu yang jadi privat Nasya di rumah. Nasya juga sudah bilang sama bunda." Nasya nampak memelas di hadapanku, rasanya aku tidak tega melihatnya. Namun saat ini rasanya aku cukup kewalahan dengan aktivitas keseharian ku yang cukup menyita waktu.
"Biar ibu pikirkan lagi, Ya!" Dia hanya menganggukkan kepala dan pergi menjauh dari hadapanku.
Jam sudah menunjukan pukul 14.00, jadwal ngajar hari ini sudah selesai. Aku mencoba beranjak dan berpamitan kepada para guru untuk pulang lebih dulu.
Tiupan angin begitu terasa menggerakkan pashmina yang aku kenakan, suasana ini membuat aku rindu akan masa-masa dulu. Memori masa kecil yang tidak akan pernah bisa aku lupakan, meski tidak dapat aku pungkiri sampai saat ini aku belum pernah melihat sosok orang tuaku.
Aku pernah memimpikan menikah dengan cara di jodohkan serta berujung hidup bahagia, layaknya dalam sebuah cerita novel yang sering aku baca. Namun ternyata semua memang hanya cerita. Jika kehidupan yang aku alami ini adalah kisah dalam sebuah cerita novel, mungkin seseorang yang membaca kisah hidupku ini akan beranggapan bahwa aku hanya seorang tokoh wanita lemah. Bukan! aku tidak selemah itu, hanya saja aku ingin memperjuangkan apa yang menjadi milikku, karena aku yakin keajaiban itu kelak akan menyapa. karena aku yakin bintang tidak akan pernah bisa aku raih hanya dengan tangan kosong. Aku tidak ingin ada kata menyerah dalam kamus kehidupanku. Egoiskah jika aku seperti itu? aku sudah berjalan terlalu jauh, biarkan aku terus berusaha mencoba dan mencoba sampai Allah membisik perlahan bahwa aku tidak perlu melanjutkan perjalanan ini lagi.
***
AUTHOR POV***
Arumi nampak sedang berkutat dengan laptopnya. Dia sedang membuat modul untuk bahan pembelajar di kelas. Dia nampak mempersiapkan berbagai model pembelajaran untuk menerapkan 8 keterampilan dasar mengajar.
"ARUMIIIIIII!" Teriakan seseorang membuat Arumi meninggalkan pekerjaannya.
"Ya, Mas! Ada apa?" Arumi berlari menuju kamar Farhan.
"Kamu ngapain sih, lama bnget saya panggil." Farhan duduk bersandar di sofa kamarnya.
"Maaf mas, tadi aku sedang membuat modul." Arumi duduk di samping Farhan. Dia mulai memijit tangan Farhan yang nampak kecapean.
"Kamu sakit mas. Badan kamu panas, ayo aku bantu." Arumi dengan sigap memapah Farhan untuk berbaring di atas kasur. Arumi mulai membuat bubur untuk makan Farhan, dia tidak lupa menyuruh Farhan untuk minum obat.
"Kamu istirahat dulu mas, biar enakan." Arumi kembali ke kamarnya lalu membawa laptop untuk melanjutkan pekerjaannya di kamar Farhan.
Farhan melihat ketulusan dari Arumi. Apa pun yang Farhan perbuat kepada Arumi, tidak pernah sedikit pun membuat Arumi memperlakukan Farhan dengan tidak baik.
Arumi tidak pernah meminta apapun dari Farhan atau pun menuntut apa pun. Arumi selalu memasang wajah baik-baik saja meski Farhan tau sebenarnya Arumi terluka dengan apa yang dia perbuat.
'Arumi maaf, aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Kamu terlalu baik buat aku, kamu terlalu sabar menghadapi semua perbuatan aku. Maaf'
Arumi merasa jika dirinya sedang di perhatikan. Dia mencoba menoleh ke arah Farhan.
"Kamu belum tidur, Mas?" Arumi kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu belum ngantuk? Ini sudah malam!" Farhan terus memandang wajah Arumi. Dia merasa lelahnya hilang ketika melihat wajah tulus dari Arumi.
"Sebentar lagi aku tidur. Nanggung sedikit lagi." Arumi hanya tersenyum ke arah Farhan.
"Kenapa kamu ingin menjadi seorang guru? Kan gajinya kecil, harus ngurusin anak orang ditambah anak-anaknya pada nakal."
"Kalau ngajar itu mengabdi mas, bukan bekerja. Tidak akan ada seorang dokter tanpa seorang guru, tidak ada seorang insinyur tanpa seorang guru. Kalau kita ingin mengumpulkan harta, banyak uang, lebih baik berbisnis." Arumi tersenyum dan menyimpan laptopnya.
"Kalau kamu ngerasa gaji kamu sedikit kenapa kamu masih ngajar? Kan uang dari orang tuaku cukup untuk menghidupi kebutuhan kita." Ucap Farhan dengan beralih posisi menjadi bersandar.
"Maksud kamu, Mas?" Arumi mengernyitkan keningnya, menandakan jika dia tidak mengerti dengan apa yang Farhan katakan.
"Ya, selama ini kan saya tidak pernah ngasih uang sepeserpun kepada kamu semenjak menikah. Kamu punya uang, bisa memenuhi segala kebutuhan di rumah ini pasti uang dari orang tuaku, kan?" Farhan tersenyum penuh kemenangan. Namun Arumi hanya membalas semua dengan senyuman.
'Aku berani bersumpah jika aku tidak pernah sedikitpun meminta atau menerima uang dari orang tuamu.' Arumi memalingkan wajahnya berkata dalam hati.
"Kenapa kamu diam?" Sambung Farhan.
"Tidak apa-apa mas. Mending sekarang kamu tidur biar cepet sembuh, ini sudah larut malam." Arumi membenarkan posisi Farhan dan menyelimuti Farhan.
"Aku akan menemani kamu disini, malam ini. Hmm jangan khawatir, aku akan tidur di sofa." Arumi beranjak pergi, namun Farhan menarik tangan Arumi.
"Kamu tidur disini, temani aku." Perkataan Farhan membuat Arumi mengernyitkan kening.
"Kemarilah Arumi!" Farhan menepuk tempat di sebelahnya. Arumi mencoba menetralkan jantungnya yang berdebar karena perubahan sikap Farhan.
Farhan tiba-tiba memeluk Arumi yang sedang memandangnya penuh kebingungan.
"Maafkan saya Arumi, saya selalu menyakiti hati kamu. Saya bukan suami yang baik buat kamu. Saya jahat, saya selalu melukai kamu." Farhan mengeratkan pelukannya.
"Jangan seperti ini mas, sudahlah. Ayo kita tidur ini sudah larut sekali," Arumi mencoba menetralkan debaran jantungnya yang saat ini terasa begitu kencang.
"Saya minta maaf, karena saya belum siap untuk mengakui kamu sebagai istri saya."
Arumi hanya tersenyum menanggapi ucapan Farhan. Dia cukup sadar dengan posisinya dalam hidup Farhan. Dia juga sadar atas dirinya sendiri. Wajar saja jika Farhan memang merasa tidak siap untuk mengakui Arumi sebagai istrinya.
'Jika keajaiban itu ada, bolehkah aku meminta untuk disegerakan? Jika seandainya keajaiban itu tidak memihak, aku berharap semoga yang terjadi bisa aku terima dengan kelapangan hati,' Arumi berkata dalam hati dengan memandang wajah Farhan yang mulai terlelap.
***
"Raihan!" Tepukan di pundak Raihan membuatnya membalikan badan.
"Ketemu disini, kita." Sambung orang tersebut.
"Masyaa Allah, Farhan. Gimana kabarnya, nih? lama sekali tidak berjumpa." Raihan menyalami Farhan serta mempersilahkannya untuk duduk.
"Gue inget, terakhir kita ketemu itu ketika reuni akbar. Gimana kerjaan lo saat ini?" Farhan memulai percakapan.
"Nah, betul sekali. Eh, tapi ini siapa bro?" Raihan melirik kepada seseorang di sebelah Farhan yang hanya menyimak perbincangan mereka. Tidak mau merasa keberadaannya tidak di anggap, orang yang bersama Farhan sesekali memotong obrolan mereka.
"Ini Alifia, pacar gue. Dulu dia ikut pas reuni akbar," jelas Farhan yang dibalas anggukan oleh Raihan.
'Memang benar wanita ini adalah orang yang Farhan bawa saat reuni akbar waktu itu. Lalu Arumi dia permalukan, padahal Arumi istrinya sendiri. b******k!' Raihan geram sendiri berkecamuk dalam hati. Ingin rasanya dia memukul wajah Farhan dengan keras. Farhan tidak ada hati, dia tidak pantas menjadi suami untuk Arumi.
"Woy, lo kenapa? Kok bengong," Farhan menepuk pundak Raihan.
"Ow, so---sorry. Jadi Alifia ini pacar lo." Raihan sedikit enggan melihat ke Arah Alifia yang berpakaian seperti kekurangan bahan itu.
"Ralat ya, lebih tepatnya calon istri." Kini Alifia yang membuka suara. Nampak Alifia sangat menikmati obrolan mereka. Dia tanpa rasa malu bertingkah manja kepada Farhan di depan Raihan.
'b******k lo Farhan. Lo sudah menyakiti wanita sebaik Arumi.' Raihan kembali menyedot minumannya.
"Kenapa lo, haus? Minuman sampe habis sekilas kaya begitu." Farhan menertawakan Raihan.
"Lo tau aja kalau gue lagi haus." Raihan tersenyum sinis.
"Kenapa gak pesen lagi. Biar gue yang bayar." Farhan tidak menyadari jika sebenarnya Raihan murka dengan sikapnya.
"Gue haus ingin minum darah lo, sampai habis. Kalau gue minum selain darah lo, gue gak akan pernah puas." Raihan mengalihkan pandangan ke segala arah.
"Haha, kesambet setan lo. Atau mau bercanda tapi garing?" Farhan tertawa terbahak-bahak. Dia mengira bahwa ucapan Raihan hanya sebuah guyonan. Padahal Raihan benar-benar murka.
"Jadi, kapan kalian mau nikah?" Ucap Raihan membuat Farhan berhenti dari kegiatannya yang sedang memakan seafood bakar.
"Secepatnya! Setelah Farhan menceraikan istrinya dia langsung nikah sama gue." Ucap Alifia spontan dan langsung menutup mulutnya. Mengetahui jika Alifia salah bicara Raihan mencoba bersikap tenang.
"Maksud-----" Raihan ingin mengeluarkan suara, namun Farhan segera memotongnya.
"Maksud Alifia, kalau setelah beres proses penceraian sepupu gue. Begitu, ya kan sayang?" Ucap Farhan.
"Nah, itu maksud gue." Alifia mencoba mencairkan suasana kembali dengan mengalihkan pembicaraan dan bertanya mengenai keseharian Raihan.
"Mbak!" Teriak Alifia kepada salah satu pelayan. Tidak lama pelayan itu datang. Alifia mencoba memesan makanan kembali.
"Kalian hubungan sudah lama?" Raihan merasa ingin tahu lebih dalam tentang Farhan. Bukan kehidupan Farhan yang ingin dia ketahui, tapi dia ingin tahu seperti apa Farhan memperlakukan Arumi. Arumi lah yang menjadi alasan untuk Raihan ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan Rahan Abqary.
"Sampai saat ini sudah satu tahun lebih, dan kami akan segera melanjutkan ke jenjang pernikahan." Ucap Alifia
Pprrraaaaannggg
Suara piring terjatuh mengalihkan pandangan semua orang yang ada di restoran tersebut. Seorang pelayan tidak sengaja menjatuhkan pesanan yang dia bawa.
"Ataga, itu pesanan gue. Lo ceroboh banget sih." Alifia berdiri dan mendorong pelayan tersebut.
"Lo liat kan, makanannya tumpak kena baju gue. Asal lo tau, orang miskin kaya lo gak akan sanggup beli baju ini." Alifia terlihat sangat marah ketika bajunya terkena saus dari makanan pesannya.
"Maaf, saya tidak sengaja." Pelayanan tersebut mencoba membersihkan baju Alifia. Namun tangannya ditepis kasar oleh Alifia.
"Arumi!" Farhan dan Raihan berkata bersamaan. Mereka baru menyadari jika seorang pelayan restoran itu adalah Arumi.
"Haha, lo kerja di sini? Pantas saja penampilan lo itu kucel, dekil. Tapi lo cocok sih kerja di sini. Kan lo itu miskin, pasti gak punya uang makanya kerja serabutan." Alifia tertawa melihat Arumi yang sedang membereskan pecahan piring di lantai.
"Saya memang miskin mbak, tapi setidaknya saya tidak miskin etika." Ucap Arumi masih dengan posisi membereskan pecahan piring.
"Jadi lo pikir gue miskin etika?" Alifia tersulut emosi.
"Heh, lo sadar diri dong lo itu siapa. Level lo sama gue itu beda." Alifia berteriak sehingga menjadi pusat perhatian.
"Anda benar sekali, level kita beda. Karena level kita beda saat ini anda menjadi tontonan para pengunjung restoran, suara anda sungguh menarik perhatian mereka. Mungkin jika tau etika kita tidak perlu bertengkar dalam keramaian." Arumi berdiri dan mencoba pergi dari hadapan Alifia. Namun Alifia mencoba menampar pipi Arumi, tapi dengan sigap tangan Raihan menahan pergerakan Alifia.
"Kamu tidak malu Alifia?" Raihan menepis kasar tangan Alifia.
"Jaga etika kamu jika ingin di hargai." Sambung Raihan.
"Kamu menghina saya?" Alifia mendekat ke arah Raihan.
"Alifia, sudah." Farhan menarik lengan Alifia untuk mundur.
"Kamu lihat mas, baju aku ini kotor." Alifia membentak Farhan.
"Gampang lah, kan tadi kamu bilang sendiri kalau orang miskin itu gak akan sanggup beli baju ini. Kalau kamu mampu, kamu bisa beli lagi yang lebih mahal dari ini. Gak perlu marah marah di tempat umum." Farhan sedikit kesal dengan kelakuan Alifia.
"Saya permisi." Arumi pergi menjauh dari hadapan mereka.
"Arumi, tunggu." Raihan mengejar Arumi yang semakin menjauh sedangkan Farhan, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Raihan. Raihan nampak begitu peduli dan tidak menerima jika Arumi di perlakukan tidak baik seperti tadi.
'Apa ada yang kalian sembunyikan dari saya?' Hatinya berkecamuk
Arumi mempercepat langkahnya, ucapan bahwa Farhan dan Alifia akan segera menikah terus terngiang dalam ingatannya. Dia merasa dunianya bergoyang saat ini juga, dia tidak tau harus seperti apa jika seandainya hal itu benar terjadi.
'Apa yang Alifia katakan itu benar? Apa aku hanya akan diam dan menyaksikan?' pikiran Arumi terus di penuhi ucapan Alifia tanpa dia sadar jika Raihan mengikutinya dari belakang.