Semalaman Devita tidak bisa tidur, dia memikirkan Benjamin yang semakin acuh padanya. Memang ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar, dan bukan pertama kalinya pula ia diacuhkan. Tapi mengapa kali ini hatinya cukup sakit menerima perlakuan ini. Selama tujuh tahun bersama, Devita selalu bergerak duluan untuk meminta maaf, padahal tak selalu dia yang berbuat salah. Rasa egonya selalu dia tekan hingga tidak pernah muncul kepermukaan. Bagi Devita, dalam sebuah hubungan tidak akan baik dan bertahan lama jika tidak bisa saling toleransi apalagi bertengkar hanya karena masalah yang sepele. Menurutnya tidak sepadan dengan akibatnya. Prinsip itu selalu Devita pegang sampai saat ini. Setiap ada masalah selalu ia yang mengalah, dalam pikirannya lebih baik ia bertoleransi pada kemauan Benjamin, s

