Tiga hari berlalu. Aku masih duduk termenung di atas tempat tidurku. Aku mengabaikan mereka yang berniat menghiburku. Aku merasa hampa. Aku butuh Bisma. "Ayolah, Mawar! Makan sedikit aja!" Ibu terus memaksaku makan sejak tiga hari lalu. Tapi aku selalu menolak. Aku tidak nafsu makan. "Kenapa Bisma jahat, Bu? Kenapa dia ninggalin Mawar? Mawar ada salah apa sama dia?" lirihku. Air mata kembali menetes dipipiku. "Ibu akan bicara sama dia. Ibu janji. Tapi sekarang kamu makan dulu ya!" Ibu. "Mawar, Tante Kamila menunggumu di ruang tamu." ujar Kak Elang baru saja datang. Aku hanya diam, tak menyahuti ucapan kakakku sama sekali. "Kakak suruh kesini aja ya?" Kak Elang. Tak lama kemudian, Tante Kamila menghampiriku. Ibu meninggalkan kami agar kami dapat berbicara empat mata. "Sayang, maafin

