CALISTA Aku berjalan dalam keheningan bersama Ben siang ini. Sesaat aku memperhatikan sekeliling. Kota Paris tidak pernah berubah, sekalipun sudah lebih dari beberapa tahun lalu ke sini. Kali ini, dia ke kota ini untuk suatu hal bertemu sahabatnya yang sedang tampak bahagia darinya. “Bagaimana kabarmu?” tanya Calista seraya menggiring Ben menuju ke bangku taman terdekat. Perut besar wanita itu membuatnya kesulitan berjalan. Kehamilan kedua dan sudah mendekati waktu melahirkan, jelas menjadikan perutnya sungguh besar. Saat wanita itu menatap menara Eiffel yang menjulang di depannya, dia tidak bisa merasa sebahagia dan sepuas ini. “Baik. Bahagia juga,” jawab Ben. Sahabatnya itu duduk di ujung lain bangku. Kami berdua saling bertatapan sejenak, kemudian terbahak bersamaan. Ben mendesah,
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


