CALISTA Untuk sesaat aku tertegun melihat Mateo mundur. Pria itu terlihat bersalah. Dia pria baik, tidak mau memanfaatkan kesempatan yang ada. Menyadari aku pun mengingkan hal yang sama, perlahan aku mendudukan diri di tepi ranjang. Mata kami bersirobok. Tubuhku seperti bergerak dengan sendirinya saat kaki ini berjalan mendekati Mateo. Mata pria itu melebar saking terkejutnya. Jauh lebih terkejut saat aku yang tiba-tiba saja menubruk tubuhnya, lalu mendaratkan ciuman lain di bibirnya. Aku tidak mabuk, bahkan masih sangat sadar dengan apa yang baru saja kuputuskan. Masa bodoh dengan yang terjadi nanti, malam ini, di tempat ini, aku hanya menginginkan pria ini. “Mateo …,” bisikku sesaat setelah melepaskan ciuman kami. Aku bisa melihat sorot mata pria itu berubah. Cekalannya pada pinggulk

