Brak! Benda kotak berukuran besar dilempar keluar rumah. Membuat Aalea menangis dan merasa panik. Ingin ia berteriak dan memeluk kaki ibunya saat ini. Sang ibu melemparkan dua lembar uang seratus ribuan. Baik raut wajah maupun sorot mata menampakkan bahwa ia sangat marah kali ini.
Aalea sendiri telinganya sudah panas seperti dibakar api. Hampir dua jam ibunya mengoceh gara-gara nilai C. Dan sekarang ibunya malah melempar koper berisi baju dan dua lembar uang seratus ribuan keluar rumah? Apa maksudnya?
"Kamu nggak boleh tinggal di sini! Nilai C itu bikin malu! Kamu boleh balik ke rumah ini kalau kamu udah bisa ngalahin temenmu Si Tuna itu!" ujar ibu.
"Tapi Aalea harus tinggal dimana, Bu?" tanya Aalea dengan air mata berderai.
"Terserah kamu! Mau tidur di jalan kek! Di rumah nenek kek! Terserah! Pokoknya kamu nggak boleh balik kalau belum ngalahin temenmu yang selalu peringkat 1 paralel itu!"
Blam! Ibu Aalea menutup pintu keras-keras. Aalea masih mematung di depan pintu. Sang ibu mengusirnya dari rumah. Dan sialnya, gara-gara nilai. Lagi-lagi soal nilai. Kadang Aalea bertanya dalam dirinya, Apa nilai itu segalanya?
...
Cahaya makin meremang. Seiring petang yang makin berkembang. Gadis bermata sembab berjalan di trotoar sebuah komplek perumahan yang bahkan ia sendiri tak tau apa namanya. Sesekali ia akan menangis jika mengingat kata-kata ibunya tadi sore. Sejauh ini, ia terus mengikuti langkah kakinya tanpa tau kemana tujuan. Ia tak tau harus kemana. Ini pertama kalinya ia diusir dari rumah yang ditinggalinya semenjak kecil. Uang dua ratus ribu yang ada di sakunya sama sekali belum ia pakai. Ia lebih memilih berjalan kaki dari pada naik taksi atau kendaraan umum lainnya walau koper ungu yang dibawanya terasa berat.
Gue harus kemana? Apa ke rumah nenek aja?
Sedetik kemudian ia menggeleng keras. Tidak. Ia tak mau tinggal di rumah neneknya. Ada beberapa pertimbangan yang membuatnya tak mau tinggal di sana. Pertama, rumah neneknya ada di pinggiran Kota Jakarta yang jaraknya sangat jauh dari sekolah. Kedua namun paling utama, tante-tantenya yang tinggal di rumah nenek hobi memerintah. Belum lagi ia pasti akan dibanding-bandingkan dengan sepupu-sepupunya yang punya hidup damai-damai saja. Kau tau kan seorang Aaleasha tidak suka dibanding-bandingkan? Dan jauh sebelum itu ... ada satu pertanyaan di benak Aalea, Apa gue bakal diterima di sana?
Srasssshhh. Hujan turun dengan derasnya. Membuat Aalea terlonjak dan panik setengah mati. Matanya menangkap sebuah rumah bergaya minimalis dengan pagar yang sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang Aalea memasukki rumah itu. Ia berteduh di bawah atap teras sambil terus berharap tak ada yang akan memergokinya sedang berteduh dan mengira ia adalah seseorang dengan niat jahat.
Secepat apapun Aalea berteduh, sayangnya tetap saja baju gadis itu terlanjur basah. Dingin. Seandainya ia di rumah, ia akan langsung mengeringkan diri, memakai sweater rajut kesayangannya, dan tidur dengan balutan selimut tebal. Entah sampai kapan hujan deras ini akan terus mengguyur bumi. Selama ini Aalea merupakan pluviophileㅡseseorang yang sangat menyukai hujan. Tapi kali ini, ia malah berharap hujan segera berhenti. Biasanya aroma tanah basah terkena hujan akan membuatnya tenang. Hanya saja, kali ini aroma tanah sama sekali tak bereaksi padanya. Bahkan malah membuat pikirannya semakin keruh.
"Lho? Aalea?"
Suara dari arah belakang itu mengejutkan gadis si pemilik nama. Wajah Aalea sudah pucat pasi dan berdebar karena bingung mengapa ada seseorang yang tau namanya di tempat ini. Aalea memberanikan diri untuk memastikan siapa yang menyebutkan namanya barusan.
Seketika ... Gadis itu tertegun. Arjuna?
Aalea menggenggam erat gagang kopernya. Di saat seperti ini, ia harus bertemu dengan rival utamanya, Arjuna. d**a Aalea serasa dicengkram oleh cakar burung elang. Melihat Arjuna membuatnya makin teringat dengan 'insiden pengusiran' yang dialaminya.
"K-kok lo di sini?" lirih Aalea.
"Ini rumah gue," jawab Arjuna.
s****n. Ternyata ini rumah Arjuna. Gue nggak boleh lama-lama di sini. Harga diri gue bisa keinjek-injek!
Rasanya harga diri Aalea terjatuh dari ketinggian 500 kaki. Bisa-bisanya ia tak sengaja berteduh di rumah milik seseorang yang membuat hidupnya selalu tertekan selama ini. Aalea bertekad untuk segera menghilang dari hadapan sang pangeran sekolah. Jujur saja, ia sangat malu saat ini. Bukan apa, penampilannya bahkan sudah sangat acak-acakan. Orang mungkin akan langsung tau bahwa Aalea punya masalah berat hanya dengan sekali melihat. Tekad bulat sudah di tangan, masalahnya ... hujan turun makin deras.
"Hujannya makin deres, nih. Masuk dulu, yuk!" Arjuna mempersilahkan. Layaknya tuan rumah yang baik pada tamunya.
"Nggak. Nggak perlu, kok. Hujannya paling bentar lagi berhenti. Gue cuma jalan-jalan dan nggak sengaja lewat daerah komplek lo ini. Terus gue neduh di sini. Gak papa, kan?" papar Aalea.
Tentu saja Arjuna tak percaya. Pemuda itu cerdas. Bahkan jauh lebih cerdas dari kelihatannya. Mana ada orang yang jalan-jalan sambil bawa koper begitu?
"Jadi sekarang ada trend baru, ya? Jalan-jalan sambil bawa koper?"
Jeng! Jeng! Aalea lupa akan satu hal. Lupa kalau Arjuna adalah si pangeran cerdas dengan IQ 150. Itu artinya, membodohi Arjuna bukan hal mudah.
Glarrr! Aalea baru saja hampir membuka mulutnya. Tapi suara petir yang menggelegar menghentikannya. Jujur, Aalea takut pada cuaca seperti ini, hujan angin diiringi petir. Apalagi beberapa hari yang lalu ada pemberitaan mengenai orang yang tersambar petir. Mengerikan, bukan?
"Masih mau nunggu di sini?" tanya Arjuna.
Aalea menggeleng. Arjuna mengulum senyum. Ia membuka pintu utama rumahnya. Aalea berjalan mengekor Arjuna memasukki rumah. Dinginnya pendingin ruangan langsung menyentuh kulit gadis itu. Suasana rumah Arjuna yang mewah dan tenang membuat Aalea terkagum. Rumah ini mungkin sepuluh kali lebih luas dari rumahnya sendiri. Furniturnya menyejukkan mata dan pendingin ruangan dimana-mana. Aalea tak bisa membayangkan, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membangun rumah seperti ini.
Arjuna mempersilahkan Aalea duduk di sofa. Gadis itu menurut dan duduk di sana dengan keadaan tubuh yang masih basah. Aalea bahkan sudah tak peduli dengan tubuh basahnya, ia sibuk mengagumi rumah Arjuna.
Si pemilik rumah meletakkan dua cangkir teh panas di meja. Satu untuk Aalea dan satunya lagi untuk diri sendiri. Kemudian ia duduk di sofaㅡberhadapan dengan sang tamu.
Slurpp. Aalea menyeruput teh hangatnya dari pinggir bibir gelas keramik putih milik Arjuna. Kendati teh beraroma melati itu sudah cukup hangat, namun Aalea masih saja merasa kedinginan. Wajar saja, air hujan yang beberapa menit lalu menerpanya memiliki efek lebih besar. Arjuna tau gadis di hadapannya kedinginan. Seperti lelaki sejati yang punya kepekaan tinggi, ia berdiri dan menyalakan penghangat ruangan. Tidak. Aalea sama sekali tak terpesona. Arjuna tetap rivalnya dan tak akan pernah jadi pria idamannya.
"Lo jalan-jalan kemana aja tadi?" sindir Arjuna.
Aalea menghembuskan napas berat.
"Gue nggak jalan-jalan. Ada alasan lain tapi itu bukan urusan lo," singkat Aalea.
Jam menunjukkan pukul 7. Bahkan Aalea belum mandi sejak tadi. Kakinya sudah pegal. Tak mampu lagi untuk berjalan. Dan lagi ... hujan terlalu deras untuk ditempuh. Jika dipaksakan, bisa-bisa Aalea jatuh sakit. Tapi ... memang sudah seharusnya ia melanjutkan perjalanan bukan?
Tidak. Aalea benar-benar tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. Ia juga belum menentukan kemana tempat yang akan ditujunya. Ia butuh istirahat.
Apa gue harus nginep di rumah ini?
Aalea ragu. Gengsinya yang setinggi langit tentu saja berkata tidak. Bayangkan saja, ini rumah rivalnya! Akan diletakkan dimana harga diri Aalea jika ia menginap di sini?!
Aalea menggeleng keras. Tak ada 'meminta bantuan pada Arjuna' dalam kamusnya. Gadis itu teringat sosok teman sebangkunyaㅡJaslyn. Sekarang ... ia tau tempat mana yang harus dituju. Sudah saatnya ia menceritakan segala hal tentang kehidupannya pada Jaslyn. Karena dalam situasi macam ini, hanya Jaslyn yang bisa ia percaya. Hanya Jaslyn yang bisa memberinya pertolongan.
Aalea menekan-nekan layar ponselnya. Ketika layar itu menunjukkan kontak dari 'Jaslyn Wiradrana', Aalea segera mendekatkannya ke telinga.
"Halo?"
"...."
"Lho? Lo kenapa? Kok nangis?"
"...."
"Apa?! Gue kesana sekarang juga!"
Ucapan Jaslyn membuat Aalea tergesa dan panik. Gadis itu berdiri dan berjalan penuh kepanikan.
"Biar gue anterin," kata Arjuna.