03. Minal Aidzin Wal Faizin

1086 Kata
Rasanya ingin seluruh dunia tahu, bahwa aku benar-benar bersyukur telah mengenalmu. -Oh, My Ice!- Minal Aidzin Wal Faizin :) Send Perempuan bertubuh mungil itu tengah duduk di pojok ruang tamu sambil tersenyum pada sebuah benda pipih di genggamannya. Jarinya beberapa kali mengetuk ponsel yang digenggamnya, sebelum akhirnya suara dentingan dari benda kotak itu kembali menarik perhatiannya. Ting! Dara mengerutkan dahinya ketika ia membaca pesan balasan dari seseorang yang sepertinya sangat ia nantikan itu. Artinya? Beberapa detik ia habiskan untuk mengetik balasan chat tersebut. Mohon maaf lahir dan batin, lah. Dengan mantap, Dara menekan tombol send yang terletak di pojok kanan bawah layar handphone-nya. Tak berapa lama, sebuah pesan balasan kembali ia terima. Salah. Minal aidzin berarti kembali suci, wal faizin artinya dan keberuntungan terhadapmu. Tidak ada satupun kata maaf di sana. Dara membelakkan matanya, pipinya tampak bersemu merah karena merasa malu pada lawan chatnya itu dan juga pada dirinya sendiri. Ia mengatup sebagian wajahnya dengan telapak tangan yang kini terasa dingin. “Oh, damn!” Dara terus merutuki dirinya sebab terlalu bodoh dalam hal seperti itu. Apa dia benar-benar Sabrina Dara, perempuan yang mendapat peringkat dua dalam Ujian Nasional saat ia duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama dulu? Dara menggigit bibir bawahnya, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk diberikan pada laki-laki itu, “Dara, tenang. Lo bisa kasih alasan yang logis ke dia.” “Astaga, kenapa gue konyol gini, sih?” ucapnya seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Seperti ada sebuah lampu di kepalanya, perempuan bertubuh mungil itu menemukan sebuah ide cemerlang untuk membalas pesan tersebut. Namun tetap saja, ia masih memikirkan bagaimana reaksi laki-laki itu ketika bertemu dirinya di sekolah nanti. Terlebih lagi, suasana Idul Fitri masih sangat terasa. Dara seratus persen yakin kalau saat hari pertama masuk sekolah nanti, seluruh siwa, guru, dan staff akan berkumpul di halaman sekolah untuk acara halal bi halal, sehingga peluang pertemuannya dengan laki-laki itu cukup besar. * Iqbal tersenyum geli saat melihat layar datar ponselnya. Mantan pacarnya itu memang sangat menggemaskan. Tidak heran kalau saat duduk di bangku kelas dua SMP dulu Iqbal sangat menyukainya. Selain cantik dan pandai dalam bidang akademik, perempuan itu juga memiliki hati yang lembut. Namun terkadang, kelembutan hatinya membuat Iqbal merasa bersalah. Seperti saat Iqbal lupa mengerjakan tugas, dan perempuan itu rela memberikan tugas yang ia kerjakan semalam suntuk itu untuk Iqbal, hingga alih-alih Iqbal, justru perempuan itu yang harus merasakan pedasnya omelan guru Bahasa jawa yang seharusnya diterima oleh Iqbal saat itu. Iqbal tersenyum tipis, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari ponsel di genggamannya. Lantas bola matanya tertuju pada sebuah pigura yang terletak tak jauh dari sana. Diusapnya dengan lembut pigura yang berpijak manis di meja belajarnya, “Sampai detik ini, aku masih sangat menyukai kamu, Dara.” * Laki-laki itu meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya, tidak ingin lagi mengurusi chat konyol dari orang-orang yang entah berasal dari mana itu. Matanya terpejam sejenak. Dibandingkan dengan chat dari degem-degemnya, ia lebih tertarik untuk memikirkan beberapa hal yang selalu membuatnya resah, hingga terkadang untuk terlelap pun terasa sangat susah. Berkuliah di program studi Teknik Informatika, membuat laki-laki itu bernama Arda Pramatya itu harus terbiasa merasa pening akibat pengkodean yang ternyata lebih sulit dipahami daripada kode dari cewek. Juga dengan setumpuk tugas dari dosen yang sialnya selalu bersikap pilih kasih dan pelit nilai. Salah menggunakan perulangan saja, remedial. Fix! Pak Mukhlis kurang belaian. Ditambah lagi dengan tugasnya sebagai Teknisi magang di salah satu SMA di kota Pekalongan yang membuatnya menjadi lebih banyak berinteraksi dengan orang. Padahal biasanya, Arda lebih suka menyendiri, karena memang pada dasarnya, Arda tidak terlalu suka dengan keramaian. Arda mengembuskan napas berat saat ia menyadari bahwa hari ini adalah pertama kalinya Arda merayakan Idul Fitri tanpa kejadiran Mama dan Della, adiknya. Arda tersenyum miris, “Ma, Dek, apa kalian bahagia di sana, atau justru kalian merasakan hal yang sama denganku? Merasa sakit,” ucapnya lirih. Pandangan Arda menerawang, seakan kedua orang itu berada di depannya saat ini. Seakan kedua orang yang sangat ia rindukan itu tengah menatapnya dengan lembut. Namun lagi-lagi, Arda harus menerima kenyataan, bahwa saat ini tak ada siapa pun di sisinya. Ia sendirian. “Semoga Tuhan selalu melindungi kalian,” ucap Arda sebelum ia mematikan lampu kamarnya dan memejamkan mata. * Se-sederhana itu. hanya karena kamu menatapku barang satu detik, aku merasakan berpuluh kali lipat kebahagiaan. -Sabrina Dara- “Dih, Dara, sekarang curhatnya sama buku,” sindir Reina yang memergoki Dara saat perempuan itu baru saja selesai menuliskan beberapa kata di dalam buku catatan pink miliknya. “By the way, gimana perasaan lo?” tanya Reina. Perempuan itu mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping kursi Dara. “Maaf, maksudnya apa, ya? Dara nggak ngerti,” kata Dara, pura-pura tidak paham dengan pertanyaan Reina yang padahal ia sudah sangat paham dengan pertanyaan tersebut. Perempuan itu justru sok sibuk dengan membolak-balikkan buku catatan berwarna pinknya yang baru ia tulis beberapa lembar saja itu. Reina berdecak sebal, “Itu lho, gimana tadi pas salim sama Pak, eh maksudnya Kak Arda?” tanya Reina. Perempuan itu menaik-turunkan sebelah alisnya, berniat menggoda sahabatnya. Dapat Reina lihat bahwa ucapannya tadi menimbulkan efek yang cukup besar terhadap Dara. Sahabatnya itu langsung memerah, Reina jadi senang sekali menggoda Dara seperti ini. Dara menangkup kedua pipinya menggunakan telapak tangan, “Jangan tanya itu! Gue bisa mati kalo ingat momen tadi.” Beberapa saat yang lalu, siswa siswi SMA Nusantara melakukan kegiatan halal bi halal di halaman depan sekolah mereka, tradisi yang rutin dilakukan saat hari raya Idul Fitri. Semua siswa termasuk Dara harus berbaris untuk menyalami guru dan para staff secara bergiliran. Tetapi bukan itu letak permasalahannya. Masalahnya adalah Es-nya Dara adalah salah satu di antara staff di sekolahnya. Ya, Arda Pramatya, seorang Teknisi magang di SMA Nusantara. Laki-laki yang sudah berhasil memporakporandakan pertahanan hati Dara hanya dengan sekilas tatapan matanya tepat di hari ketiga ia magang di sekolah Dara. Kembali ke topik permasalahan tadi, bayangkan saja, Dara seakan kehabisan napas hanya karena kedua telapak mereka saling bersentuhan. Tak hanya itu, kewajiban Dara sebagai murid untuk mencium tangan gurunya, membuat Dara hampir gila, bahkan kalau bisa, Dara ingin pingsan saat itu juga. “Anjirlah, gue bayangin kalian salaman kek suami-istri,” celetuk Reina yang ikut merasa baper hanya karena membayangkan adegan salaman Dara dan Arda beberapa saat yang lalu. Mendengar ucapan Reina, buku catatan milik Dara seketika melayang tepat saat Reina menyelesaikan kalimatnya. Reina tidak tahu saja, kalau ada sesuatu di dalam tubuh Dara yang seakan meledak saat Reina mengucapkan kalimat itu. “BERISIK!” pekik Dara salah tingkah. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN