05. Cinta Berbanding Lurus dengan Luka

1098 Kata
Di sini, aku terus menerus menunggu, sedangkan kamu terus berusaha berlalu. Di sini, aku selalu diam menanti, sedangkan kamu selalu berlari untuk pergi. -Oh, My Ice!- “Re, ke toilet yuk,” ujar Dara. Perempuan itu kini sudah menegakkan posisi duduknya sambil beberapa kali mencolek lengan Reina. Membujuknya, agar sahabatnya yang tengah fokus dengan ponselnya itu mau mengantar Dara ke toilet. Reina menautkan kedua alisnya. Entah mengapa, Reina malah curiga kalau sebenarnya Dara tidak betul-betul berniat untuk ke toilet. Mengingat letak toilet terdekat dari kelas mereka berhadapan dengan halaman belakang sekolah, tempat di mana panitia camping sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk kegiatan camping tahun ini. Reina pikir, mungkin saja Dara hanya membawa nama toilet untuk memastikan apakah Arda memang betul-betul ikut camping yang akan dilaksanakan selama tiga hari dua malam di Kebun Teh Semugih itu atau tidak. “Beneran kebelet apa niat modus?” Reina memicingkan kedua matanya seolah menatap Dara dengan tatapan menyelidik. “Kebelet, Re. Lo mau gue kena batu ginjal gara-gara nahan pipis?” sahut Dara. Perempuan itu bahkan sampai menunjukkan gesture selayaknya seorang perempuan yang tengah menahan buang air kecil. “Oh, kirain mau modus.” Reina mengangguk singkat. “By the way, gue buka tipe cewek yang gampang percaya dan mudah dibodohi, ya,” ucap Reina. Setelah mengucapkan kalimat keramat itu, Reina melangkahkan kakinya keluar kelas, meninggalkan Dara yang tak mampu lagi menjawab pernyataan dari sang sahabat satu bangkunya itu. Dara masih akan tetap bergeming di tempatnya, kalau saja sebuah teriakan dari Reina tidak menyadarkan lamunannya, “DARA, BURUAN! WAKTU GUE TERBUANG SIA-SIA.” “ASAL LO TAHU, GUE LAGI STALK AKUN LAMBE TURAH, DAN LO GANGGU GUE!” teriak Reina dari depan ruang kelasnya. Merasa aura Reina sudah mulai menggelap, Dara langsung mengambil langkah seribu untuk menyusul sahabatnya yang sudah berdiri di depan kelas sambil berkacak pinggang, layaknya emak-emak yang sedang mengomeli anaknya karena membuatnya menunggu terlalu lama. * Reina mendengus saat menyadari Dara yang katanya sedang kebelet itu sedikit tertinggal dengan berjalan di belakangnya. Kalau dipikir-pikir, tidak aneh jika Dara berjalan lebih lambat daripada dirinya. Lihat saja kakinya yang bahkan jika diukur tidak lebih dari delapan puluh senti meter, itu pasti penyebab kenapa Dara lambat sekali saat berjalan. Oke, itu namanya body shaming. Reina mohon maaf. “Buruan, ada Arda yang lagi nunggu lo, tuh,” kikik Reina sambil mengaitkan lengannya pada lengan Dara serta melebarkan langkahnya. Reina yakin seyakin-yakinnya orang berkeyakinan bahwa pengelihatannya masih benar. Dengan mata kepalanya sendiri, Reina menangkap basah Arda yang tengah menatap Dara. Reina berani menjamin bahwa apa yang ia lihat beberapa detik yang lalu benar-benar akurat. Tidak mengandung unsur hoax sedikitpun. “Bangke! Jangan bikin gue ge-er apa?” ujar Dara. Perempuan itu melayangkan pukulannya tepat pada lengan kiri Reina, membuat sahabatnya itu mengusap lengannya beberapa kali. Masa bodoh dengan cercaan lebay Reina yang mengatakan bahwa lengannya hampir mati rasa. Dara tidak peduli. Perempuan lebay itu sudah membuat jantung Dara kembali berdetak dengan tidak normal karena baru saja menyebut nama Arda di depan telinganya. “Lah, gue ngomong kenyataan, b**o,” ucap Reina sambil tak henti-hentinya mengusap lengan kirinya yang terasa panas karena menjadi sasaran empuk dari pukulan Dara tadi. “Mata lo rabun apa gimana, sih? Itu Arda dari tadi lihatin lo,” kata Reina sembari menunjukkan ke satu arah menggunakan dagunya. Tempat di mana laki-laki jangkung itu tengah berdiri menyender ke dinding koridor sambil menatap ke arah Dara dan Reina tanpa berkedip. “a***y, tatapannya dalem banget, mas. Kaki gue lemes, tolong. Mleyot sudah pertahananku,” oceh Dara sambil mengeratkan genggamannya pada lengan Reina, hingga sahabatnya itu bergidik ngeri. “Lebay!” Reina mengusap wajah mungil Dara secara kasar, membuat perempuan itu mendengus sebal. Reina ini betul-betul tidak sopan pada sahabatnya sendiri, kira-kira begitulah ucapan Dara yang sontak membuat Reina merotasikan bola matanya. Keduanya pun melanjutkan langkah, lebih mendekat ke arah toilet yang sialnya berada tepat di belakang tempat Arda berdiri. Entah sadar atau tidak, Dara mengulaskan sebuah senyuman manis di bibirnya. Namun pada detik selanjutnya, senyum itu pudar, diiringi dengan bola mata Dara yang menatap kepergian seorang Arda dari tempat itu. “Ngumpat boleh nggak, sih?” dengus Dara, merasa sebal dengan kelakuan Arda yang tidak ada sopan-sopannya sama perempuan. Memang apa susahnya membalas senyuman dari Dara. Apa seberat itu bagi Arda untuk menggerakkan bibirnya? Cih, membuat emosi saja. “Gue udah ngasih senyuman termanis yang gue punya, dia malah kabur.” Dara kembali mendengus kesal. Perempuan itu masih terus menatap punggung Arda yang kini kian menjauh dan menghilang di balik koridor dan dinding kelas. “Senyuman lo nakutin kali,” celetuk Reina yang nyaris mendapat jitakan dahsyat dari Dara kalau saja perempuan itu tidak menangkis lengan Dara terlebih dahulu. Dara ini sepertinya tidak paham kalau jitakan dan pukulan tangannya itu terasa sangat menyakitkan, makanya ia sering sekali memukul Reina dengan seenak jidatnya. “Lo pilih gue elus pake kuku apa parutan?” tanya Dara dengan tatapan mata yang berapi-api, seolah siap untuk membakar setiap sudut koridor tempat mereka berdiri sekarang ini. Bukannya takut, Reina justru kembali meledek perempuan berambut sebahu itu, “Wah, psikopat. Pantes Arda kabur,” celetuknya. “Re, habis ini ikut gue, yuk,” ucap Dara. Tatapan mata perempuan itu kini berubah menjadi lebih serius, membuat Reina jadi ikut menampilkan wajah seriusnya. “Ke mana?” tanya Reina. “j*****m! Mampus lo.” Setelah mengatakan kalimat itu, Dara masuk ke dalam toilet. Meninggalkan Reina yang masih cekikikan melihat ekspresi marah di wajah imut sahabatnya itu. Menurut Reina, Dara yang sedang marah-marah seperti ini sama sekali tidak menakutkan, mengingat sahabatnya itu memiliki wajah yang cenderung imut, jadi dalam keadaan marah sekalipun, Dara masih akan terlihat menggemaskan. Di dalam toilet, Dara justru membeku. Ia tengah bergulat dengan pikirannya sendiri mengenai perasaannya dengan Arda yang dipenuhi dengan rasa sesak di dadanya. Kenapa lo harus seribet ini sih, Kak? Kenapa juga gue harus suka sama lo, padahal sudah jelas lo sama sekali nggak tertarik sama gue. Gue nggak pernah berharap kalau masa-masa SMA gue bakal seperti ini. Pahit. Gue lelah, terlebih saat jatuh cinta sendiri. Emang bener kata Mama, cintailah orang sewajarnya. Karena ketika kamu berlebihan mencintai seseorang, maka luka yang akan kamu terima juga akan lebih banyak. Apa gue bisa nyalahin lo? Nggak, lo nggak salah. Gue yang salah. Kenapa dengan mudahnya gue terjatuh dalam pesona lo? Lo emang bahaya. Persis seperti psikotropika yang menyebabkan candu. Sehari saja gue nggak lihat lo, maka gue merasa gelisah. Lo seperti rokok sekaligus pematiknya yang bisa kapan saja membunuh gue secara perlahan dengan gejala yang sama; rasa sesak yang muncul di d**a. Bedanya, rokok menyerang paru-paru, sedangkan lo menyerang hati. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN