Ada yang mengatakan mendung belum tentu hujan, yap sepertinya itu memang benar menggambarkan keadaan pagi ini, membuat Revan selaku ketua dan penyelenggara ragu-ragu mendatangi panti asuhan sebagai tempat tujuan penerima donasi.
“teman-teman tidak mungkin kita membatalkan niat baik ini, pihak panti juga sudah bersiap-siap menunggu kita, lima menit lagi kita berangkat” Revan menginstruksikan kepada semua anggota yang akan ikut ke panti asuhan.
Tiga jam sebelumnya, hp Nadya berbunyi dengan segera ia memeriksa ternyata bunda nya “iya bun ada apa?” tanyanya penasaran, “Nad, kamu selesai kuliah kesini yah bantu bunda, ada mahasiswa yang mau datang ngasih sumbangan, seingat bunda satu kampus sama kamu”, tanpa bertanya ia langsung mengiyakan bundanya, “iya bun, Nanad kesana setengah jam lagi yah”.
Pas saat akan pergi ke panti, si senior tukang ngikut datang lalu bertanya “Nad mau kemana? Buru-buru amat”. “maaf ya kak Nadya mau ke panti disuruh bunda” segera ia berjalan sambil menunggu taksi online pesanannya datang. “aku ikut yah” mengikuti langkah Nadya. “gak usah kak, nanti kakak ada kelas”. “gak papa, lagian aku belum pernah kepanti, jangan membantah senior yah” dengan kata andalannya yaitu se-ni-or.
Semakin mengecil ukuran gedung kampus terlihat menandakan menjauhnya mobil yang ditumpangi Nadya dan Adit, tidak menunggu lama mungkin sama dengan lamanya menanak nasi mereka sudah sampai tujuan, turunlah Nadya yang diikuti oleh Adit menemui bunda selaku pengurus panti “Bunda Nanad dateng” tidak lupa menyium tangan dan memeluknya.
“eh, kamu sama temen yah?” melirik kearah Adit, “iya bunda, seniornya Nadya hehe” Adit yang juga menyalami tangan bunda. Sebenarnya yang dipanggil bunda oleh Nadya tahu kalo kesayangannya sudah menikah, bundanya lah yang paling paham keadaan Nadya, paling mengerti apa yang Nadya butuhkan, tapi Nadya tipe orang yang introvert, jadi kalo bukan Nadya yang bicara duluan tentang masalahnya, iapun tidak mau bertanya, ia berprasangka kalo Nadya gak merasa nyaman.
Setelah itu mereka bergegas menyiapkan apa yang layak disiapkan dan dibutuhkan. Sementara itu senior dan junior sibuk kesana kemari tanpa adanya suara yang terdengar tapi Cuma beberapa menit saja, “Nad, ini kemana? Nad, ini diapain? Nad, ini tarok dimana?” dari tadi Adit ngoceh dan banyak tanya ke junior, “hhhh……” Nadya menarik panjang nafasnya melihat sang senior gak berhenti ngoceh.
Ada tiga mobil terparkir di depan Panti, ternyata itu rombongan tamu yang dibicarakan bunda, ada delapan orang yang datang sepertinya termasuk sang ketua Revan. Satu mobil lagi membawa barang-barang yang akan di sumbangkan ke panti.
“teman-teman gue duluan yah mau nemuin pengurus panti” melambaikan tangan ke rekan-rekannya yang tengah sibuk memindahkan barang-barang. Rea? Tentu dia ikut Revan dong. Tidak lupa bahwa attitude itu penting terutama mahasiswa seperti Revan menyalami tangan bunda “pagi menjelang siang kayaknya bu, kendala cuaca kami datangnya agak telat bu” Rea pun segera menyalami tangannya bunda. “bunda, anak-anak disini biasanya manggil bunda” senyum bundanya membuat nyaman keadaan.
“siap bunda” mengiyakan omongan bunda sambil hormat seperti upacara bendera, bunda gak mungkin kalo gak terkekeh melihatnya. Revan emang seperti itu, bisa berbaur dengan cepat dengan orang baru, Revan juga orangnya menyenangkan, suka bercanda dan satu lagi pura-pura polos padahal liar.
***
Didapur, si senior sepertinya kelelahan terlihat ada keringat di keningnya, yah tetap saja Nadya yang tidak peka hanya diam dan tidak menggubris nya apalagi mengambilkannya minum. “eitsss ada kue nih” umpat Adit sambil jalan mundur mengambil kue.
Tidak lama ia makan, kue nya bersisa satu potong “nanggung nih, habisin aja deh” sambil tersenyum licik “lumayan ganjel perut sedari tadi meronta minta makan”.
Ternyata sedari tadi Nadya membagikan kue ke anak-anak yang sedang bermain, yap Nadya sangat suka anak kecil, dipikirannya anak kecil itu belum punya dosa dengan kata lain masih suci, jikalau disakiti temannya cuma bisa nangis, setelah itu tetap melanjutkan bermain nya walaupun dengan teman yang melukainya tadi, berbeda sekali dengan kehidupan orang dewasa.
***
Teman-teman Revan sudah menyelesaikan tugasnya kemudian duduk didekat nya sembari mengobrol dan bertanya kepada bunda. Suasana saat itu menyenangkan baginya hingga tak terasa waktu sudah berjalan cukup lama. “permisi bunda, Revan izin keluar sebentar” ia segera menepi menuju pintu keluar, mungkin mencari angin atau sekedar melihat-lihat panti. Tiba-tiba ia teringat pernah datang kesini bersama mama “hmm pantas aja tempatnya gak asing” pikirnya.
Terdengar suara anak kecil cekikikan tertawa mengganggu telinga Revan, kemudian ia mencari asal suara tersebut. Berlabuhlah pandangannya kearah wanita yang sedang menceritakan dongeng diikuti gerakan-gerakan yang mengundang tawa. Revan tidak ketinggalan senyumnya, dia hanya berpikir seorang wanita yang cuma bisa berbicara maaf bisa membuat lakon yang aneh-aneh.
Revan berjalan menghampiri Nadya dan anak-anak kecil yang sedang asik bercerita. “Nad.. “ Revan melambaikan tangan menandakan menyapa. “eh, apa yang kamu lakukan?” ia bertanya sambil menahan tawa.
Tentu saja setelah Revan menyapa, Nadya langsung diam, hanya bisa senyum malu “ka-kak Revan ngapain disini?” memalingkan pandangannya. “nganter sumbangan yang kami kumpul bersama kemarin” melihat-lihat tempat duduk yang pas.
Nadya juga merasa gak enak terhadap suami jodoh-jodoh an nya kalo lama-lama berada disitu “lanjutin kak kegiatannya, gak usah keganggu sama kita disini”, “oh! Eh! iya” kayaknya Revan merasa diusir secara halus, “padahal baru aja mau duduk” umpat hati Revan. Tetap saja ia berjalan masuk ke dalam tempatnya bersama teman-teman tadi.
***
Rintik hujan mulai berjatuhan mengenai atap lama kelamaan bunyi hujan semakin terdengar jelas berarti hujan sangat deras diluar. Ada anak kecil datang kepada bundanya, umurnya sekitar enam tahun, anak itu sedikit gendut sehingga pipi nya terlihat embul, Revan sampe gemas melihatnya. “bunda, kak Nanad belom pulang, kan diluar lagi hujan, gimana kak Nanad pulang nanti kalo hujan?” deg entah kenapa perasaan Revan gak karuan tapi ia masih terlihat pura-pura santai. “iya bunda telepon ya sayang, kak Nanad nya pergi kemana?” bunda masih tenang menanggapi anak embul tadi. Lain hal dengan Revan dimana hatinya memburu panik.
“biar Revan aja yang jemput bun” bergerak keluar tanpa menghiraukan perkataan dari bunda sebelumnya. Kemudian Revan menghidupkan mobilnya dan melajukannya secepat yang ia bisa, padahal ia tak tahu kemana pencariannya, lewat insting mungkin.
Revan ingat-ingat lagi warna baju Nadya siapa tahu bisa lebih mudah menemukannya. Saat itu kebetulan ia melewati jalan yang dilewati oleh Nadya, ternyata terlihat Nadya sedang berteduh di sebuah kedai tepi jalan, Revan memutar kemudinya menuju ke tempat Nadya.
Nadya tak menghiraukan mobil yang baru datang dan berhenti didepan kedai. Seorang laki-laki keluar dari mobil dan memanggil nama “Nad!”, gimana ekspresinya Nadya? Tentu saja dia tidak menyangka seorang Revan datang, sepertinya ia sedang menjadi pahlawan kesiangan.
“kak Revan ngapain kesini?” tidak salah dengan pertanyaannya kan, salah Revan datang dengan sangat tiba-tiba, “kamu gak papa kan? ayo pulang”. “eh, kak kan masih hujan” sebenarnya Nadya menolak tapi ia tidak bisa bicara jujur, takut menyinggung perasaan Revan. “kan aku bawa mobil Nad” memegang tangan Nadya lalu menariknya menuju mobil.
Seperti biasa, tercipta keheningan tiada tara. Nih anak kalo gak diajak ngomong duluan gak ngomong ya? Gumam hati Revan sedari tadi Nadya tak mengeluarkan suara. “ngapain hujan-hujanan?” tanpa menoleh ke Nadya karena ia sedang fokus mengemudi. “kan tadi lagi berteduh kak” singkat dan padat jawabannya. “maksudnya, kenapa keluar? Udah tau langit gelap”, “fotokopi tugas kak” jawaban kedua tidak berbeda dengan yang pertama, singkat dan padat.
Akhirnya Revan menyudahi pertanyaan nya, kalau dilanjutkan bisa-bisa ia teriak gak jelas karena kesal. Sampailah dirumah mereka yang sebenarnya “kak, kenapa pulang?” heran dengan kelakuan Revan, “terus?” gantian Revan yang jawab singkat, “gak kepanti kak?” Revan Cuma diam saja.
Digarasi meletakkan mobil kemudian mereka keluar, Nadya mengusap-usap bahunya, ia merasa kedinginan. Tentu saja Revan melihatnya reflek memeluk Nadya, membuat langkahnya terhenti, jantung Nadya seakan terasa keluar sebentar lagi. Nyaman dan hangat tubuh kak Revan ucapnya dalam hati.
Seperti tersadarkan kembali Revan melepaskan pelukannya “maaf Nad, gak sengaja” buru-buru Revan berjalan masuk menuju rumah. Nadya masih terdiam layaknya patung di taman tak berkata sepatah pun.
“kayaknya ada yang gak beres sama tubuh gue” gerutu Revan masih gak percaya kok bisa tubuhnya melakukan hal seperti itu.
Dengan segera tangan Revan bergerak ke saku celana mengambil ponselnya berniat mengirim pesan pada Rea.
Revan : Re, kalian lanjutin aja yang dipanti. Aku udah pulang, tadi papa telpon.
Malam ini Nadya terbangun merasakan haus ditenggorokannya, mereka lupa mematikan lampu kamar membuat jelas terlihat punggung putih Nadya dimata Revan dan meneguk ludahnya melihat pemandangan indah. Revan sebenarnya belum tidur sedari tadi ia hanya pura-pura tidur, ketika Nadya selesai dari dapur Revan langsung memejamkan matanya, hanya terpejam bukan tertidur.
Waduh gawat, adik gue udah bangun aja. Baru juga gitu doang langsung merespon. Masih tak habis pikir dengan dirinya sendiri hari ini.