Part 3 : Transaksi

1672 Kata
Los Angeles, Februari 9th 2012.   “Paman! Paman! Apa yang sedang paman lakukan?!” seru Gloria.   Sepulang dari restoran, tak ada lagi yang dibicarakan oleh keduanya. Mereka hanya saling diam. Tidak, bukan saling diam. Tepatnya Greg yang mendiamkannya sepanjang perjalanan. Pamannya itu terlihat sangat buru-buru, seolah jika konsentrasinya terbuyarkan akan menggagalkan kelangsungan hidup dimasa depannya. Seperti sekarang Greg terus menerus meraih pakaiannya yang memang tak seberapa yang kemudian dimasukkan dalam satu koper besar yang entah Greg temukan dari mana. Sementara Gloria hanya menatap tak percaya pada Greg yang sedang mengemasi pakaiannya dengan asal pada sebuah koper. Ia mengerutkan kening, ia hanya bisa menganga tak mengerti dengan semua hal yang terjadi. Terutama dengan semua hal yang dilakukan Pamannya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sedang pamannya itu lakukan?   “Dimana dokumen pentingmu?” tanya Greg.   Tanpa sadar Gloria menunjuk laci yang berada dalam lemari. Greg segera membawa dokumen-dokumen itu kemudian meletakkannya pada koper itu juga.   “Ayo.” Greg menyeret lengan Gloria lagi, memaksa perempuan itu untuk berjalan mengikutinya.   “Paman! Paman! Berhenti! Sakit!” serang Gloria seraya berusaha melepaskan genggaman tangan erat itu dari Greg. Namun semuanya sia-sia saja. cengkraman Greg pada tangannya teralalu erat hingga membuatnya mau tak mau mengikuti langkah Greg yang sangat tidak manusiawi.   “Sebenarnya Paman ini kenapa? Ada apa? Jika ada masalah bicarakan saja paman!”   Greg tak menanggapinya. Ia hanya terus menarik Gloria, bahkan ketika perempuan itu meringispun tidak ia pedulikan lagi. Hingga sampailah mereka didepan pintu masuk mobil, Greg membukakan pintu, lalu mendorong Gloaria dengan paksa.   “Aku tidak mau Paman!”   “Masuk!”   “Tidak! Aku tidak mau!” seru Gloria, seraya memberontak, berusaha untuk tidak memasuki kendaraan tersebut. Karena entah mengapa ia merasakan alarm tanda bahayanya berbunyi, sehingga ia akan lebih baik tidak mengikuti pamannya daripada harus ikut.   “Masuk sebelum aku menggunakan kekerasan!” bentak Greg.   “Paman ... .” tubuh Gloria serasa menyusut ketika melihat tatapan tajam dari mata Pamannya yang berubah menjadi merah, menahan amarah. “Kenapa ... Paman kenapa?”   “Masuk!” bentak Greg lagi.   “Tidak! Aku tidak mau!”   BUK!   Greg memukul belakang kepala Gloria hingga wanita itu secara tiba-tiba terkulai lemas, kehilangan kesadarannya. Greg yang melihat itu pun segera membopong Gloria dan membawa wanita itu memasuki kendaraannya.   ***   Gloria meringis seraya memegangi tengkuknya yang masih menyisakan rasa sakit. Kemudian setelah itu ia mengerjapkan matanya sesaat sebelum benar-benar membukanya, lalu menyapukan pandangannya kesekeliling kamar itu. Kamar asing yang untuk pertama kalinya ia lihat.   Perlahan Gloria bangkit seraya meringis memegangi tengkuknya.   “Setelah ini, utangku lunas. Aku tak memiliki utang apapun lagi Mr. Hezel. Jangan pernah mengganggu hidupku lagi.”   Kening Gloria mengerut ketika mendengar kalimat tersebut, kalimat yang sangat ia yakini bahwa kalimat tersebut dilontarkan oleh Greg, pamannya sendiri. setelah itu ia melangkahkan kakinya menuruni ranjang, lalu berjalan secara perlahan menuju pintu masuk yang sedikit terbuka. Ia melebarkan pintu tersebut untuk menguping pembicaraan mereka agar terdengar lebih jelas.   “Kau yakin jika keponakanmu itu masih perawan? Jika tidak, tetap saja utang-mu tak akan pernah lunas begitu saja. Karena harga hanya harga perawan yang akan menutup semua utangmu berserta bunganya.”    “Aku yakin, hidupnya selama ini hanya menjadi perempuan membosankan yang menghabiskan waktu dengan mencari uang dan tidur dirumah. Jangankan bermain gila dengan laki-laki, memiliki pacar saja dia tidak pernah. Kau bisa memastikan sendiri nanti.”   “Aku akan menuntutmu ketika pelangganku mengeluh. Akan kukejar kau meskipun kau berlari keujung dunia.”   “Tenang saja, aku jamin dia masih tersegel.”   Gloria meneguk ludahnya kasar, apakah ia tak salah dengar? Jika tidak, apakah ini artinya ia benar-benar aka dijual? Apakah Pamannya begitu tega menjualnya seperti ini? Tapi kenapa? Kenapa harus ia yang dijual? Lagipula, apa salahnya? Bukankah selama ini ia sudah cukup membantu Greg? Bahkan dana awal usaha pamannya itu berasal darinya! Tapi mengapa? Mengapa ia justru diperlakukan seperti ini? Kenapa begitu jahat?   Puk ...   Gloria terperanjat lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah kiri,  pada seorang perempuan yang ia perkirakan akhir tiga puluhan. Gloria meneguk ludahnya lagi seraya menyeka air matanya yang tiba-tiba terasa mengalir. Ia kembali menatap perempuan yang menatapnya datar itu dengan ragu, Apakah sekarang ia akan dimarahi karena menguping? Apakah ia akan disiksa kerena melakukannya?   “Masuk.” Ujar perempuan itu seraya membawa satu buah berkas yang tidak ia ketahui isinya seperti apa.   “Ma’am ... .”   “Duduk.”   Gloria meneguk ludahnya lagi dengan kasar. Kemudian mengikuti interuksi yang diberikan perempuan itu untuk duduk disebuah sofa yang sama.   “Gloria.” Panggil perempuan itu. “Kau Gloria ‘kan?”   Gloria menganggukkan kepalanya ragu, “Darimana anda ... tahu Ma’am?” tanya Gloria, namun kemudian ia bergumam. “Ah ... Dari Pamanku?”   “Greg benar-benar Pamanmu? Paman langsung?”   Gloria mengangguk ketika mendengar pertanyaan dari perempuan itu. ia mengangguk lesu, karena belum bisa menerima semua hal yang sudah terjadi padanya melalui sang Paman yang ternyata begitu kejam padanya. Laki-laki itu, begitu tega merenggut kebahagiaan. Begitu tega menjualnya dengan cara yang sangat sadis seperti ini.   Rangkulan Gloria dapatkan. Ia kemudian menoleh ke kanannya, kearah perempuan yang belum ia kenal yang kini tersenyum padanya dengan senyuman yang begitu hangat dan menenangkan. “Tak apa, setelah dari sini. Kau bisa kabur menjauh darinya Gloria. Amankan dirimu dengan baik. Jangan biarkan dia datang padamu dan menghancurkanmu lagi.”   “Ma’am.” Gloria menatap perempuan itu dengan mata berbinar. Ketika merasakan harapan terbesarnya untuk bisa lepas ternyata ada didepan mata.   Perempuan itu kembali tersenyum. “Aku Annamarie. Panggil aku Anna.”   Gloria mengangguk. “Anna ... apakah aku benar-benar bisa pergi dari sini? Apakah aku ... bisa bebas? Aku sungguh, tak ingin terperangkap. Meskipun aku belum tahu akan dipekerjakan seperti apa, tapi setelah mendengar semua percakapan mereka. Aku jadi mengerti, bahwa aku dijual. Aku harus menjajakkan tubuhku pada kalian.” Gloria menatap Anna dengan tatapan antusias. “Jadi ... bisakah, aku benar-benar bebas, Anna?” tanyanya dengan begitu antusias. Dalam hatinya berharap, ia bisa mendapatkan jawaban yang baik lagi seperti ucapan perempuan itu beberapa saat lalu.   Anna melepaskan rangkulannya dari bahu Gloria. Ia mengelus lengan Gloria sesaat sebelum kembali berujar. “Bisa, tapi resiko yang kau tanggung begitu besar Gloria dan hanya ada satu cara ini agar kau bisa benar-benar lepas.” Ujarnya dengan nada yang sangat lembut dan sarat akan kehatu-hatian. “Sebenarnya aku sudah tidak menggunakan itu lagi, aku hampir tidak memberlakukannya lagi. Karena ketika dulu aku memberikan pilihan dengan cara ini pada beberapa orang, mereka benar-benar mengecewakanku Glory, hingga aku dan suamiku berdebat dan dengan sangat terpaksa kami membawa mereka lagi, atas sadar pelanggaran kesepakatan. Nanti, setelah kau membaca isi kontrak tersebut, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan terlebih dulu padamu. Jika kau benar-benar menyanggupinya. Sekuat tenaga aku ... akan membantumu.”   Gloria menatap Anna dengan tatapan ragu. Kenapa syarat yang akan perempuan itu katakan terdengar sangat berat? Apakah memang sampai seberat itu? Hingga Anna mengatakannya dengan begitu hati-hati.   “Kau bisa baca kesepakatannya disini.” Anna memberikan dokumen yang ia bawa pada Gloria, membuka point penting yang ia maksudkan.   Pasal 14 Pembebasan : Pihak Kedua akan bebas apabila dinyatakan Hamil dan ingin mempertahankan janin yang berada dalam kandungannya.   Deg!   Hamil?   Gloria menatap kearah perempuan itu lagi. Menatapnya dengan tatapan terkejut. Suaranya bahkan serasa tertahan ketika ingin berucap. Sungguh ia tak sanggup untuk berbicara lagi. Syarat itu ... rasanya memang benar-benar berat. Pantas saja, Anna mengatakannya dengan penuh kehati-hatian. Ternyata ... memang sangat berat, karena semua itu berkaitan dengan nyawa lain. Nyawa lain yang akan bersemayam dalam dirinya dan nyawa lain yang ketika lahir dimuka bumi harus ia rawat dengan baik serta ia didik dengan sangat baik pula.   Sungguh ... memang berat. Terlebih ia harus merawatnya seorang diri, tanpa bantuan siapapun.   “Suamiku memang sangatlah kejam, syarat pembebasan itu sendiri aku yang membuatnya. Aku yang mengajukan syarat tersebut pada suamiku. Hanya saja ... oranglain terkadang hanya memafaatkannya. Sementara aku benar-benar menghargai keputusan mereka, aku sangat tulus memberi mereka kebebasan karena tujuan mereka yang ingin mempertahankan anaknya. Karena tujuan mulia mereka meskipun semua yang mereka lakukan tidaklah bisa dikatakan benar.” Anna menarik nafas panjang. “Untuk itu ... aku akan menegaskan. Jika memang kau ingin bebas, silahkan ambil pilihan ini lalu rawat anakmu dengan baik. Jika tidak, atau jika kau hingga menggugurkan kandungan tersebut,  kau akan kami tarik kembali kesini dengan paksa.”   Anna menatap Gloria yang masih menatapnya dengan tatapan penuh tanya yang begitu syarat akan kebingungan dan putus asa. Perempuan itu menarik nafas panjang. “Sekarang terserahmu ... kau ingin terjerumus di dunia ini, atau pergi sebelum kesempatan semakin sulit untukmu.” Anna menjeda kalimatnya. “Semua keputusan aku serahkan padamu.”   Gloria termenung, ia menundukkan pandangannya sesaat. Mencoba memikirkannya dengan baik-baik. Karena semua ini menyangkut masa depannya. Namun ... tinggal dan bekerja ditempat ini juga, bukanlah pilihan baik. Bukan pilihan bagus yang bisa menyelamatkan hidupnya. Pilihan terbaik ... memang hanya itu. Hamil, lalu pergi. Menata kembali kehidupannya mulai dari titik terendah.   Gloria mengepalkan kedua tangannya. “Menurutmu ... bagaimana jika aku memilih mengambil kesempatan itu?” tanyanya dengan sedkit ragu. “Karena ... keinginanku untuk pergi lebih besar daripada untuk tetap tinggal.” Lanjutnya.   “Kau yakin ingin hamil?”   Gloria meneguk ludahnya kasar kemudian mengangguk kecil.   “Kau berjanji tak akan menggugurkannya?”   Gloria membasahi bibirnya, sebelum akhirnya perempuan itu mengangguk lagi.   “Jika kau diketahui dengan sengaja mengugurkannya, maka kau akan ditarik kembali dan di obral dengan sangat murah pada pelanggan-pelanggan kami.”   Gloria kali ini membasahi bibirnya disertai dengan meneguk ludah kasar. Ancaman itu benar-benar terdengar begitu mengerikan. Namun ... ia tak sekejam itu. Ia tak mungkin melenyapkan nyawa yang tidak bersalah.   “Jadi, bagaimana?” tanya Anna lagi.   Gloria lagi-lagi membasahi bibir dan meneguk ludahnya. Setelah itu ia mengangguk yakin. “Aku yakin dengan pilihanku sendiri. Lagipula aku juga tak mungkin membunuh darah dagingku sendiri dengan cara seperti itu.” Gloria membasahi bibirnya, sebelum melanjutkan ucapannya. “Tapi ... saya memiliki satu syarat.”   Anna menaikkan satu alisnya, heran. Karena untuk pertama kalinya, ia menemui seseorang yang dengan berani meminta syarat darinya. “Apa itu?”   “Aku ingin, seseorang yang menghamiliku adalah laki-laki terhormat dengan keturunan yang baik.”   “Kenapa? Kau berniat memanfaatkannya?”   Gloria menggeleng. “Karena aku ingin, anakku kelak menjadi anak cerdas, yang bisa mengangkat harkat dan derajat ibunya sendiri.”   “Kasarnya, kau ingin bibit unggul?”   Gloria mengangguk yakin.   “Baiklah ... jika begitu, tanda tangani ini. Setelah aku menemukan seseorang yang sesuai kriteriamu akan aku kabari. Bersiaplah.”   Katakanlah Gloria gila, katakanlah ia memang sangat gila. Seharusnya ia tidak memberikan syarat terlalu berat. Karena laki-laki terhormat mana yang akan menggunakan jasa pelacuran seperti ini?   ***   Los Angeles, Februari 14th 2012.   Sudah hampir satu minggu dan belum juga ada pelanggan yang sesuai dengan kriterianya. Diam-diam dalam hati sebenarnya Gloria bersyukur. Namun ada rasa khawatir juga. Bagaimana jika akhirnya ia justru dijual begitu saja pada laki-laki hidung belang yang memanfaatkan keperawanan? Dalam hati Gloria meringis. Seharusnya kemarin ia tidak memberikan kriteria yang terlalu tinggi.   Tok tok tok!   Clek!   Gloria mengalihkan pandangannya kearah pintu, mendapati Anna dengan dandanan mewah memasuki kamarnya.   “Gloria, bersiaplah. Aku sudah menemukan seseorang yang sesuai dengan keinginanmu.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN