RENATA: Langkahku dan Marcell terhenti di jarak sekitar lima meter dari perempuan paruh baya yang sedang memainkan piano dan bernyanyi penuh penghayatan. "Eric Clapton... Tears In Heaven," gumamku sambil tersenyum. Aku merasakan gerakan aneh di tanganku. Marcell terasa mengeratkan genggamannya seakan mencari sumber kekuatan dari sana. Aku meliriknya dari ujung mataku. Tatapannya tetap lurus menghadap perempuan yang sedang bermain piano. Suara tepuk tangan dari Pak Sebastian mengejutkanku. Perempuan itu mengakhiri permainan pianonya lalu berjalan pelan ke arahku dengan menggandeng tangan seorang pria tak lain Enrique. Seandainya makan malam ini tidak ada hubungannya dengan urusan bisnis, enggan sekali aku berinteraksi dengan pria satu itu. Perempuan tersebut terus melangkah mendekatiku

