“Duduklah, aku tak akan memakanmu,” kata William. “Tatapanmu itu mengatakan, kau sangat ingin memakan aku,” balas Illeana seraya membuang napas. Dengan membalas sedikit sarkas, Illeana menekan rasa gugup yang menggila. Sungguh aneh sekali, ada apa dengan hatinya itu? “Itu karena kau sama sekali tak datang selama dua hari. Apa kau tak peduli pada aku?” “Apakah aku harus peduli? Padahal, aku yang membawamu ke sini. Bila aku tak peduli, sudah aku tinggalkan kau di pantai,” balas Illeana lagi, tiba- tiba sedikit kesal. Namun, Illeana tak tahu, William diam-diam menahan senyum gelinya. “Jadi, apa yang kau lakukan selama dua hari ini?” tanya William. Bola mata Illeana mengarah pada pria itu dengan tajam, jelas sekali kesal dengan pertanyaan itu padahal William tahu dengan pasti apa yang

