Keyfa Aku tidak bisa seperti Mama yang mengikhlaskan semuanya seiring berjalannya waktu. Mama melupakan kesakitan yang ia rasakan bertahun-tahun karena sosok yang ia cintai berkhianat. Tapi aku, aku tidak begitu saja melupakannya. Bagiku, ayahku adalah Arbi Lesmana, bukan Faruq Hilmawan. Kenyataannya darah yang mengalir dalam tubuhku tidak bisa kuubah. Aku tetap darah daging dari Faruq Hilmawan. Dari dulu Mama ataupun Nenek selalu mendoktrin, bilang papaku tidak bertanggung jawab, papaku bukan orang baik, sering mabuk-mabukan, sering judi. Aku percaya begitu saja sampai pada puncaknya di hari pernikahanku, Papa datang. Polisi mengawalnya. Rasa benciku semakin kuat. Terkadang batinku meronta. Sesekali aku masih protes pada Tuhan, mengapa aku tidak lahir dari keluarga yang normal saja?

