Sudah sebulan Becca menjalankan usaha milik mendiang Ibunya, hingga usaha Ibunya berjalan cukup lancar karena ia dibantu oleh Fianto. Pria itu sudah cukup dekat dengannya karena pria itu sudah banyak membantunya, tetapi tidak sedikitpun Becca menaikkan harga upah pria itu dan pria itu juga sama sekali tidak masalah akan hal itu.
Dan hari ini adalah hari acara kelulusan Becca, ia sangat murung hari ini karena ibunya tak ada di saat bahagianya terlepas dari sekolahnya. Dengan gaun panjang yang sangat indah melekat pas di tubuhnya dan juga riasan tipis di wajahnya membuat penampilan Becca sangat-sangat menawan, ia menatap dirinya sendiri di depan cermin sambil merapikan tataan rambutnya. Itu adalah gaun indah yang dibelikan Ratih sejak lama, sebelum Ibunya itu meninggal.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya, Becca langsung keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumah, ternyata Reyganlah yang datang. Reygan sangat terpesona melihat Becca yang begitu cantik hari ini, cowok itu sampai dibuat terkesima dengan penampilan kekasihnya itu.
Tidak jauh dari Becca, Reygan juga tampil gagah dengan setelah jasnya dan juga tataan rambutnya yang rapi hingga membuat cowok itu semakin tampan hari ini.
"Reygan? Kau kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau sangat cantik hingga membuatku ingin terus ingin menatapmu," ucap Reygan seraya menggenggam erat tangannya.
Rebecca tersenyum kecil. "Kau juga terlihat sangat tampan Reygan."
Reygan memeluk tubuh Rebecca erat sambil menghirup dalam aroma tubuh Rebecca yang sangat di sukai nya, rasanya ia ingin cepat-cepat untuk melamar Rebecca setelah ini dan menjadikan kekasihnya itu gadisnya seutuhnya.
Sebuah mobil sedan terparkir di depan rumah Becca, membuat keduanya mengernyit kebingungan kenapa mobil mewah itu berada di wilayah rumah Becca. Dan baik Becca maupun Reygan sangat terkejut ketika melihat Fiato lah yang keluar dari mobil sedan itu dengan sebuket bunga di tangannya, penampilan Fianto juga seperti orang yang hendak menghadiri acara, jas hitam serta dasi panjang yang membuat pria itu seperti pria yang berkelas.
"Kalian berdua sangat menawan hari ini, terutama kau Becca, tak salah aku memilihmu," ucap Fianto memelankan nadanya di akhir kalimat.
Fianto tersenyum menyapa ke arah keduanya sambil memberikan buket bunganya untuk Becca, Reygan yang melihat itu lantas saja menatap tak suka ke arah Fianto. "Apa kau sedang malamar kekasihku sekarang?!"
Fianto menatap Reygan dengan kening yang mengernyit keheranan, namun di detik berikutnya pria itu tertawa terbahak-bahak dan menggeleng kecil. "Kau lucu sekali Reygan, aku tidak sedang melamar kekasihmu."
"Kenapa Paman ada di sini? Kenapa kau tidak pergi ke warung ayam goreng?" cetus Becca dengan kesal.
"Aku akan menjadi wali kalian berdua untuk hari ini, ayo, silahkan masuk ke mobilku."
***
Fianto benar-benar nekat, pria itu mengaku sebagai wali Becca dan Reygan, Fianto bahkan mengambilkan raport serta sertifikat kelulusan keduanya, mereka bertiga juga berfoto bersama.
Tidak sedikit orangtua, guru juga para siswa berbisik-bisik melihat pesona Becca saat itu, mereka terpukau dengan penampilan Becca yang sangat menawan. Tidak ingin berlama-lama, setelah berfoto bersama mereka langsung pergi dari sana dan menuju warung ayam goreng untuk membuka warung, Becca lah yang memerintahkan hal itu kepada Fianto.
Ketika sampai di warung ayam goreng, Fianto langsung membuka ruko setapak itu dan ketiganya memasukinya. Fianto mendesah kecewa karena di hari kelulusan Becca mereka masih saja membuka warung ketimbang merayakannya bersama-sama.
Becca dan Reygan duduk di salah satu kursi sedangkan Fianto telah melepaskan setelan jasnya dan hendak pergi ke dapur.
"Paman, dari mana kau dapatkan mobil mewah itu? Apa kau habis mencurinya?" ucap Reygan yang langsung mendapat pelototan nyalang dari Fianto.
"Tutup mulutmu Reygan! Aku tak mungkin mencuri benda sebesar dan semewah itu."
"Jadi dari mana kau mendapatkannya?" tanya Becca ikut penasaran seraya meneguk minumannya.
Fianto terdiam, tampak sedang berpikir. "Ya... Itu milik teman ku, sengaja aku meminjamnya untuk menghadiri acara kelulusan kalian, ya aku tadi meminjamnya sebentar."
Becca mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengusir Fianto dengan tangannya, benar-benar tidak sopan, hingga Fianto ingin sekali melempar wajah songong Becca dengan celemeknya namun ditahannya karena tidak berani.
Setelah menggoreng ayam, Fianto menyajikannya di meja dan Reygan langsung mengambil salah satu bagian paham dan memakannya. Fianto yang melihat itu hanya menggeleng pelan sambil duduk dan meletakkan tiga botol soda di meja.
"Reygan, sebenarnya di mana kedua orang tuamu? Dan mengapa kau tinggal sendirian di kota sebesar ini?" tanya Fianto penasaran, karena ia seperti tak asing dengan wajah Reygan selama ini dan kali ini adalah saat yang tepat untuk bertanya kepada pemuda tampan itu.
"Ah, kau sangat cerewet sekali paman, urus saja pekerjaanmu."
Fianto berdecih, sifat Reygan tak jauh-jauh dari sifat semena-mena Becca, kedua sejoli itu memang tak pernah sopan ketika berbicara kepadanya padahal Fianto lebih tua dari mereka berdua.
"Berhentilah memanggil ku paman! Aku tak setua itu, b******k!"
Mendengar kalimat kasar yang diucapkan Fianto kepada kekasihnya, Becca tak tinggal diam dan langsung memukul kepala Fianto dengan botol Sodanya. "Sejak kapan kau memanggilnya b******k? Kau mau mati?!"
Fianto yang mendapat bentakan dari Becca lantas menyengkir sambil mengatupkan kedua tangannya bermaksud meminta maaf lalu menatap kesal ke arah Reygan yang sedang menertawakannya tanpa suara. Astaga, Fianto ingin sekali menjewer telinga Becca dan Reygan karena saking kesalnya dirinya, mungkin Fianto adalah orang yang paling sabar menghadapi sepasang kekasih itu.
"Becca, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apa kau ingin kuliah?" tanya Reygan seraya meminum Sodanya.
Becca mengedikkan bahu sambil bersandar pada kursi. "Aku tak tahu, aku juga belum memikirkannya. Kalo kau? Mau apa?"
"Melamar mu, boleh kan?" ucap Reygan sambil menggenggam tangan Becca, tersenyum lebar dan mengecup tangan Becca singkat.
Melihat itu Fianto langsung saja menjewer telinga Reygan hingga cowok itu meringis pelan. "Berhentilah bercanda, kau tak memiliki apapun untuk menikahi seorang gadis! Lihatlah tampangmu, kau tidak kaya dan tak berkelas sedikit pun, pergilah kuliah setelah itu bekerja dan kumpulkan banyak uang, baru kau bisa menikahi Becca."
"Paman! Sejak kapan kau berlagak seperti orangtua Becca?"
"Berhentilah membentakku bocah, mulai sekarang aku akan menjadi orangtua Becca, kekasihmu, kau puas?"
Reygan hanya mencibir sambil mendengus melihat Fianto yang bersikap seenaknya.
"Apa yang dikatakan Paman ada benarnya juga, kau harus membuatku bahagia kelak, bukan sekedar memberikan seluruh cintamu untukku, kau juga harus memiliki harta untuk membuatku bahagia, Reygan," ucap Becca serius yang langsung dianggguki mantap Fianto.
Reygan menatap Fianto kesal karena merasa pamannya itu sudah mempengaruhi pemikiran Becca, Fianto yang mendapat tatapan kekesalan Reygan hanya bisa mengedipkan matanya, mengejek.
"Aku sudah memiliki harta sejak kecil, hanya saja aku tak bisa memperlihatkannya pada mu Becca," ujar Reygan seraya menatap lekat ke arah Becca.
"Segitu besarnya hartamu hingga kau tak bisa menunjukkannya pada kami?" Fianto terbahak-bahak hingga perutnya sakit.
"Ya! Tunggu saja aku akan memperlihatkannya padamu kelak!" ucap Reygan final sambil menggebrakkan meja sebelum cowok itu melenggang pergi menahan kekesalan.
Becca yang melihat Reygan pergi begitu saja hanya bisa menggeleng pelan sambil menghela nafas panjang, ia kemudian menatap Fianto yang masih tertawa.
"Paman, siapa kau sebenarnya?"
***
Tap love ya!
Share juga cerita ini ke teman-teman kalian!